Aktivitas Membaca yang Terlupakan

Pernahkah kita menyadari bahwa kini membaca terasa seperti kegiatan langka? Di kafe, di halte, atau di ruang tunggu, orang lebih sering menatap layar ponsel daripada membuka halaman buku. Kita memang masih membaca, tetapi kebanyakan hanya cuplikan singkat di media sosial, berita sensasional, atau pesan cepat yang lewat begitu saja. Aktivitas membaca yang sesungguhnya, yaitu membaca untuk memahami, merenungi, dan menumbuhkan gagasan, perlahan mulai terlupakan.

Fenomena ini bukan sekadar nostalgia terhadap masa lalu. Data menunjukkan bahwa krisis literasi di Indonesia adalah kenyataan yang berbahaya. Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022, kemampuan membaca siswa Indonesia berada di peringkat 70 dari 81 negara dengan skor rata-rata 359 poin. Nilai ini jauh di bawah rata-rata negara OECD yang mencapai 476 poin. Artinya, banyak anak Indonesia masih kesulitan memahami teks bacaan dan menarik makna yang mendalam dari informasi yang mereka temui.

Di sisi lain, kita hidup di masa ketika akses membaca tidak pernah semudah sekarang. Buku digital, artikel daring, dan berbagai sumber informasi terbuka tersedia gratis. Masalahnya bukan terletak pada kurangnya bahan bacaan, tetapi pada hilangnya budaya membaca. Data dari Perpustakaan Nasional tahun 2023 mencatat indeks kegemaran membaca masyarakat Indonesia hanya sebesar 64,48 poin. Angka ini memang meningkat dibanding tahun sebelumnya, tetapi masih menunjukkan bahwa masyarakat lebih sering melihat teks tanpa benar-benar membaca dan memahami isinya.

Ketika membaca berubah dari kegiatan reflektif menjadi sekadar konsumsi informasi cepat, kemampuan berpikir kritis ikut menurun. Laporan UNESCO tahun 2021 menegaskan bahwa literasi bukan hanya kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan menafsirkan, mengevaluasi, dan mengolah informasi menjadi pengetahuan baru. Tanpa kemampuan tersebut, masyarakat akan mudah terseret arus disinformasi, kehilangan daya analisis, bahkan kehilangan kemampuan berimajinasi. Padahal dari imajinasi lahir kemajuan.

Sebagian orang mungkin berpikir bahwa membaca kini bisa dilakukan dari layar, bukan lagi dari buku. Itu benar. Literasi digital adalah bagian penting dari literasi masa kini. Namun, laporan Kemendikbudristek tahun 2023 menunjukkan bahwa literasi digital masyarakat Indonesia masih berada pada tingkat sedang dengan skor 3,65 dari 5. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih kesulitan memilah dan menilai informasi yang valid di dunia maya. Dengan kata lain, meskipun akses informasi semakin luas, kemampuan memahaminya belum tumbuh seimbang.

Krisis literasi bukan hanya masalah pendidikan, tetapi juga masalah masa depan bangsa. Negara yang masyarakatnya malas membaca akan sulit berkembang karena kehilangan budaya berpikir mendalam. Tanpa literasi, generasi muda akan tumbuh sebagai penerima informasi pasif, bukan pencipta gagasan baru. Ini merupakan ancaman nyata terhadap daya saing bangsa di masa depan.

Namun harapan selalu ada. Kebiasaan membaca selama 15 menit sebelum belajar dapat meningkatkan kemampuan literasi dan pemahaman bacaan pada siswa sekolah dasar setelah diterapkan selama empat bulan. Artinya, langkah kecil yang dilakukan secara disiplin dapat membawa dampak besar bagi peningkatan kualitas membaca anak-anak. Sekolah dapat memulai dengan kegiatan membaca pagi, orang tua dapat memberi contoh dengan membaca di rumah, dan masyarakat bisa mendukung dengan menyediakan ruang publik yang ramah bagi aktivitas membaca, baik secara cetak maupun digital.

Membaca bukan hanya urusan akademik, melainkan bagian dari cara manusia memahami kehidupan. Membaca sebagai latihan empati dan berpikir, sebab melalui teks kita belajar memahami dunia dan orang lain. Ketika bangsa melupakan kebiasaan membaca, sesungguhnya kita sedang melupakan cara untuk memahami diri sendiri.

Kini saatnya kita mengembalikan membaca ke tempat yang terhormat. Tidak harus melalui buku tebal atau karya sastra klasik. Membaca artikel, opini, atau berita yang mencerahkan pun bisa menjadi langkah awal. Setiap halaman yang kita baca bukan sekadar kumpulan kata, melainkan pijakan menuju bangsa yang berpikir, berempati, dan berdaya.(*)

Oleh Fadhilah Aulia