Cara Sekolah Rakyat Membangun Masa Depan Anak-Anak Indonesia

Akhir-akhir ini, sering kita temui berita-berita yang mengangkat pembahasan mengenai salah satu program pendidikan di Indonesia. Sebuah tempat yang memberi kesempatan anak-anak Indonesia melanjutkan pendidikannya. Sebuah tempat yang berhasil mengobarkan semangat anak-anak dari keterpurukannya. Program yang diberi nama Sekolah Rakyat ini dijalankan oleh Kementerian Sosial (Kemensos). Adanya program ini ditujukan agar akses pendidikan di Indonesia semakin berkualitas.

Banyak hal yang kita tidak ketahui, bahwa di luar sana masih banyak anak-anak yang putus sekolah. Di saat anak-anak lain berlarian pergi ke sekolah dengan tas punggung mereka, masih ada anak-anak yang duduk menunggu dagangannya laku atau bahkan hanya sekadar bermain bersama teman-teman senasib mereka.

Apakah hal semacam itu wajar pada zaman ini? Apakah kalian tidak ingin bertanya, mengapa anak-anak manis itu di pinggir jalan? Tentu, di mana ada sebab pasti ada akibat. Banyak faktor yang menyebabkan siswa berhenti sekolah, baik faktor internal maupun eksternal. Salah satu faktor yang paling sering kita temui adalah ekonomi.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, tingkat partisipasi sekolah anak usia 16–18 tahun di Indonesia masih berada di angka 65,31%, yang berarti masih ada jutaan anak remaja yang tidak melanjutkan sekolah karena alasan ekonomi (BPS, 2023). Alasan mereka berhenti sekolah bukan hanya karena terkendala biaya, tetapi dari masalah ekonomi saja bisa menyebabkan perundungan yang terjadi pada siswa. Untuk menghindari terganggunya kesehatan mental anak-anak mereka, orang tua lebih memilih anaknya tidak bersekolah. Seperti halnya yang dialami oleh anak-anak di beberapa daerah. Sebagian dari mereka putus sekolah dan lebih memilih membantu ekonomi keluarganya dengan bekerja.

Namun, harapan baik muncul di Tasikmalaya. Bagaimana tidak? Siswa di Tasikmalaya berhasil bangkit dari keterpurukannya semenjak didirikannya Sekolah Rakyat. Menurut laporan DetikJabar (22 Oktober 2024), Sekolah Rakyat di Kelurahan Sambongpari, Kecamatan Mangkubumi, Tasikmalaya, telah menampung puluhan siswa yang sebelumnya putus sekolah. Sekolah ini memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk kembali belajar, berasrama, dan mendapatkan pendidikan secara gratis (Detikcom, 2024).

Sekolah rakyat merupakan sekolah berasrama yang bertujuan tidak hanya memberikan akses pendidikan formal kepada siswa, namun juga menjadikan siswa sebagai lulusan yang unggul, pribadi yang memiliki keterampilan hidup, pola pikir positif, dan nilai-nilai luhur sehingga kelak mampu mengangkat dirinya dan keluarganya dari kemiskinan.

Program ini diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Sosial dan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, dengan tujuan utama memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan yang berkualitas dan terjangkau (Kemensos, 2024). Sekolah rakyat merupakan lembaga pendidikan alternatif yang ditujukan untuk anak-anak kurang mampu dan putus sekolah. Konsepnya sederhana namun bermakna: pendidikan untuk semua, tanpa biaya.

Berbeda dengan sekolah umum, sekolah rakyat mengusung pendekatan humanis dan kontekstual. Kurikulum yang diterapkan tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pembentukan karakter, keterampilan hidup (life skill), dan pendidikan moral. Contohnya, di Sekolah Rakyat Tasikmalaya, siswa tidak hanya duduk di kelas, tapi juga mengikuti pelatihan keterampilan, seperti berkebun, memasak, seni, dan teknologi dasar. Dengan begitu, anak-anak yang sebelumnya tidak punya arah kini memiliki bekal nyata untuk masa depan (Detikcom, 2024).

Sekolah rakyat bukan hanya sekadar sekolah alternatif. Melainkan sebuah harapan, tempat lahirnya masa depan anak-anak Indonesia yang sempat terpinggirkan. Melalui pendidikan yang berasrama, gratis, dan berjiwa sosial, sekolah rakyat telah membuktikan bahwa kemiskinan bukanlah akhir dari segalanya. Program ini bukan hanya mengubah nasib individu, tapi juga membangun masa depan bangsa.

Kini, saatnya kita bertanya pada diri sendiri. Apakah kita sudah ikut terlibat dalam upaya membangun masa depan itu? Ataukah usaha mulia ini berhenti hanya di tangan segelintir orang yang peduli?(*)

Oleh Farda Zahrotul Fithri