Fenomena brain rot menjadi salah satu dampak nyata dari perkembangan teknologi digital yang sangat masif di era digital modern ini. Menurut Romadhona (2024), istilah ini menggambarkan kondisi di mana individu mengalami penurunan fungsi kognitif akibat paparan berlebihan terhadap konten digital yang dangkal dan minim nilai intelektual. Fenomena ini tidak sekadar istilah hiperbolis, melainkan representasi nyata dari perubahan pola pikir dan perilaku manusia dalam menghadapi arus informasi yang disajikan serba instan. Dalam konteks psikologi, brain rot dapat dipahami sebagai bentuk digital cognitive fatigue atau kelelahan kognitif akibat overstimulasi informasi digital yang secara perlahan melemahkan fungsi otak dalam berpikir kritis, fokus, dan mengelola emosi.
Beberapa penelitian memperkuat bahwa kemunculan brain rot berakar pada kecanduan media sosial. Pandith Aribowo dan Mahendra Ihsan Bagaskara (2025) dalam jurnalnya yang berjudul “Dampak Penggunaan Media Sosial Brain Rot terhadap Kesehatan Mental Remaja” menemukan bahwa mayoritas responden mengalami kesulitan mengontrol waktu penggunaan media sosial, bahkan ketika mereka telah menyadari dampak negatifnya. Kecanduan ini serupa dengan kecanduan substansi karena menimbulkan compulsive behavior atau dorongan kuat untuk terus menggulir layar tanpa tujuan. Hal ini menyebabkan berkurangnya aktivitas produktif, termasuk belajar, berinteraksi secara langsung, dan menjaga keseimbangan hidup.
Selain itu, brain rot juga muncul akibat dari kebiasaan doom scrolling, yaitu konsumsi konten digital secara terus-menerus tanpa kontrol. Rikie Kartadie (2025) menjelaskan bahwa brain rot menurunkan kemampuan literasi mahasiswa, terutama dalam membaca mendalam dan berpikir kritis. Kebiasaan mengonsumsi video pendek dan informasi instan menjadikan otak terbiasa dengan proses berpikir cepat dan dangkal. Akibatnya, mahasiswa kesulitan mempertahankan konsentrasi ketika dihadapkan dengan teks akademik yang kompleks, seperti jurnal ilmiah atau literatur penelitian. Algoritma media sosial memperparah kondisi ini melalui echo chamber effect, di mana pengguna terus disuguhi konten yang sesuai dengan preferensinya tanpa stimulasi intelektual yang baru. Dalam jangka panjang, hal ini menghambat pembentukan critical thinking dan membuat mahasiswa lebih reaktif terhadap informasi, bukan reflektif.
Dari sudut pandang psikologi perkembangan, fenomena brain rot juga sangat terkait dengan pembentukan kebiasaan otak (neuroplasticity). Otak manusia bersifat adaptif terhadap pola stimulasi yang diterimanya. Ketika seseorang secara terus-menerus terpapar konten cepat, lucu, dan instan, otaknya akan beradaptasi dengan pola tersebut. Akibatnya, kemampuan untuk menahan diri, fokus, serta berpikir abstrak menjadi lemah. Dosen UMS, Hardika Dwi Hermawan (2025) dalam artikelnya menjelaskan bahwa algoritma media sosial menciptakan algorithmic trap yang menjebak pengguna dalam lingkaran konten serupa. Hal ini menyebabkan menurunnya konsentrasi dan munculnya mental fatigue atau kelelahan mental yang menghambat produktivitas dan kreativitas. Dalam konteks mahasiswa, gejala ini terlihat pada kecenderungan mudah bosan, menunda tugas, dan mencari alternatif instan seperti penggunaan AI atau kecerdasar buatan untuk menyelesaikan tugas akademik di perkuliahan.
Kebiasaan tersebut diperkuat oleh faktor psikologis seperti fear of missing out (FOMO), di mana individu merasa cemas jika tidak mengikuti tren atau aktivitas di media sosial (Aribowo & Bagaskara, 2025). Mahasiswa sering merasa perlu untuk selalu terhubung secara daring, meskipun hal tersebut mengganggu fokus belajar. Paparan konten negatif, seperti cyberbullying dan toxic comparison, juga berkontribusi erat terhadap meningkatnya stres dan menurunnya harga diri. Twenge et al. (2018) menemukan bahwa perbandingan sosial yang konstan di media sosial dapat menurunkan kepuasan diri dan memicu depresi, terutama pada kalangan muda. Ketika individu terus merasa inferior dibandingkan dengan pencapaian orang lain, muncul
kecenderungan untuk mencari jalan pintas dalam mencapai kesuksesan misalnya dengan memanfaatkan teknologi AI untuk menghindari proses belajar yang sebenarnya.
Dari sisi kesehatan mental, brain rot sendiri dapat menyebabkan gejala seperti kesulitan berkonsentrasi, kelelahan emosional, stres, dan gangguan tidur. Paparan cahaya biru dari layar gadget menurunkan produksi melatonin atau hormon yang mengatur siklus tidur, sehingga mahasiswa kerap mengalami insomnia dan penurunan performa akademik (Aribowo dan Bagaskara, 2025). Dalam jangka panjang, gangguan tidur dan stres kronis dapat menurunkan kemampuan memori dan fungsi eksekutif otak yang merupakan dua aspek penting dalam pembelajaran dan penyelesaian masalah. Hal ini menjelaskan mengapa mahasiswa yang terpapar brain rot cenderung kehilangan motivasi, malas berpikir mendalam, dan lebih memilih jalan pintas untuk menyelesaikan tugas, termasuk menggunakan AI tanpa pemahaman kritis terhadap hasilnya.
Fenomena ini juga memiliki implikasi serius terhadap daya kritis dan literasi digital mahasiswa. Renatha Swasty (2025) menyebutkan bahwa brain rot merupakan bentuk gangguan kognitif yang menurunkan kemampuan analisis dan pengambilan keputusan akibat paparan teknologi berlebihan. Bahkan Kementerian Kesehatan RI menyoroti gejala brain rot seperti kesulitan fokus, berkurangnya kemampuan memahami informasi, serta meningkatnya stres dan kecemasan. Hal ini menunjukkan bahwa brain rot tidak hanya berdampak pada performa akademik, tetapi juga pada kesejahteraan psikologis secara menyeluruh.
Fenomena brain rot menunjukkan bagaimana kemajuan teknologi dan penggunaan media sosial yang berlebihan dapat berdampak negatif terhadap kehidupan mahasiswa. Kemudahan akses informasi memang membawa banyak manfaat, tetapi juga membuat mahasiswa terbiasa dengan hal-hal instan dan sulit untuk fokus dalam berpikir mendalam. Dari sisi psikologis, brain rot dapat menyebabkan stres, kelelahan mental, gangguan tidur, dan penurunan motivasi belajar. Kondisi ini juga membuat mahasiswa lebih mudah merasa bosan, sulit berkonsentrasi, serta kurang tertarik melakukan kegiatan yang menuntut pemikiran kritis. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk mulai mengatur waktu penggunaan media sosial dan lebih selektif dalam mengonsumsi konten digital. Dengan membiasakan diri membaca bacaan berkualitas, berdiskusi, dan berpikir reflektif, mahasiswa dapat mengurangi dampak negatif brain rot dan tetap menjaga kesehatan mental serta kemampuan berpikirnya di era digital yang serbacepat ini.(*)
Oleh Sinta Pradita Septia Fajar Lestari