Darurat Sampah di Kudus

Sampah adalah sisa buangan dari suatu produk atau barang yang sudah tidak digunakan lagi, hasil aktivitas manusia dan tidak terjadi secara alami, tetapi masih dapat di daur ulang menjadi barang yang berguna dan memiliki nilai jual. Disini saya akan membahas mengenai permasalahan sampah yang ada di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Kudus hanya memiliki satu tempat pengolahan akhir (TPA), yakni TPA Tanjungrejo di Kecamatan Jekulo. Jika semua sampah rumah tangga dibuang ke sana tanpa dibedakan jenisnya, lama-lama TPA tersebut akan penuh.

Sejak tahun 2017 telah diprediksi bahwa Kudus akan mengalami darurat sampah. Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Tanjungrejo di Kecamatan Jekulo, yang merupakan satu- satunya TPA di Kudus, diperkirakan akan penuh pada tahun 2022. Jika hal tersebut sampai terjadi, akan menimbulkan berbagai masalah. Prediksi tersebut benar terjadi, pada bulan Januari 2025, TPA Tanjungrejo ditutup sementara hingga ditemukan solusi. TPA sudah tidak mampu lagi menampung sampah karena telah melebihi batas maksimal hingga menyebabkan pencemaran lingkungan sekitar.

Sam’ani Intakoris selaku Bupati Kudus menjelaskan bahwa sampah yang masuk ke TPA Tanjungrejo pada saat itu berkirsar antara 125 sampai 175 ton per hari. Padahal, TPA itu sudah terlalu penuh. Dia mengatakan Pemerintah Kabupaten Kudus belum memiliki anggaran untuk memperluas TPA tersebut.

Kondisi TPA Tanjungrejo sudah penuh sampah yang berserakan hingga menimbulkan bau. Sampah tersebut bahkan meluber hingga menutup jalan yang biasa dilalui oleh kendaraan pengangkut sampah. Akibatnya, para petugas pengangkut sampah bingung harus membuang sampah di mana.

Dampak lain yang timbul akibat penutupan sementara TPA yaitu masalah kesehatan bagi masyarakat. Kabid kesehatan masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, Nuryanto menjelaskan bahwa sampah yang menumpuk di berbagai tempat dapat menyebabkan berbagai penyakit. Diantaranya gangguan pernapasan, diare, dan tipes.

Nuryanto menambahkan, keberadaan sampah juga bisa menyebabkan munculnya banyak lalat. Lalat tersebut bisa menyebabkan masyarakat terkena diare dan tipes. Selain itu, di musim hujan, sampah yang tertimbun bisa menghasilkan bau busuk yang menyengat. Air hujan yang mengenai sampah dan masuk ke sungai juga dapat menyebabkan air sungai tercemar.

Solusi yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Kudus untuk mengatasi permasalahan sampah yaitu dengan menata kembali tumpukan sampah agar tidak seperti gunungan. Di sebelah selatan TPA masih ada lahan yang kosong, tumpukan sampah dapat dipindahkan ke sana. Namun terdapat kendala alat berat yaitu eskavator untuk memindahkan tumpukan sampah, tetapi pemerintah tengah menganggarkan untuk membeli alat tersebut tahun ini.

Pemerintah Kabupaten Kudus juga berencana untuk memproses sampah di TPA Tanjungrejo menggunakan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF). Teknologi ini mengubah sampah plastik menjadi energi melalui proses pembakaran. Bupati Kudus menyampaikan bahwa sampah nantinya akan diproses, diayak, dan dikeringkan sesuai metode RDF. Dia berharap solusi ini dapat membantu menyelesaikan peramasalahan sampah di Kabupaten Kudus.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh, hasil penelitian mengenai sampah di Kudus menunjukkan, sampah organik dengan persentase 78%, sampah anorganik 21%, dan sisanya yaitu sampah residu 1%.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi permasalahan sampah yaitu dengan memisahkan sampah organik dan anorganik. Jika sampah sudah terpilah, jumlah sampah yang masuk ke tempat pengolahanan akhir (TPA) akan berkurang. Sampah yang sudah dipilah juga bisa bermanfaat, sampah organik dapat dijadikan pupuk kompos, sementara sampah anorganik bisa dijual di pengepul rongsokan atau dibuat inovasi yang memiliki nilai jual. Selain itu, kita juga dapat mengurangi sampah dengan cara mengurangi penggunaan plastik sekali pakai seperti kantong plastik. Ketika belanja kita bisa mengganti kantong plastik sekali pakai dengan membawa tas belanja yang bisa digunakan berulang kali.

Saya percaya hal kecil yang kita lakukan akan membawa perubahan yang lebih baik dimasa mendatang. Setiap perubahan besar tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dimulai dari hal-hal kecil. Tindakan sederhana yang dimulai dari diri sendiri dapat menjadi awal terciptanya perubahan besar di masa mendatang.(*)

Oleh Nurul Aini