Tentang Personal Color 

Namanya juga Gen Z”. Kalimat tersebut, kerap kali memenuhi kolom komentar media-media yang terunggah dalam jejaring online. Generasi Z atau yang kerap kali disingkat menjadi Gen Z merupakan generasi pertama yang sepenuhnya tumbuh di era digital. Sejak dini, mereka rata-rata sudah akrab dengan internet, gawai, dan media sosial. Inilah yang membuat karakteristik mereka sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Gen Z umumnya cenderung menguasai berbagai media sosial seperti TikTok dan Instagram. 

Berdasarkan data pengguna media sosial di Indonesia pada tahun 2024, kelompok yang mendominasi penggunaan platform TikTok sebanyak 65% merupakan kelompok yang berasal dari kalangan Gen Z dan Milenial Awal, yaitu kelompok dengan rentang usia 18 hingga 34 tahun. TikTok kini menjadi panggung utama Gen Z dalam membentuk tren budaya digital. Tidak hanya dari gaya bicara, gaya berpakaian, hingga preferensi warna saja. Namun, hampir semuanya lahir, dan berkembang dalam media sosial, salah satunya TikTok. Dengan algoritma media sosial yang sudah semakin canggih, setiap tren baru bisa meledak dan menjadi sebuah pembahasan dalam hitungan jam. Salah satu yang paling ramai adalah tren personal color, konsep yang seolah mampu menentukan warna paling “tepat” bagi seseorang. 

Pernahkah Anda saat sedang bermain TikTok, kemudian muncul video yang mengandung informasi mengenai “Winter Tone Girl” atau “Autumn Tone Boy” yang menyatakan bahwa terdapat golongan warna tertentu yang akan membuat diri pengguna menjadi terlihat lebih tepat? Sangat seru jika menyimak informasi seperti itu, bukan? 

Namun tidak bisa dipungkiri juga, banyak yang tidak sadar bahwa telah terbawa arus mentah-mentah beberapa video yang menyesatkan, dan mengandung argumen bahwa personal color bukan lagi tentang warna, melainkan tentang siapa yang dianggap pantas memakai warna tersebut. Banyak argumen salah paham yang berkembang bahwa label warna bukan lagi urusan gaya. Melainkan identitas diri, parahnya lagi, terdapat netizen yang mengonsumsi argumen tersebut secara mentah-mentah hingga menimbulkan pemikiran bahwa pelabelan warna dan gender melekat erat. Akibatnya, secara perlahan, budaya “warna cocok atau tidak cocok” mulai terserap dan menjadi tolak ukur keindahan dan kepercayaan diri dalam pemikiran beberapa individu yang tadinya netral mengenai pelabelan warna. Dalam banyak kasus, tren ini sangat mungkin menjadi salah satu faktor bias gender dalam memandang warna. 

Mari kita perhatikan lebih detail, di antara semua media yang terunggah dengan pembahasan mengenai personal color yang sedang viral, terdapat pola halus yang menyelubungi penyampaian informasi. Misalnya, warna baby pink atau soft pink yang ditujukan untuk perempuan ini, sering direkomendasikan oleh beberapa pengunggah media sebagai warna yang sebaiknya dikenakan saat first date. Konon katanya, dengan mengenakan warna tersebut, akan menambah kesan feminin, lembut, manis, dan mudah untuk didekati. Hal ini memang terdengar sepele, namun sebenarnya terdapat narasi psikologis yang terkandung di dalamnya. Warna-warna lembut ini memicu kesan “lovely girl” atau “innocent”, dan tanpa sadar, banyak yang kembali terjebak dalam stereotip lampau bahwa terdapat warna yang feminin dan warna yang maskulin. Layaknya sudah ditentukan oleh kodrat. Padahal jika ditelusuri lebih lanjut, semua merupakan hasil dari kesepakatan sosial yang berubah-ubah dari masa ke masa. 

Dilansir dari buku Pink and Blue: Telling the Boys from the Girls in America, di Eropa pada abad ke-18 sampai awal 1900-an, warna pink  justru dianggap sebagai warna yang mencerminkan sifat maskulinitas. Hal ini didasari dengan alasan yang cukup sederhana, yaitu warna pink merupakan warna turunan dari warna merah, dan warna merah sendiri pada saat itu sangat identik dengan keberanian, kekuasaan, dan semangat untuk berperang. Banyak sekali baju yang dikenakan laki-laki di era tersebut cenderung beraksen pink atau warna merah muda. 

Pada zaman itu, mereka menganggap warna merah muda memiliki makna “tegas tapi muda.” Sebaliknya, di zaman tersebut, warna biru melekat dengan citra wanita yang feminin dan lembut. Banyak lukisan religius pada zaman itu yang menunjukkan Bunda Maria yang selalu digambarkan dengan jubah biru muda. Setelah terjadinya Perang Dunia II, kesan tersebut berbalik. Industri pakaian bayi di Amerika mulai menciptakan kode-kode warna yang ditujukan untuk mempermudah kegiatan jual beli. Warna pink digunakan untuk perlengkapan yang ditujukan untuk bayi perempuan, dan biru untuk bayi laki-laki. Dari sana lah, terbit media iklan yang memperkuat narasi hingga semakin berjalannya waktu, banyak yang menganggap hal ini bagai aturan tak tertulis. Padahal pengkategorian warna ini merupakan hasil dari branding, bukan hal yang sudah ditentukan secara alami. 

Jika kita cermati lebih dalam, perubahan ini dapat menunjukkan satu hal. Bahwa warna tidak pernah berdiri sendiri. Warna selalu mengikuti arus sosial, ekonomi, dan budaya. Dan saat ini, kemunculan tren personal color yang banyak diserukan secara ilmiah dan netral, memicu pertanyaan seperti: apakah hal ini benar-benar merupakan bentuk kebebasan baru, atau hanya versi lebih halus dari aturan lama yang sebenarnya merupakan dua hal yang sama saja?

Pada awalnya, konsep personal color bukanlah sebuah hal yang rumit. Sekitar tahun 1970-an, Carole Jackson melalui bukunya Color Me Beautiful (1980) mengenalkan ide seasonal color analysis, dengan tujuan sederhana. Tujuannya adalah membantu orang-orang dalam memilih warna baju yang paling harmonis berpadu dengan warna kulit, rambut, dan mata mereka. Garis besar ide ini adalah semacam paduan gaya. Bukan aturan mutlak untuk individu berekspresi. Karena menurut Jackson, warna yang berpadu secara selaras dapat menonjolkan keunikan pribadi tiap individu, bukan malah membatasi pilihan tiap individu. 

Namun sekarang di era TikTok dan Instagram, teori tersebut berubah menjadi standar visual baru. Ketika sedang menjelajah video yang muncul pada fitur For Your Page (FYP), dan muncul video yang membahas mengenai “Spring Warm Girl aesthetic” atau “Winter Cool Palette tutorial” orang sangat wajar merasa bahwa terdapat aturan ilmiah mengenai warna yang pantas digunakan untuk dirinya. Seolah pengkategorian warna ini merupakan kodrat yang sudah semestinya mengatur gender. Sama halnya dengan substansi yang disorot oleh jurnalis mode Arabelle Sicardi dalam tulisannya di Dazed Magazine (2022), tren personal color ini mudah untuk membuat orang berasumsi bahwa “menukar kebebasan berekspresi dengan rasa takut tampil salah di mata algoritma tren.”

Sangat ironis mengetahui sesuatu yang awalnya dibuat supaya tiap individu dapat lebih mengenal dirinya sendiri, namun berbalik menjadi bentuk keterpakuan baru. Banyak orang menjadi insecure hanya karena pernyataan “warna itu tidak cocok untuk undertone kamu.” Akibatnya, warna kehilangan makna personalnya. Bukan lagi persoalan warna kesukaan, melainkan persoalan kecocokan. Hal ini sejalan dengan observasi dari Dr. Jennifer Baumgartner, psikolog fashion asal Amerika, yang mengatakan bahwa fenomena ini dapat menggeser fokus dari ekspresi diri ke penyesuaian sosial (Psychology Today, 2021).

Sehingga ketika terdapat seseorang yang mengatakan bahwa “Personal color milikku adalah warna cool tone. Jadi aku tidak bisa menggunakan warna oranye,” hal ini menunjukkan bahwa bukan lagi mengenai soal estetika. Namun soal tekanan sosial yang dibungkus secara rapi dan halus dengan istilah ilmiah. Di sinilah letak bahayanya saat tidak menyadari bahwa perdebatan warna feminin-maskulin (pink vs. biru) beralih menjadi perdebatan baru mengenai “Spring, Summer, Autumn, Winter.

Jika kita renungkan kembali, warna tidak pernah memiliki makna tunggal. Seiring berkembangnya zaman, budaya, bahkan algoritma, makna dari warna cenderung berubah. Dulu pink dianggap sebagai warna keberanian, sekarang pink memiliki makna kelembutan. Tidak ada yang bisa memastikan perubahan makna dari warna pink 50 tahun lagi. Sangat menggelikan rasanya jika manusia menjadi cenderung untuk membatasi diri dengan pelabelan. Perlu diingat seperti yang dikatakan oleh antropolog warna Michel Pastoureau (2001), bahwa warna selalu memiliki lebih banyak bercerita tentang masyarakat yang memakainya daripada tentang warna itu sendiri.

Personal color seharusnya bisa menjadi alat bantu yang mempermudah manusia untuk melakukan eksplorasi diri, bukan menjadi batas untuk tidak bebas berekspresi. Adanya ilmu mengenai warna, tujuannya bukan untuk menyamakan semua orang dalam penggolongan empat musim yang kaku. Sudah sepatutnya ilmu warna hadir untuk membantu kita dalam memahami diri sendiri lebih dalam. Rei Kawakubo sering mengatakan bahwa “fashion should be a tool of freedom, not conformity.” Ketika warna hadir, mestinya dapat dijadikan ruang berekspresi, bukan ruang untuk membatasi. Perlu diingat kembali bahwa terkadang, hal yang membuat seseorang terlihat pantas bukanlah berasal dari warna baju yang dikenakan. Melainkan cara individu tersebut merasa nyaman di dalamnya. Karena pada dasarnya, kepercayaan diri akan jauh lebih berpengaruh dalam membuat diri lebih bersinar daripada shade apa pun. Bukan soal warna apa yang membuatmu terlihat pantas, tapi warna apa yang membuatmu merasa hidup. Karena di balik setiap warna, yang paling berharga bukanlah kecocokannya. Namun, keberanianmu untuk memilihnya.(*)

Oleh Firdivana Aliffia Maulana