Nama saya Farlan Anggardi Pratama, sekarang biasa dipanggil Farlan tapi itu bukan nama panggilan pertama melainkan kedua, ketika masih kecil aku tumbuh dipedesaan yang berada dikota purbalingga hingga umur kurang dari 9 tahun dan panggilan ku adalah Angga. Sekarang rumahku pindah dipinggiran kota Banjarnegara yang masih dekat dengan perbatasan Purbalingga. Semenjak pindah nama panggilan ku mulai berubah itu bermula di SD kelas 3, guru ku yang memperkenalkan nama Farlan tanpa menanyakan dulu biasanya dipanggil apa. Seandainya memang ditanyakan mungkin akan ku jadikan candaan “saya biasanya dipanggil nengok” tapi itu mustahil.
Apa yang teman-teman artikan setelah mendengar terbangun ditengah kegelapan. Gelap gulita tak ada cahaya? namun bagaimana bisa menyadari sedang terbangun dalam kegelapan. Cerita ini lahir beberapa tahun yang lalu tepatnya waktu masih duduk di SMA. Apa sih rasanya ketika menjadi perwakilan sekolah untuk sebuah perlombaan sepertinya sangat keren pikirku waktu itu. Aku memang belum pernah mewakili lomba apapun sebelumnya, sehingga menjadi penasaran namun takut mencoba. Apakah rasa takut perlu hadir dalam hidup manusia, walupun rasanya menyiksa.
Di tempat yang jauh disana tertanam sebuah benih yang membuatku tumbuh seperti sekarang. Secara kebetulan ada seseorang yang mengajakku bergabung kedalam dunia basket. Itu hal baru buatku tapi aku terjun saat SMA apa itu tak terlalu tua? namun untungnya pikiranku tak berkata seperti itu melainkan penasaran, ya aku tak merasa takut mencoba hal baru itu. Baru latihan tak sampai 1 bulan aku sudah malas latihan, bukan karena bosan dengan basket tapi lomba bulan depan sekolahku hanya mengajukan perwakilan yang perempuan, “untuk apa aku berlatih tanpa tujuan” ucapku. Walaupun kemampuanku masih kurang tapi apa salahnya ingin berdiri mewakilkan sekolah, memang salah karena egois namun tekad nya tak bersalah.
Kelas 10 sudah berlalu, saatnya mengukir dibatu yang baru. Pekan Olahraga Pelajar Daerah, ya POPDA itu tujuan baruku saat itu. Tujuan bergengsi itu membakar kembali tekadku yang redup. Kami persiapan latihan selama 3 bulan cukuplah dengan waktu segitu. Tapi 1 bulan terakhir lebih keras kadang hanya istirahat dihari minggu, lelah tapi menikmati. Fisik terkoyak terus menerus selama itu didampingi doa dan semangat dari keluarga, teman, bahkan 1 sekolah. Kami bertarung dengan penuh persiapan yang tidak sederhana. Ternyata bertaruh mewakili nama sekolah tak seindah bayanganku dulu, beban pikiran, lelah fisik campur aduk tak bisa dijelaskan.
Itu yang kurasakan setelah kalah bertanding, bahkan kekalahan masih kurang menjelaskan kejadian karena kekalahan yang telak. Bendungan juga tak selamanya kokoh, 3 bulan seperti tidak ada makna. Karena yang kami lawan sebelumnya merupakan calon juara saat itu. Kekecewaan datang kembali tapi itu tak bertahan lama karena masih ada 1 kesempatan lagi ditahun depan yang menunggu, kali ini semangat masih berkobar walau baru saja bertemu kekalahan. Latihan seperti biasa adalah obat penawar buatku, karena basket benar-benar membuatku tampil berbeda.
Lion Sky, Lyon’s Sky Cafe adalah sebuah kafe populer di Banjarnegara yang menawarkan pemandangan kota dan pegunungan yang indah, terutama saat matahari terbenam. Lion Sky juga menjadi sponsor terbesar untuk perlombaan basket tahunan. Ini yang menjadi cerita terakhir yang akan ku ukir dibatu sebelumnya. Ini merupakan ukiran terakhir karena waktu itu aku sudah kelas 12, tak ada lagi event yang menungguku lagi setelahnya. Namun kali ini sedikit berbeda, Coach kami tak sering mendampingi kami berlatih seperti sebelumnya. Persiapan kali ini lebih banyak diskusi antar pemain sehingga menjadi lebih terbentuk dan kecocokan dalam satu tim. Kali ini terasa lebih tenang, tidak diselimuti kegelisahan seperti dulu.
Pertempuran terakhir akan terjadi tak lama lagi, kali ini persiapannya benar-benar lebih matang dari sebelumnya. Pakaian percaya diri sudah kami pakai lebih awal hanya menunggu pertempuran yang sebenarnya. Dari dulu aku selalu dibebankan kepercayaan entah dari coach, teman satu tim, bahkan alumni, aku bingung kenapa mereka begitu mudah mempercayaiku. Kami tampil lebih baik kali ini tapi dengan hasil yang masih sama, kami gagal lagi tapi sempat mencetak kemenangan 1 kali. Cukup baik namun luka goresan jauh lebih dalam dari sebelumnya. Apa yang ku harapkan juga sama seperti apa yang lawanku harapkan, aku sudah berlatih keras namun lawanku mungkin latihan lebih keras. Seketika semuanya benar-benar terasa hampa, tembok kamar mandi pun tak bisa ku hancurkan itu menandakan AKU MASIH LEMAH.
Dua hari yang terasa begitu gelap, semakin larut dalam kekecewaan. Sambil mencari dimana secercah harapan. Apa tujuanku kali ini merupakan pertanyaan yang terus berputar dikepalaku.
Ternyata menjadi seorang petarung tidak benar-benar menyenangkan, karena ia mempertaruhkan kemenangannya dengan kegagalan. Namun kegagalan juga tak seburuk itu karena aku tumbuh lebih kuat sebab kegagalan itu. Mungkin juga namanya bukan gagal hanya saja ego ku memaksa mengatakan bahwa itu gagal.
Cerita hidup memang terkadang berjalan tak sesuai keinginan kita tapi yakinlah itu sesuai keinginan Allah, jadi ketika rencanamu yang matang itu gagal jangan bersedih karena yang berjalan adalah rencana Allah.
Hari itu aku terbangun dari kegelapan dengan perlahan aku berjalan, sehingga melihat sedikit cahaya kecil. Cahaya itu semakin membesar ketika aku mendekat dan hari ini aku masih berlari mengejar cahaya itu. Jika kau sadar akan kegelapan kenapa kau ragu akan adanya cahaya.(*)
Oleh Farlan Anggardi Pratama