Di antara dinginnya udara Dieng yang selalu terasa sepoi, ditambah kabut tipis yang masih menempel di pepohonan, saya sudah sangat akrab dengan wangi belerang dari Kawah Sikidang. Bagi kami warga Banjarnegara, kawah ini bukan cuma tempat wisata biasa, tapi seperti panggung alam yang terus bergerak, mendesis, mengeluarkan uap panas, dan menyimpan banyak cerita, baik dari sisi geologi maupun legenda yang diwariskan leluhur.
Perjalanan menuju Kawah Sikidang sendiri sudah menyenangkan. Pemandangan khas pegunungan Dieng dengan pepohonan, tanah berwarna, dan udara yang dingin membuat siapa pun yang berwisata ke sana pasti betah. Kawasan kawahnya cukup luas, sekitar 13 hektar, dikelilingi hutan rimbun. Rasanya seperti menemukan “oasis panas bumi” di tengah dataran tinggi yang sejuk.
Begitu melangkah ke area kawah, pengunjung langsung disambut suara mendesis dari retakan tanah, semburan uap belerang, dan kadang letupan lumpur panas. Kawah di sini memang aktif, dan titik-titik letupannya sering berpindah-pindah. Dari situlah asal nama “Sikidang” karena letupan kawahnya berpindah seperti kijang yang melompat-lompat. Menurut cerita orang tua dulu, memang pernah ada kijang yang dipercaya berkeliaran dan meloncat dari satu lubang ke lubang lain, sehingga nama itu dianggap cocok dan akhirnya melekat sampai sekarang.
Namun, keindahan Sikidang tidak hanya soal legenda atau pemandangan eksotis. Secara ilmiah, kawasan ini punya nilai geologi yang besar. Layanan Informasi Warisan Geologi Indonesia menyebut Kawah Sikidang sebagai kompleks geologi aktif yang dipenuhi lubang kawah, kolam lumpur, dan fumarole yang merupakan bagian penting dari sistem panas bumi Dieng. Batuannya berupa lava andesit, dan proses hidrotermal di sana menghasilkan mineral seperti lempung dan sulfida.
Karena aktivitas geologinya cukup tinggi, pengelola kawasan sudah melakukan banyak penataan agar wisatawan tetap bisa menikmati keindahannya dengan aman. Salah satu fasilitas yang paling mencuri perhatian adalah Jembatan Kahyangan, jembatan kayu panjang yang membentang di atas sebagian area kawah. Jembatan ini diresmikan Bupati Banjarnegara pada awal 2021. Berkat jembatan tersebut, wisatawan bisa berjalan santai sambil menikmati uap kawah dari dekat—sensasinya seperti berjalan di atas awan—tapi tetap berada di jalur yang aman.
Tidak hanya warga lokal, pengunjung dari luar daerah bahkan luar kota pun sering datang karena keunikan Sikidang. Dalam rujukan pariwisata Jawa Tengah, Kawah Sikidang disebut sebagai “keajaiban alam” di Dataran Tinggi Dieng. Banyak wisatawan menggabungkan kunjungannya dengan tempat populer lain seperti Candi Arjuna, Telaga Warna, atau Bukit Sikunir.
Selain itu, dampak ekonomi Sikidang untuk warga sekitar juga besar. Banyak pedagang yang bisa menjual makanan dan oleh-oleh khas Dieng seperti kentang Dieng dan carica, homestay jadi makin ramai, dan lapangan pekerjaan di sektor wisata pun bertambah. Artinya, kekayaan alam ini bukan hanya untuk dilihat, tetapi juga menjadi sumber penghidupan sehingga mengajarkan kita makna perjalanan dan bahwa alam yang lestari adalah warisan berharga yang harus kita jaga bersama.(*)
Oleh Lilih Fajar Istiani