Ketika Sekolah Tak Jadi Prioritas: Potret Pendidikan dan Pernikahan Dini di Jambi

Di tepian Sungai Batanghari, di sebuah dusun yang masih erat memegang tradisi, hiduplah sepasang remaja bernama Giri (15 tahun) dan Melati (16 tahun). Bukan cerita tentang Pangeran dan Putri dari istana Jambi, ini adalah kisah yang lebih dekat dengan kenyataan hari ini: tentang cita-cita yang harus berhadapan dengan takdir yang dipercepat.

Giri adalah anak laki-laki yang lincah, kecintaannya pada buku-buku IPA setara dengan semangatnya membantu orang tuanya menyadap karet. Cita-citanya sederhana, ingin menjadi guru di desanya agar anak-anak tak perlu menyeberangi sungai jauh-jauh untuk belajar. Sementara Melati, dengan senyum teduh dan tangan terampil menenun kain, adalah siswi SMP yang selalu masuk lima besar. Impian terbesarnya adalah seragam putih abu-abu, janji yang ia ukir di hati ibunya untuk melanjutkan sekolah ke kota.

Namun, di dusun mereka, nilai pendidikan seringkali kalah bersaing dengan anggapan bahwa “perempuan cepat atau lambat akan ke dapur orang” dan “laki-laki dewasa jika sudah berani berkeluarga”. Prioritas pendidikan formal seringkali tergeser oleh pandangan adat dan tuntutan ekonomi.

Titik balik datang ketika panen karet gagal, menekan beban ekonomi keluarga Melati. Seorang tokoh adat setempat, yang juga kerabat jauh, datang membawa apa yang dianggap sebagai “solusi”: menikahkan Melati dengan Giri. Meskipun Giri masih setahun lebih tua dan masih sekolah, pernikahan ini dianggap sebagai cara untuk “menjaga kehormatan,” “mengurangi beban,” dan “mengikat tali kekerabatan”. Bagi sebagian orang tua, sekolah dianggap bisa menunggu, tetapi adat dan usia dianggap tidak bisa ditunda.

Kontras antara cita-cita remaja Jambi melawan tekanan sosial dan ekonomi inilah yang menjadi pengenalan konflik utama. Faktor pemicunya jelas: kesulitan ekonomi keluarga akibat panen gagal dan kuatnya pandangan adat yang mengutamakan perkawinan dibanding pendidikan formal.

***

Keputusan pernikahan itu jatuh seperti petir di siang bolong. Melati, yang baru akan masuk kelas IX SMP, harus menanggalkan seragamnya. Buku-buku pelajaran IPA, IPS, dan Matematika, kini tergantikan oleh tugas-tugas rumah tangga. Giri sempat menolak keras. Ia berdebat dengan ayahnya, “Ayah, kalau Giri berhenti, cita-cita Giri jadi guru hilang. Melati punya janji ke ibunya!”

Ayah Giri hanya membalas dengan tatapan lelah, “Nak, rezeki itu datang dari mana saja. Menjadi suami adalah tanggung jawab besar. Sekolahmu bisa dilanjutkan nanti, tapi kehormatan dan rezeki tidak bisa ditunda. Lagipula, kata orang-orang, kalau menikah cepat, anak cepat besar, cepat pula membantu di ladang.”

Pernikahan itu terjadi. Malam pertama yang seharusnya penuh bahagia, justru dibayangi air mata Melati yang terisak di bahu Giri, meratapi impiannya yang gugur. Dalam beberapa bulan, hidup mereka berubah. Giri, yang harus mencari nafkah, hanya bisa sesekali mengikuti pelajaran dari luar jendela sekolahnya, mencuri dengar penjelasan guru. Nilai-nilainya merosot, mimpinya memudar.

Dampak langsung yang paling terasa adalah gugurnya cita-cita dan terputusnya pendidikan formal, terutama bagi Melati. Selain pendidikan, kesehatan Melati juga terancam karena ia mengandung di usia yang sangat belia; fisik dan mentalnya belum siap. Saat pemeriksaan rutin di Posyandu desa, bidan desa mengingatkan Giri dan mertuanya tentang tingginya risiko komplikasi kehamilan pada usia muda di wilayah Jambi.

Kisah Giri dan Melati bukanlah kasus tunggal. Mereka adalah wajah dari ratusan remaja lain yang kisah pendidikannya terhenti karena anggapan bahwa rumah tangga adalah prioritas yang tak terelakkan. Statistik menunjukkan tingginya angka pernikahan dini di beberapa kabupaten seperti Bungo, Tebo, atau Merangin, seringkali berada di atas rata-rata nasional. Dengan demikian, Melati menghadapi kehamilan dini yang berisiko, yang mencerminkan masalah kesehatan reproduksi umum akibat pernikahan usia muda di Jambi.

***

Satu tahun berlalu. Melati melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat. Giri, meskipun kesulitan, terus berjuang. Ia sadar, berhenti belajar tidak berarti berhenti berharap.

Suatu hari, seorang mahasiswa KKN dari Universitas Jambi datang ke dusun mereka. Mahasiswa tersebut mengadakan kelompok belajar sore untuk remaja yang putus sekolah. Giri dan Melati, walau malu, diam-diam ikut. Mereka tidak lagi duduk di bangku sekolah formal, tetapi semangat belajar mereka menyala kembali. Giri belajar akuntansi sederhana untuk mengelola hasil sadapan karetnya, sementara Melati belajar tentang gizi anak dan kesehatan reproduksi, ilmu yang ia sadari sangat ia butuhkan.

Kisah Giri dan Melati bukanlah akhir yang bahagia ala dongeng. Ini adalah kisah tentang perjuangan yang tidak pernah usai, sebuah potret kelam di balik keindahan adat Jambi. Mereka telah menjadi sepasang suami istri di usia yang sangat muda, sebuah realitas yang membuat pendidikan formal mereka terancam. Namun, mereka juga menjadi simbol bahwa meskipun sekolah bukan lagi prioritas utama bagi lingkungan mereka, harapan untuk belajar tetap ada.

Perubahan paradigma pun muncul dari kisah ini. Di bawah senja Batanghari, Giri menggendong anaknya sambil membantu Melati menghitung hasil penjualan kain tenun sederhana. Ia berbisik kepada Melati, “Kita mungkin tidak bisa kembali ke bangku sekolah, Mel. Tapi kita akan pastikan, anak kita akan memakai seragam putih abu-abu itu, dan dia tidak akan pernah dengar kata-kata ‘sekolah bisa menunggu'”.

Mereka berdua bertekad memutus rantai pernikahan dini bagi generasi berikutnya. Jambi terus bergerak, dan bersama kesadaran baru ini, diharapkan suatu hari nanti, cita-cita dan pendidikan tidak lagi dianggap sebagai pilihan, melainkan hak utama yang harus didahulukan.

Di bawah senja Batanghari, Giri menggendong anaknya sambil membantu Melati menghitung hasil penjualan kain tenun sederhana.

Giri berbisik kepada Melati: “Kita mungkin tidak bisa kembali ke bangku sekolah, Mel. Tapi kita akan pastikan, anak kita akan memakai seragam putih abu-abu itu, dan dia tidak akan pernah dengar kata-kata ‘sekolah bisa menunggu'”.

Epilog ditutup dengan harapan bahwa Jambi terus bergerak, dan dengan adanya kesadaran baru ini, cita-cita dan pendidikan tidak lagi dianggap sebagai pilihan, melainkan hak utama yang harus didahulukan.

Isu Nyata dan Pengorbanan Pendidikan: Pernikahan dini adalah isu nyata di Jambi yang secara langsung mengorbankan pendidikan formal dan cita-cita remaja seperti Giri dan Melati.(*)

Oleh Salwa Nafisha