Mahasiswa sering disebut sebagai generasi intelektual yang tangguh. Namun, di balik semangat belajar dan aktivitas kampus yang padat, banyak dari mereka menghadapi tekanan besar, baik akademik maupun sosial. Stres akademik merupakan kondisi ketika tuntutan belajar dianggap melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya. Tekanan ini bisa datang dari tugas menumpuk, jadwal padat, hingga kecemasan akan masa depan.
Stres pada mahasiswa bukan lagi hal baru, tetapi dampaknya kini semakin serius. Mahasiswa yang juga bekerja memiliki tingkat stres lebih tinggi dibanding mahasiswa reguler. Ketidakseimbangan antara belajar, pekerjaan, dan kehidupan sosial membuat sebagian mahasiswa kehilangan fokus dan motivasi.Selain itu, adaptasi terhadap pembelajaran daring pasca-pandemi juga menjadi penyebab baru. Mahasiswa menghadapi stres karena perubahan metode belajar yang cepat, interaksi sosial yang berkurang, dan meningkatnya beban tugas.
Tingkat stres yang tinggi dapat berdampak langsung pada kesehatan mental mahasiswa. Kejenuhan belajar (learning saturation) sering memicu stres yang berkelanjutan dan menurunkan prestasi akademik. Sementara itu, pola hidup tidak sehat — seperti kurang tidur, minim olahraga, dan konsumsi makanan cepat saji — dapat memperburuk kondisi stres.
Salah satu langkah penting untuk mengurangi stres adalah menjaga keseimbangan antara aktivitas akademik dan kehidupan pribadi. Minat terhadap olahraga dan lingkungan kampus yang mendukung aktivitas fisik dapat membantu mahasiswa lebih rileks dan bersemangat. Aktivitas olahraga ringan, seperti jogging atau yoga, terbukti menurunkan hormon stres kortisol.
Selain itu, dukungan sosial dari teman dan keluarga juga berperan penting. Mahasiswa dengan jaringan sosial yang kuat cenderung memiliki tingkat stres lebih rendah. Maka, membangun komunikasi yang terbuka dan saling mendukung antar mahasiswa menjadi solusi sederhana namun efektif.
Kampus sebaiknya menyediakan ruang untuk kegiatan non-akademik yang menyehatkan, seperti olahraga, konseling, dan pelatihan manajemen waktu. Mahasiswa pun perlu belajar mengenali tanda-tanda stres sejak dini dan berani mencari bantuan profesional bila dibutuhkan. Stres memang bagian dari perjalanan belajar, namun dengan pengelolaan yang tepat, stres dapat menjadi pendorong menuju kematangan diri dan prestasi.(*)
Oleh Agha Alanskie