Cinta dan waktu adalah dua hal yang selalu saling berpacu. Kadang, cinta datang di saat yang tidak tepat, atau waktu yang justru membuat cinta kehilangan arah. Film Sore: Istri dari Masa Depan karya Yandy Laurens menghadirkan keduanya dalam satu bingkai cerita yang hangat, romantis, sekaligus sarat makna.
Genap delapan tahun lalu, versi web series Sore: Istri Dari Masa Depan yang berawal dari iklan pemanis, berhasil menarik perhatian banyak orang dengan alur ceritanya. Kini kisah Sore dan Jonathan diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama, namun dengan elemen magis dan pembawaan konsep waktu yang lebih utuh, membawa angin segar bagi perfilman Indonesia.
Dengan latar cerita yang dominan berada di Kroasia, Yandy Laurens sebagai sutradara sekaligus penulis berhasil meramu formula yang penuh akan unsur puitis dalam film ini. Dion Wiyoko sebagai Jonathan, dan Sheila Dara Aisha sebagai Sore juga mampu menyampaikan emosi bahkan dari sorot mata dan helaan napas hingga tibalah rasa penat dari perjuangan Sore ke hati penonton.
Terhitung sejak 10 Juli 2025, film ini telah ditonton oleh 3.012.835 penonton pada hari ke-36 penayangannya dan terpilih sebagai wakil Indonesia untuk kategori Best International Feature Film di 98th Academy Awards (Oscar) tahun 2026. Hal ini cukup membuktikan bahwa kisah cinta Sore dan Jonathan adalah suatu hal yang berbeda di tengah sesaknya film bergenre horror dan kisah cinta berbumbu perselingkuhan yang bertengger di bioskop Indonesia.
Film Sore: Istri Dari Masa Depan menceritakan hubungan yang rumit diantara Jonathan dan Sore. Di tengah kehidupannya sebagai bujangan yang berprofesi sebagai fotografer di Italia, Jonathan dikejutkan dengan kemunculan Sore, seorang wanita misterius yang bangun di sebelahnya pada suatu pagi. Sore mengaku sebagai istri Jonathan yang datang dari masa depan dan ingin mengubah takdir hidup Jonathan agar lebih baik. Segala hal Sore lakukan dengan penuh pengorbanan dan kasih sayang demi merubah gaya hidup Jonathan yang kurang sehat. Dengan latar yang indah dan alur cerita yang menghanyutkan hati, film ini menjadi istimewa jika dipandang dari sisi metafora.
Pembedahan film ini akan mengungkap bagian-bagian yang akan hanya dimengerti jika sudah menonton film Sore, Anda bisa menyaksikan kisah cinta Sore dan Jonathan di bioskop hari ini karena film Sore: Istri dari Masa Depan kembali tayang untuk merayakan 100 hari film tersebut rilis.
Konsep bahwa Sore datang dari masa depan dan secara aktif berinteraksi dengam Jonathan di masa kini adalah inti dari unsur fantasi waktu yang tak banyak diangkat menjadi premis dalam suatu film romansa. Film ini menggabungkan elemen romansa dengan fiksi ilmiah ringan, bukan hanya kisah cinta biasa, konsep fantasi waktu di sini tidak ditampilkan secara ilmiah, melainkan emosional. Time travel menjadi jembatan antara masa kini dan masa depan, antara “apa yang terjadi” dan “apa yang bisa diperbaiki”.
Pagi itu, Sore hadir bukan sekadar sebagai pasangan, namun juga sebagai agen perubahan bagi Jonathan untuk mencegah nasib buruk yang akan Ia hadapi di masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa cinta tidak hanya pasif, tetapi aktif.
Di film ini waktu tak hanya sebagai latar kejadian, namun juga sebagai elemen dramatis sekaligus romantis. Melalui sosok Sore yang datang dari masa depan, waktu dihadirkan seperti ruang perasaan dimana tempat cinta diuji, keputusan diambil, komitmen dijalani, dan takdir bisa diubah. Setiap momen antara Jonathan dan Sore terasa berharga, seolah waktu sendiri ikut menjadi karakter yang menentukan arah kisah cinta mereka. Namun waktu bukan hanya alat untuk menunda takdir, tetapi juga ruang bagi kedua tokohnya untuk belajar tentang arti kesempatan, penyesalan, dan keberanian mencintai seseorang sepenuhnya, meski tahu waktu tak selalu berpihak.
Kehadiran Sore dari masa depan mengguncang kehidupan Jonathan. Ia dipaksa menghadapi dirinya sendiri, kebiasaan buruk, ketakutan, dan keengganan untuk berubah. Konflik utama film ini bukan pada perjalanan waktu itu sendiri, tetapi pada benturan antara masa kini dan masa depan yang dibawa Sore.
Fantasi waktu menjadi pemicu perubahan karakter. Lewat hal itu, Jonathan belajar bahwa mencintai seseorang berarti juga berani memperbaiki diri. Sementara Sore belajar bahwa cinta tidak selalu bertahan, kadang juga berarti melepaskan. Dengan cara yang lembut namun menyentuh, film ini menunjukkan bahwa waktu bukanlah musuh cinta, Waktu justru menjadi pengingat bahwa setiap hubungan punya masa, dan yang membuatnya abadi adalah perubahan yang dijalani bersama.
Secara visual, film ini menampilkan suasana yang menenangkan sekaligus magis. Lokasi syuting di Kroasia dan Finlandia dengan salju, kapal pemecah es, dan langit keemasan menjadi metafora visual tentang secercah harapan yang melawan ketidakmungkinan.
Yandy Laurens, sang sutradara, menahan diri dari efek visual berlebihan. Alih-alih menampilkan teknologi futuristik, ia fokus pada emosi manusia melalui tatapan, percakapan, dan keheningan yang sarat akan makna. Bahkan soundtrack seperti “Terbuang dalam Waktu” dari Barasuara memperkuat kesan melankolis dan reflektif. Suasana bioskop menjadi magis seketika dengan alunan musik yang menyatu dengan film.
Versi film ini juga memperluas kisah dari web series nya pada 2017. Ceritanya kini lebih dewasa, dengan konflik yang lebih dalam dan tema waktu yang lebih kompleks, membuatnya terasa seperti perjalanan batin, bukan sekadar kisah cinta fantasi.
Film ini bukan hanya kisah tentang perjalanan waktu, tapi juga perjalanan hati, tentang bagaimana cinta membuat seseorang berani berubah, dan bagaimana waktu memberi ruang bagi perubahan itu terjadi. Pada akhir cerita, penonton diajak untuk tidak sekadar percaya pada keajaiban waktu, tetapi juga pada keajaiban cinta yang membuat waktu itu berarti.(*)
Oleh Syaqi Azhar Azka