Fear of Missing Out (Fomo) bentuk kecemasan spesifik dari seseorang yang dialami apabila mereka merasa tidak bisa mendapat pengalaman berharag. Sedangkan media sosial saat ini adalah bagian yang sulit terpisahkan dari kehidupan para remaja saat ini. Informasi perkembangan zaman yang begitu cepat tersebar luas, membuat beberapa remaja saat ini merasa takut tertinggal informasi atau tertinggal trend terbaru, hal ini yang disebut Fear of Missing Out (Fomo). Remaja dengan tingkat Fomo tinggi sering kali merasa cemas ketika tidak terhubung dengan media sosial atau ketika mengetahui teman-temannya menikmati aktivitas tanpa kehadiran mereka. Dengan perkembangan teknologi yang pesat, informasi dapat dengan mudah diakses untuk segala kalangan. Semua orang dapat dengan mudah membagikan informasi atau hal update terkini dengan memposting di media sosial, seperti instagram, whatsapp, facebook, dan lain sebagainya.
Fomo tidak hanya memengaruhi perilaku daring, tetapi juga kondisi psikologis. Ketidakseimbangan antara kebutuhan sosial dan kendali diri dapat menimbulkan tekanan emosional, penurunan fokus belajar, bahkan menurunkan kepuasan hidup. Oleh karena itu, penting untuk memahami sejauh mana Fomo memengaruhi keseimbangan emosional remaja.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan instrumen berupa angket skala Likert yang mengukur tiga aspek: (1) Fomo (Fear of Missing Out), (2) Keseimbangan Emosional, dan (3) Kepuasan Hidup.Data diperoleh dari hasil pengisian angket oleh sejumlah responden remaja, dengan 21 butir pernyataan. Analisis dilakukan dengan menghitung rata-rata skor tiap aspek. Hasil analisis menunjukkan: Fomo = 3,31, Keseimbangan Emosional = 3,30, dan Kepuasan Hidup = (belum lengkap)
Rata-rata skor Fomo sebesar 3,31 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja memiliki kecenderungan sedang terhadap rasa takut tertinggal informasi. Mereka masih merasa perlu terhubung dengan media sosial untuk mengetahui perkembangan terbaru, namun belum sampai pada tahap ketergantungan berat.
Rata-rata skor keseimbangan emosional yang hampir sama, yaitu 3,30, memperlihatkan bahwa remaja cenderung mampu mengendalikan emosinya meski ada tekanan dari lingkungan digital. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran diri dalam mengatur waktu penggunaan media sosial dan kegiatan nyata.
Secara psikologis, hubungan antara Fomo dan keseimbangan emosional bersifat negatif korelatif — semakin tinggi Fomo, semakin besar risiko penurunan keseimbangan emosi. Ketika seseorang terus membandingkan dirinya dengan orang lain di media sosial, muncul perasaan tidak cukup, cemas, dan kehilangan fokus terhadap kesejahteraan diri.
Dampak lanjutannya adalah penurunan kepuasan hidup. Meskipun data kepuasan hidup belum lengkap, berbagai penelitian sebelumnya (misalnya Przybylski et al., 2013) menunjukkan bahwa Fomo berkontribusi pada stres, kelelahan digital, dan berkurangnya rasa syukur terhadap kehidupan sehari-hari.
Penelitian ini menunjukkan bahwa Fomo berpengaruh terhadap keseimbangan emosional remaja. Semakin tinggi perasaan takut tertinggal informasi, semakin besar kemungkinan remaja mengalami fluktuasi emosi dan stres sosial. Upaya menjaga keseimbangan digital dan emosional perlu dilakukan, misalnya dengan membatasi waktu penggunaan media sosial, memperkuat interaksi nyata, serta menumbuhkan rasa percaya diri dan penerimaan diri.(*)
Oleh Mutiara Nur Hidayah