Kesehatan mental selalu menjadi topik menarik. Topik tersebut tak kalah pentingnya dengan kesehatan fisik. Kedua aspek tersebut membutuhkan perhatian dan perawatan yang tepat. Ada pepatah yang mengatakan, “Pikiran yang sehat terdapat di dalam tubuh yang sehat.” Jika seseorang mengalami masalah kesehatan mental, mereka mungkin kesulitan berkonsentrasi, mengalami perubahan suasana hati yang negatif, dan kesulitan mengendalikan emosi, yang pada akhirnya dapat berujung pada perilaku yang tidak diinginkan.
Salah satu pendekatan yang didukung oleh bukti ilmiah dan sedang dikembangkan secara luas adalah penerapan aktivitas fisik atau olahraga, olahraga merupakan salah satu bentuk self-care sebagai tindakan pencegahan dan untuk meningkatkan kesehatan mental remaja. Selain berolahraga upaya untuk menjaga kesehatan mental kita tetap terjaga, yaitu dengan cara kita harus tetap tenang dalam menghadapi segala situasi dan kondisi serta meningkatkan produktivitas diri (Fitriani & Syaifullah, 2024).
Self-care (Perawatan diri) adalah upaya yang dapat dilakukan individu untuk menjaga kondisi kesehatan mentalnya. Upaya ini memiliki manfaat yang sangat besar bagi kondisi mental individu, khusus nya kalangan remaja. Jika upaya ini diterapkan secara efektif, manfaat yang di dapat berkontribusi pada integritas struktural, fungsi, dan perkembangan holistik individu.
Menurut WHO (2014), kesehatan mental didefinisikan sebagai suatu kondisi di mana seseorang mampu mewujudkan potensinya, menghadapi tantangan hidup sehari-hari, bekerja secara produktif, dan berkontribusi kepada masyarakat di sekitarnya. Saat ini, jarang ditemukan remaja yang benar-benar mampu mengenali potensi penuh diri mereka oleh karena itu, jika mengacu pada definisi ini, tingkat kesehatan mental remaja cenderung rendah, karena indikator pemahaman potensi mereka belum tercapai.
Berdasarkan tinjauan literatur yang dilakukan, ditemukan bahwa remaja khususnya mahasiswa cenderung lebih banyak menyerap informasi atau pengetahuan tentang kesehatan mental yang merugikan mereka, seperti tingginya kasus bunuh diri, stres pribadi, depresi individu, hingga masalah yang sering dianggap sepele namun banyak dialami remaja, yaitu kecemasan.
Kebiasaan overthinking yang sering dilakukan remaja semakin memperburuk kondisi kesehatan mental mereka, yang diperparah lagi dengan kurangnya edukasi tentang strategi pengembangan resiliensi kesehatan mental, sehingga kondisi ini semakin menghambat kehidupan sehari-hari. Stimulus yang diterima remaja menyebabkan individu tersebut kurang produktif dan mengalami hubungan sosial yang kurang harmonis dengan orang lain.
Jika merujuk pada teori yang dikemukakan para ahli, yang mendefinisikan kesehatan mental sebagai keberhasilan fungsi mental dalam menghasilkan aktivitas yang produktif, memenuhi kebutuhan hubungan interpersonal, serta kemampuan beradaptasi dan mengatasi tantangan, maka kesehatan mental remaja dapat dikatakan sangat rendah, karena indikator utama kesehatan yaitu produktivitas belum tercapai.
Kondisi tersebut merupakan kondisi dimana remaja tidak memprioritaskan diri, atau tidak self-care. Perilaku self-care salah satunya yaitu mengurangi overthinking, namun mayoritas remaja saat ini sudah menganggap overthinking sebagai kebiasaan atau juga gaya hidup. Kondisi tersebut menyebabkan kesehatan mental remaja yang terus terganggu atau bahkan dalam posisi rendah.
Selain overthinking, bentuk tidak self- care yaitu perilaku tekanan yang berlebihan terhadap diri, dalam contoh seperti academic pressure, atau pressure ketika sedang menghadapi suatu tantangan. Biasanya hal tersebut menjadikan remaja melupakan diri sendiri bahkan tidak memprioritaskan dirinya lagi. Seperti berkurangnya waktu istirahat atau jam tidur, pola makan yang tidak teratur dan makanan yang dikonsumsi tidak sehat, hal tersebut menjadi pemicu terganggunya kesehatan mental.(*)
Oleh Nafizha Ratri Nugraha Ningtyas