Pada tanggal 19 september 2025, Kementrian Perencanaan Pembangun Nasional (BAPPENAS) telah menyutujui rencana pembiayaan yang mengabungkan akuisisi kapal induk guiseppe garibaldi dan pengadaan helikopter baru. ITS Guiseppe Garibaldi merupakan kapal induk bekas dari Italia yang diluncurkan pada tahu 1983 dan pensiun pada 2024. Kapal ini memiliki spesikasi pamjang 180 meter, lebar 33 meter dengan berat kosong sekitar 10.000 ton, terhitung kecil untuk tipe kapal induk(Wikipedia, 2025). Setelah di pensiunkan kapal ini dipertimbangkan untuk dijual, indonesia menjadi salah satu pihak yaang tertarik untuk membeli kapal tersebut.
Muhammad Ali selaku kepala staf angkatan laut menjelaskan bahwa rencana akuisisi kapal induk Giuseppe Garibaldi adalah untuk memperkuat jajaran TNI AL(kompas, 2025). Giuseppe Garibaldi juga dapat menjalankan misi kemanusiaan dan Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Namun apakah langkah Indonesia untuk mengakuisisi Garibaldi adalah laangkap yang tepat ?.
Meski rencana untuk akuisisi cukup menarik, masih banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Pertama, kapal ini sudah berusia tua lebih dari 40 tahun, sehingga biaya perawatan dapat menjadi lebih mahal. Komponen kapal tua seringkali sulit diganti, sementara alasan italia sendiri memensiunkan kapal ini demi fokus pada kapal baru. Dari hal ini juga akan memakan anggaran militer Indonesia dalam jumlaah yaang tidak sedikit, anggaran militer indonesia juga tidak terlalu besar.
Alasan kedua, kapal ini di desain untuk pesawat yang melakukan VTOL (Vertical Take Off and Landing), Indonesia sendiri tidak mempunyai pesawat yang dapat melakukan VTOL sehingga fungsi kapal akan kurang maksimal. Walau masih dapat digunakan platform untuk pendaratan helikopter namun hal ini justru membuat kapal ini hanya sekedar LHD (Landing Helicopter Dock). Secara umum biaya operasional LHD lebih murah daripada mengoperasikan kapal induk, ukuran LHD yang lebih kecil dan jumlah kru yang diperlukan untuk mengoprasikanya juga lebih sedikit dibanding kapal induk.
Alasan terakhir, masih banyak opsi lain yang lebih efisien dibangding dengan kapal induk ini mengingat untuk mengoprasikan kapal induk memerlukan banyak kru dn juga biaya operasional yang lebih tinggi dibanding kebanyakan kapal. Opsi lain misalnya LHD memerlukan kru lebih sedikit dan biaya operasional yang lebih sedikit karena fitur LHD sendiri lebih sederhana dibanding kapal induk. Contohnya KRI Makassar yang terbukti efektif saat membantu korban bencana tsunami di Palu dan operasi kemanusian Lainya. Jika kapal akan lebih sering melakukan misi kemausiaan maka dapat dipertimbangkan untuk pembangunan kapal rumah sakit seperti KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat, kapal ini memili fasilitas bedah, ICU, dan ruang rawat untuk ratusan pasien sehingga membuatnya lebih sesuai untuk OMSP daripada sebuah kapal induk.
Rencana akuisisi kapal induk Guiseppe Garibaaldi memang menarik, namun secara realistis melihat usia kapal, kemampuan tempurnya , dan orientasi penguanaanya tampak kurang aktual dengan kebutuhan TNI AL. Kapal induk Guiseppe Garibaldi memerlukan sistem pendukung yang belum dimiliki oleh indonesia seperti pesawat yang dapat melakukan VTOL. Kapal Kapal seperti LHD, kapal rumah sakit, dan kapal logistik lebih efisien dalam menghadapi misi kemanusia dan OMSP. Dari hal hal tersebut sebaiknya Indonesia lebih memfokuskan investasinya pada kapal lain yang sesuai dengan kebutuhan aktual TNI AL. Dengan hal ini kekuatan laut indonesia tidak hanya menjadi simbol kekuasaan, tetapi juga benar benar hadir untuk melindungi dan membantu rakyat pada saat krisis. (*)