Sebuah wilayah yang berada di kawasan dataran tinggi kaki pegunungan di sanalah sebuah desa terbangun yaitu “Desa Karangsari”. Desa Karangsari terletak di Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Desa karangsari bukanlah desa yang terdiri dari empat dusun, yaitu Krajan, Nusa, Pesuruan, serta Karangsari Barat. Desa dengan hubungan kekeluargaan masyarakat yang harmonis yang terdiri 30 Rukun Tetangga (RT) dengan jumlah penduduk sekitar 6.900 jiwa. Berada di kawasan dataran tinggi di kaki pegunungan, sebagian besar warga Desa Karangsari menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian dan perkebunan.
Masyarakat di sana bermatapencaharian sebagai petani dan pekebun, membuat kehidupan di desa ini semakin berwarna. Bunyi ayam berkokok, semilir angin di pagi hari disambut dengan perginya orang-orang bekerja ke sawah dan kebun menyusuri jalanan desa yang begitu asri dan sejuk. Melihat masyarakat di sana mengobrol. Bahkan, sekedar untuk menyapa adalah hal-hal biasa terjadi disana. Terkesan sederhana, tetapi justru inilah yang membangun hubungan kekeluargaan yang hangat membuat Desa Karangsari ini menjadi lebih hidup.
Desa Karangsari, desa dengan berbagai keragaman budayanya, salah satunya kekayaan tak ternilainya yaitu “Tari Kuntulan”. Tari yang memiliki seribu makna, bukan hanya sebatas tarian biasa, tetapi tari ini menyimpan makna sebagai amanah dari sang leluhur untuk terus dijaga keberadaannya. Tari Kuntulan sering dikaitkan dengan pencak silat karena gerakannya yang hampir mirip dengan pencak silat. “Iya benar mba, tari disini sering dikaitkan dengan pencak silat karena gerakannya yang mirip” ujar informan. Namun, pada kenyataannya tarian ini lebih dikenal dengan “Tari Kuntulan Canting Jali” yang memiliki filosofi dari kata “Canting” yang berarti “Membatik”. Hal ini dimetaforkan sebagai seberapa banyak tuangan yang diambil oleh canting, maka hasil yang didapatkan akan tetap.
“Tari Kuntulan itu tarian yang diturunkan oleh Rejamarya pada tahun 1970, saat itu tarian tersebut akhirnya diwariskan kepada Murdaits,” ujar informan.
Uniknya, tarian ini tidak hanya diwariskan kepada keturunannya saja, tetapi dapat diwariskan kepada orang yang memiliki pemahaman dan pendalaman ilmu Tari Kuntulan. Dalam Tari Kuntulan, ada sekitar 20 lirik kalimat dari Bahasa Sansekerta yang kemudian digunakan sebagai syair awal kuntulan. Namun, sekarang telah disempurnakan dalam versi Jawa dan Arab.
Tari Kuntulan memiliki gerakan yang selaras dengan iringan lagu yang pas tentunya membuat tari kuntulan ini semakin hidup. Gerakan yang biasa disebut “Adi Jawa” menjadi gerakan yang khas dalam Tarian Kuntulan ini, yang membuat saya tertarik pada Tari Kuntulan ini karena penciptanya memiliki tembang masing-masing yang menjadi karakteristik pencipta tarian tersebut. Dari pembelajaran yang saya dapatkan, ternyata Tari Kuntulan Desa Karangsari ini memiliki ciri khas yang membedakannya dengan tarian lainnya, yaitu terletak pada gerakan dan lagunya yang khas. Tari Kuntulan di Desa Karangsari ini membawa pengaruh hingga ke desa-desa lain, seperti Desa Gunungsari. Namun, tetap masing-masing memiliki ciri khas yang menjadi daya tarik tersendiri. Dalam hal ini, saya mendapat pembelajaran bahwa Tari Kuntulan bukan sekedar tarian, melainkan untaian kisah dari berbagai sudut desa. Setiap geraknya menyiratkan warisan dan setiap iramanya menggaungkan jati diri.
“Beberapa lagu bisa berbeda ketukan sehingga ketukannya dibagi menjadi dua,” lebih lanjut lagi “para pemusik tari kuntulan biasanya memerlukan sembilan orang anggota yang dimana masing-masing dari mereka memainkan alat musik seperti Bedug dan Cengter” ujar informan menjelaskan dengan senyum. Tak kalah menarik, pembuatan lirik yang seringkali melibatkan para ustadz dengan tujuan agar syair yang dibawakan mempunyai makna karena didalam lirik Tari Kuntulan terdapat pesan moral yang dapat dirasakan oleh para penonton.
“Biasanya kami melakukan acara ziarah dulu sebelum memulai tari kuntulan mba sebagai bentuk penghormatan pada sesepuh” jelas informan. Masyarakat Desa Karangsari masih mempercayai sebuah tradisi bahwa sebelum tari kuntulan dimulai, mereka mengadakan acara ziarah, lalu mendoakan para leluhur pelatih Tari Kuntulan. Tari Kuntulan sendiri memiliki proses yang cukup kompleks, latihan yang rutin dilakukan sebelum agustusan karena tarian ini ditampilkan pada malam sebelum agustusan (pada bulan muharam). “Dari yang saya ketahui sakralnya Tari Kuntulan ada di bulan muharam, tetapi untuk dilakukan bulan lain tergantung dari adanya acara yang membutuhkan pentas tari kuntulan.” ujar informan melanjutkan.
Jadi, Tari Kuntulan biasanya hanya ditampilkan pada bulan muharram, tetapi balik lagi ke acara yang diperlukan di sana.
Satu hal yang bikin saya tercengang adalah pakaian yang digunakan oleh para penari. Balutan pakaian warna hitam yang sakral digunakan oleh penari laki-laki yang kemudian dipadukan dengan kemben dan peci membuatnya terlihat menawan dan gagah. Sementara itu, pakaian penari perempuan yang sopan dan menggunakan kerudung terlihat cantik dan anggun malam itu. Pakaian yang digunakan oleh penari Tari Kuntulan mengingatkan saya pada tarian kuda lumping yang pernah saya tonton saat masih kecil karena sekilas sama. Riasan yang sama dengan Tari Kuntulan lainnya menandakan bahwa pada setiap perbedaan, pasti ada persamaan yang menjadi identitas tersendiri.
“Penari memiliki kebiasaan untuk selalu duduk jadi tidak langsung menari mba, nah ini tuh dilakukan untuk menunjukkan sikap sopan dan santun kepada orang yang lebih tua disini” Selain itu, yang baru saya tahu bahwasanya sebelum Tari Kuntulan dilakukan, ada ritual kecil yang selalu dilakukan dengan bantuan anggota lain. Ritual ini mengajarkan kita bahwa pada setiap anggota, kekompakan menjadi chemistry untuk menyatukan semua anggota untuk saling mendukung dan memberi semangat.
Saat itu, saya mengamati penari-penari disana. Saya pun takjub dengan mereka karena mereka menari dengan menghayati. Setiap alunan gerakan yang lincah sesuai dengan ketukan dan alunan musik. Makna yang tersampaikan dari gerakan yang dilakukan penari tersebut seolah menandakan bahwa tari kuntulan bukan tarian biasa, tetapi sebuah tarian warisan budaya yang tak ternilai terutama pada hari-hari istimewa seperti Bulan Muharram.
Ketika saya mengamati, tari kuntulan ini tidak sulit dalam proses pelaksanaannya. Namun, hanya saja hambatan dalam tari ini terdapat pada anggotanya karena sebagian besar anggotanya adalah anak muda yang sedang dilanda kesibukan, sehingga butuh waktu yang lama untuk berlatih bersama. Saya sangat bangga ketika melihat semangat anak-anak muda di Desa Karangsari yang terus menjaga kelestarian Tari Kuntulan sehingga Tari Kuntulan sebagai identitas budaya Desa Karangsari dapat terus terjaga keberadaannya.
Dari cerita yang saya tulis di atas, saya menyimpulkan bahwasanya Tari Kuntulan sebagai identitas budaya yang dapat dijaga dengan penuh cinta dan kasih sayang. Generasi muda sebagai penerus bangsa diharapkan dapat berkontribusi untuk terus melestarikan Tari Kuntulan ini agar tak tertinggal dan lenyap oleh zaman yang terus berkembang karena Tari Kuntulan akan terus hidup dan di tangan masyarakat dan generasi muda yang peduli akan budayanya.(*)
Oleh Keisya Putri Nur Aqilah