Katanya kegiatan sekolah itu penuh makna. Katanya bisa melatih kemandirian, kerja sama, dan mental baja. Tapi buatku, yang paling terasa waktu itu cuma satu: capek. Capek fisik, capek pikiran, capek pura-pura semangat di depan guru padahal isinya cuma ingin tidur.
Aku panitia, tapi tanpa peran jelas. Orang lain sibuk jaga konsumsi, ngatur acara, atau pura-pura sibuk biar kelihatan penting. Aku? Cuma ikut ke mana arah angin panitia bertiup. Kadang bantu-bantu hal random yang bahkan nggak masuk rundown. Pokoknya kalau ada yang teriak, “Zi bantu ini!”, aku datang kayak NPC yang belum descript.
Kami berangkat sore, jam tiga lewat sedikit. Matahari masih nyala—terlalu menyala malah—dan belum ada tanda-tanda kalau malam nanti bakal berubah menjadi semacam film horror dokumenter yang nggak dimonta siapa-siapa. Semua masih ketawa, masih semangat merekam stori, masih sempat bercanda “nih acara paling seru tahun ini.”
Padahal kalau bisa mengulang waktu, aku bakal bilang ke diriku sendiri:”Nikmatin aja matahari itu. Habis ini nggak bakal ada yang namanya ‘seru’ lagi.”
Semuanya masih normal sampai magrib datang. Kami shalat berjamaah, lanjut ke GOR buat makan malam. Di rundown tertulis: makan bareng panitia dan peserta. Kedengarannya sih damai. Tapi ternyata yang dimaksud panitia senior dengan “makan bareng” itu bukan makan Bersama, tapi ritual tukar identitas dan keikhlasan.
Bayangin aja, baru tiga suapan, tiba-tiba disuruh geser piring ke samping. Terus makan lagi, geser lagi, makan lagi. Aku bahkan nggak tahu itu nasi siapa, tantangan siapa yang udah nyentuh, dan lauk apa yang sedang aku kunyah. Tapi harus dilanjut. Katanya latihan keikhlasan. Atau mungkin latiahan jaadi zombie—makan tanpa mikir siapa yang dikunyah.
Malam itu masih belum terasa aneh. Cuma absurd. Tapi absurd masih bisa ditertawakan. Yang bikin ngeri justru datang setelahnya: badai tiba-tiba turun waktu kami lagi di GOR, dan perjalanan ke camp jadi mustahil. Kami berlima—aku, Memet, Andre, dan Nanang— terpaksa berteduh sambil beres-beres alat. Lampu dimatikan HT masih nyala, dan dari situ semuanya mulai salah arah.
HT mendesis. Ada suara teriakan. Panik. Tangis. Tapi kami malah ketawa.
Kami pikir itu candaan anak camp—maklum, sebelumnya ada yang iseng kirim pesan cinta lewat HT. “Ada yang suka kamu, Zi…” katanya. Jijik tapi lucu. Jadi Ketika suara itu muncul lagi, kami refleks mikir: “oh, lanjutannya nih.”
Tapi kemudian bau itu datang.
Bau yang langsung nyusup ke hidung kayak pesan dari dunia lain. Bukan keringat, bukan hujan.
Menyan.
Kami saling menatap, setengah takut, setengah pura-pura logis.
Sampai akhirnya, si sumber bau ngomong santai:
‘Eh sori, aku lagi ngelinting rokok, bro. kretek jadul.’
Dan disitulah logika kembali jatuh cinta pada kenyataan.
Ternyata bukan jin yang dipanggil, tapi nikotin yang dibakar.
Setelah bau “menyan palsu” itu reda, suasana jadi makin canggung. Di luar hujan udah bukan hujan—itu kayak ada yang nyalain mode curah hujan maksimal tanpa konfirmasi dulu. Angin nyeret-nyeret atap GOR kayak lagi minta jatah. HT masih nyala, kadang cuma nyisain suara desis.
Kami duduk di tenngah GOR, di antara piring kotor dan tikar yang udah sparuh basah.
Nggak ada yang berani ngomong. Listrik mulai ngedip, kayak lampu juga ikut ragu buat hidup. Di luar, suara petir kayak disetel random: jedug! jedug! jedug! dan di sela itu—HT bunyi lagi.
Kali ini bukan candaan. Suaranya beda. Serius. Keras.
“Tolong! Mushola! Cepat!”
Aku refleksnengok ke arah Memet. Dia juga bengong. Andre mulai ketawa kecil, semacam mekanisme pertahanan orang bingung. Tapi nggak ada yang jawab lewat HT. kami nunggu, mungkin berharap itu cuma salah channel. Tapi suara itu muncul lagi. Lebih jelas. Lebih dekat.
Lalu—gubrak!
Suatu jatuh di belakang. Berat. Nyaring. Seolah dunia baru nyadar dia bisa bikin kita lompat serentak.
Seketika semua berhenti mikir.
Nggak ada yang tanya ‘apa itu?’
Nggak ada yang coba sok berani.
Refleks otak panitia langsung berubah jadi suatu perintah universal: lari.
Kami lari keluar GOR, nabrak hujan kayak orang kabur dari anjing rabies. Baju basah, Sepatu berat, tapi nggak ada yang peduli. Satu-satunya yang kupikir waktu itu: ‘selama bukan aku yang ditarik, semua masih baiak-baik aja.’
Memet dan Nanag bahkan masih sempat bawa keranjang makanan sisa. Entah refleks tanggung jawab logistic atau refleks kelaparan akut. Aku dan Andre malah sempat ngunyah kerupuk samil lari.
Asin banget rasanya. Atau mungkin bukan kerupuknya yang asin, tapi adrenalin kami.
Sampai koridor sekolah, kami berhenti. Nafas udah kayak habis dipakai lomba 17-an. Tapi yang aneh: bukannya dingin, malah panas.
Panas yang aneh.
Panas yang kayak datang dari udara, bukan dari badan.
‘Kenapa gerah banget ya?’ Andre bisik, tapi nggak ada yang jawab. Kami cuma saling liat,kayak nyari logika di mata masing-masing. Nggak nemu.
Rundown acara bilang: pentas seni. Tapi yang kami dengar malah suara orang baca ayat kursi dari dalam kelas. Bukan satu orang—satu ruangan penuh.
Aku menalan ludah. Rasanya kayak ada batu di tenggorokan.
Kami buka pintu perlahan, dan…ya. Itu bukan pentas seni. Itu semacam festival eksorsisme massal.
Ada yang ketawa kenceng banget sampai suaranya pecah, ada yang melotot ke langit-langit, ada yang nanis, dan ada juga yang tubuhnya melengkung kayak dilipat dari belakang. Yang masih sadar baca ayat kursi dengan suara gemetar, kayak berusaha menahan bumi biar nggak copot.
Aku nggak tau harus ngapain. Aku cuma berdiri di sana, di ambang pintu. Pintu kelas itu, kini lebih terlihat seperti batas dunia nyata. Seseorang nyuruh ambil tandu. Aku dan wendi sepontan lari ke UKS. Nggak mikir, nggak takut, Cuma jalan karena kalau diam, otak pasti meledak. Kami angkat satu cewek yang tadi teriak paling keras.
Waktu lewat depan kelas lain, dia tiba-tiba nyentak dan—plak! —kakinya nyenggol mukaku.
Telak.
Kata’malam berkesan’ langsung naik ke peringkat satu sial tahun itu.
Kami bawa dia ke mushola, di situ udah ada ustad. Tatapan ustadnya tenang banget, kayak udah nonton episode begini ratusan kali. Aku duduk di pojok, diem, tapi dalem hati cuma bisa mikir
‘Ini acara sekolah apa reboot-nya The Conjuring?’
Sekitar jam dua pagi, keadaan baru agak tenang. Tapi tenang di sini bukan berarti aman—lebih ke kayak habis kebanjiran dan airnya baru surut setengah. Udara masih berat, kepala masih pusing, dan jantung belum nemu alasan buat santai.
Kami semua cowok akhirnya sepakat tidur di UKS. Ada satu kasur, satu selimut, tujuh nyawa, dan nol logika. Kami bikin formasi aneh: melingkar, kaki di Tengah, kepala diluar.
‘Biar kalau ditarik setan, langsung kepala.’ Kata memet dengan nada yang entah bercanda atau serius.
Dan anehnya, semua mengangguk. Karena di titik itu, absurd bukan lagi lelucon. Itu strategi bertahan hidup.
Azan subuh terdengar. Lirih, tapi nyakitin telinga. Kayak pisau tajam yang digores pelan ke dahi orang yang baru sempat merem setengah jam. Kami bangun bukan karena sadar, tapi karena udah nggak bisa tidur. Badan nggak segar, kepala nggak enteng, dan selimut satu-satunya Cuma bisa buat menutupi setengah kewarasan.
Kipas angin di pojok UKS bunyinya kayak doa yang tersesat — muter, berdengung, tapi nggak tahu tujuannya apa. Aku lihat wajah-wajah di sekelilingku: Memet, Wendi, Andre, Nanang. Biasanya mereka paling berisik kalau di kelas, tapi pagi itu semua kayak patung. Mata terbuka, tapi pandangannya kosong, kayak tiap orang lagi ngulang kejadian tadi malam di kepalanya sendiri.
Formasi tidur absurd kami—kaki di tengah, kepala di luar—masih berantakan. Tapi entah kenapa, justru itu yang paling masuk akal dari semua hal semalam. Logika di kepala kami udah patah, tapi setidaknya absurd ini punya alasan. ‘kalau setan mau narik, biar langsung kepala, bukan kaki,’ kata Memet semalam, setengah bercanda, setengah religious pragmantis.
Dan ya, di titik itu, kedengarannya semaikin make sense. Kadang rasa aman memang nggak butuh doa panjang, cukup ide bodoh yang bisa bikin kita ketawa sebentar di tengah ketakutan.
Kami bangun pelan, berusaha pura-pura normal. Tapi ‘normal’ udah hilang dari kamus.
Udara pagi bukan lagi dingin, malah gerah. Seolah sisa semalam masih nempel di tembok, di kasur, di paru-paru kami. Semua diam. Ustad yang semalam bantu ruqyah pun cuma ngelihat ke bawah, matanya sayu. Nggak ada yang ngomong ‘udah beres’, karena semua tahu: belum.
Begitu matahari naik, kegiatan resmi langsung dibubarkan. Rundown terakhir: pulang. Nggak ada penutupan, nggak ada foto-foto, nggak ada kesan-pesan. Bahkan yang biasanya paling haus dokumentasi pun milih diam. Kami cuma pengen beres, bawa badan pulang, dan pura-pura semuanya nggak pernah terjadi.
Tapi masalahnya, sesuatu yang terjadi di malam kayak gitu nggak bisa dibawa pulang begitu aja.
Yang pulang, belum tentu benar-benar pulang.
Yang sadar, belum tentu benar benar balik.
Dan yang tinggal… entah bagaimana, ntah di siapa, tapi rasanya masih ada.
Pas kami beberes barang, gosip mulai jalan. Bukan gosip ringan kayak ‘siapa suka siapa’ atau ‘siapa yang muntah pada waktu makan malam’, tapi gosip berat—jenis gossip yang bikin udara ikut menegang. Katanya, ada tiga cewek yang malam itu jalan ke belakang sekolah. Alasannya klise: mau pipis. Tapi karena hidup suka bercanda, mereka malah nyenter kea rah Sungai. Katanya mereka lihat ‘sesuatu’. Sosok. Entah apa.
Detailnya beda-beda tergantung siapa yang cerita. Ada yang bilang tinggi hitam, ada yang bilang perempuan rambut panjang, ada yang cuma bilang ‘mata merah di balik daun’. Tapi semua sepakat: tepat setelah itu, teriakan pertama terdengar dari camp.
Dan di situlah, kalau dipikir lagi, semua berawal.
Bukan dari doa yang salah, bukan dari panitia yang teledor, tapi dari rasa penasaran manusia yang terlalu sering menentang hal yang nggak perlu.
Aku berdiri di koridor sekolah waktu itu, melihat satu siswi yang masih belum sadar di dalam kelas. Guru pendampingnya bilang pelan, ‘masih belum bangun. Padahal udah siang bolong.’
Aku cuma diam.
Udara panas. Langit teraang. Tapi rasanya tetap gelap.
Aku nggak bilang apa-apa. Nggak komentar. Nggak pura-pura sok tahu soal hal mistis. Aku cuma berfikir satu hal kecil yang muncul tanpa permisis:
‘Ternyata… belum semua pulang.’ (*)
Oleh Muh Nauval Nawaal Mafazi