Perkembangan teknologi saat ini berlangsung sangat pesat. Hal ini terlihat dari banyaknya inovasi yang memudahkan manusia dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Salah satunya dalam hal interaksi sosial, di mana manusia kini dapat berkomunikasi dengan mudah meskipun terpisah jarak yang jauh, berkat adanya perangkat gawai. Gawai memberikan kebebasan kepada pengguna untuk berinteraksi kapan pun dan di mana pun secara lebih leluasa.
Meskipun gawai memberikan banyak manfaat, perangkat ini juga memiliki dampak negatif, terutama bagi anak-anak. Ketergantungan anak terhadap teknologi dapat menghambat hubungan sosial mereka. Anak-anak yang terlalu sering menggunakan gawai sejak usia dini berpotensi mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan, baik secara sosial maupun emosional. Jika anak mulai kecanduan gawai, dampaknya dapat terlihat dari perilaku seperti mudah marah, melawan, kehilangan kepercayaan diri, kurang disiplin, malas belajar, serta meninggalkan kewajiban beribadah. Dampak paling jelas adalah berkurangnya waktu bersosialisasi, di mana anak menjadi enggan bermain dengan teman sebayanya.
Anak-anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan sosialnya cenderung akan kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial saat dewasa. Mereka menjadi kurang mandiri dan mengalami kesulitan dalam membentuk identitas diri. Salah satu penyebab utamanya adalah penggunaan gawai yang berlebihan. Kebiasaan ini dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak secara keseluruhan.
Masa usia dini merupakan periode emas (golden age), di mana perkembangan fisik, kognitif, sosial, dan emosional anak berlangsung sangat cepat. Jika pada masa ini anak terlalu sering menggunakan gawai tanpa pengawasan, mereka akan kesulitan mengatur emosi dan berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itu, peran orang tua dan guru sangat penting dalam mengawasi serta mengarahkan penggunaan gawai. Pembatasan waktu penggunaan dan pemilihan konten yang edukatif merupakan langkah tepat untuk membantu anak membangun kemampuan sosial dan emosional secara seimbang. Selain itu, pembelajaran berbasis teknologi juga dapat mendukung perkembangan emosi anak, asalkan diimbangi dengan interaksi sosial secara langsung.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS, 2022), sekitar 33,44% anak usia dini di Indonesia telah menggunakan gawai nirkabel. Dari jumlah tersebut, 25,76% merupakan anak berusia 0–4 tahun, sedangkan 52,76% adalah anak berusia 5–6 tahun. Bahkan, sekitar 24,95% anak usia 5–6 tahun sudah mampu mengakses internet. Fenomena ini menunjukkan bahwa anak-anak semakin akrab dengan teknologi sejak usia sangat muda.
Banyak orang tua memberikan gawai kepada anak dengan tujuan membantu proses belajar atau agar tidak tertinggal perkembangan zaman. Namun, tanpa pengawasan yang baik, anak dapat menjadi kecanduan dan menunjukkan perilaku negatif. Sayangnya, masih banyak orang tua yang belum memahami pentingnya pembatasan penggunaan gawai, meskipun mereka menyadari adanya risiko seperti paparan konten negatif, berita palsu, atau pornografi. Oleh karena itu, peran orang tua sangat menentukan dalam membentuk perilaku anak agar tidak terpengaruh dampak buruk dari gawai.
Apabila digunakan secara bijak, gawai juga memiliki dampak positif. Anak dapat mengembangkan imajinasi melalui aktivitas meniru gambar dan warna dari tayangan edukatif, meningkatkan kemampuan mengenal huruf, angka, serta warna melalui konten seperti YouTube Kids, dan melatih kemampuan motorik serta kognitif mereka. Dengan pengawasan yang tepat, gawai dapat menjadi sarana pembelajaran yang menarik bagi anak usia dini.
Namun, jika digunakan berlebihan tanpa pengawasan, gawai dapat menyebabkan anak menjadi pribadi tertutup, mudah marah, sulit tidur, hingga terpapar radiasi yang berbahaya. Anak yang terlalu sering bermain gawai cenderung menyendiri, enggan berinteraksi, bahkan meniru bahasa kasar dari tontonan di media digital. Kondisi ini dapat memicu gangguan emosi seperti mudah tersinggung, agresif, dan tidak stabil secara psikologis. Selain itu, paparan layar dalam waktu lama juga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan, seperti kelelahan mata.
Penelitian menunjukkan bahwa peran orang tua sangat penting dalam membentuk karakter anak, terutama melalui pendampingan dan pengawasan penggunaan gawai. Orang tua perlu menetapkan batas waktu, memilih konten yang sesuai, serta menjadikan gawai sebagai alat bantu, bukan sebagai media utama belajar anak. Edukasi kepada orang tua juga diperlukan agar mereka memahami risiko dari penggunaan gawai yang tidak terkontrol, termasuk paparan konten negatif di internet.
Secara keseluruhan, penggunaan gawai pada anak usia dini bukanlah hal yang sepenuhnya negatif. Jika digunakan secara bijak dan di bawah pengawasan orang tua maupun guru, gawai dapat mendukung perkembangan kognitif, motorik, dan imajinasi anak. Namun, penggunaan yang berlebihan tanpa pendampingan dapat menimbulkan gangguan sosial dan emosional, seperti menurunnya empati, kecanduan, serta kesulitan berinteraksi. Oleh karena itu, keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan aktivitas sosial secara langsung menjadi kunci utama dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Gawai sebaiknya digunakan sebagai media pendukung pembelajaran, bukan sebagai alat utama, serta selalu dalam pengawasan orang tua dan guru.(*)
Oleh Rahma Levina