Siapa yang tidak mengenal seblak? Makanan khas dari Sunda ini telah menjadi salah satu makanan yang populer di Indonesia. Cita rasa pedas, gurih, asin dan aroma kencur yang kuat menjadikan seblak terkenal di kalangan anak muda. Awalnya seblak hanya makanan yang terbuat dari kerupuk basah dan bumbu rempah yang dikenal oleh masyarakat Sunda. Namun seiring dengan perkembangan waktu, seblak berubah menjadi ikon kuliner yang digemari banyak orang bahkan di luar daerah Sunda.
Sebelum berkembang menjadi makanan yang digemari oleh banyak orang, seblak hanyalah makanan sederhana yang lahir dari kebiasaan masyarakat sunda. Awalnya masyarakat sunda tidak ingin membuang kerupuk sisa yang sudah melempem, sehingga mereka pun berkreasi dengan merebus kerupuk bersama dengan bumbu yaitu, bawang putih, kencur dan cabai merah. Lalu dari mana asal usul penamaan ‘seblak’? Nyeblak dalam bahasa Sunda memiliki arti mengagetkan. Ada juga yang menyebut, seblak berasal dari kata ‘segak atau ‘nyegak’ yang artinya menyengat. Bisa disebut jika arti kata mengagetkan dan menyengat ini pas dengan karakter makanan seblak yang bikin kaget dan menyengat karena pedas. Namun untuk level kepedasan ini tidak harus yang sampai ‘menyengat’ tingkat level kepedasan dapat disesuaikan dengan selera.
Pada awalnya, isian seblak memang hanya sebatas kerupuk yang direbus, namun seiring dengan berkembangnya kreativitas, banyak orang mulai menambahkan berbagai topping ke dalam seblak. Mulai dari telur, sosis, bakso, ceker ayam, mie, hingga seafood kini menjadi pelengkap yang membuat seblak semakin variatif dan menggugah selera. Inovasi ini membuat seblak tak lagi dianggap sebagai makanan sederhana, melainkan menjadi hidangan yang bisa disesuaikan dengan selera dan tingkat kepedasan masing-masing.
Berkat perkembangan teknologi dan adanya media sosial, seblak kini dikenal oleh banyak masyarakat diluar Sunda. Banyak konten kreator yang membuat ulasan tentang seblak, sehingga memicu rasa penasaran banyak orang. Sebagai seorang yang besar di tanah Sunda, saya merasa bahwa seblak memang perlu dikenal oleh banyak orang karena cita rasanya yang khas. Namun, semenjak saya berkuliah di luar kota, saya merasa sulit untuk menemukan cita rasa seblak yang benar-benar mirip seperti di Bandung. Saya bertanya-tanya, mengapa rasa seblak di luar kota bisa berbeda, padahal bahan baku yang digunakan tampak sama persis.
Setelah saya perhatikan, perbedaan rasa itu mungkin karena cara memasak dan menggunakan bumbu, terutama kencur yang menjadi ciri khas seblak Sunda. Beberapa pedagang di luar Bandung sering menyesuaikan tingkat pedas dan aroma bumbu agar sesuai dengan selera masyarakat setempat. Akibatnya, seblak yang seharusnya punya rasa pedas dan gurih dengan aroma kencur yang kuat, terkadang terasa lebih ringan dan kurang menyengat.
Selain itu, suasana tempat juga mempengaruhi rasanya. Makan seblak di warung kecil di Bandung yang penuh uap, aroma bumbu, dan suara orang berbicara pasti berbeda dengan ketika mencicipinya di kota lain. Ada rasa nostalgia dan kehangatan budaya yang membuat seblak di tanah Sunda terasa lebih hidup. Melalui seblak, saya menyadari bahwa rasa tidak hanya dari bahan, tetapi juga dari budaya, lingkungan, dan kenangan yang menyertai. Itulah sebabnya meskipun seblak sekarang banyak dijual di berbagai kota, cita rasa khas Bandung tetap sulit tergantikan.
Dengan popularitasnya yang semakin mendunia, kini seblak tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Baru-baru ini, ramai di berbagai platform online seorang kreator konten asal Thailand mencoba seblak. Ia memesan seblak kemasan langsung dari Indonesia, lalu mencicipinya dan mengunggah reaksinya ke media sosial. Unggahan tersebut menjadi viral dan memicu tren baru di Thailand, karena banyak orang yang penasaran ingin mencoba cita rasa makanan khas Sunda ini. Hal ini menjadi bukti bahwa kuliner Indonesia memiliki kekayaan rasa yang unik dan mampu menarik perhatian dunia.
Cita rasa khas Indonesia itu beragam, oleh karena nya kita sebagai orang yang lahir dan besar di Indonesia harus bisa menghargai salah satu kekayaan negara ini. Dengan cara yang dapat dibilang simpel dan mudah, kita sudah bisa menjaga dan melestarikan makanan khas Indonesia. Mulai dari langkah kecil seperti mengonsumsi makanan khas, memperkenalkan makanan khas ke generasi muda, dan mendukung UMKM lokal. Saya berharap makanan Indonesia dapat bersaing di kancah internasional sehingga dapat mendukung perkembangan mendatang di Indonesia.(*)
Oleh Dhea Faradilla Muzach