Feodalisme dan Feminisme Kemiskinan Kajian dari Novel “Gadis Pantai”

Sastra tidak pernah lahir di ruang hampa. Ia tumbuh dari denyut sejarah, budaya, dan struktur sosial masyarakat. Dalam konteks ini, novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer merupakan karya sastra yang tidak hanya menyajikan potret kehidupan masyarakat Jawa pada masa kolonial, tetapi juga membuka ruang refleksi kritis terhadap ketimpangan sosial, terutama yang menimpa perempuan kelas bawah. Dua isu utama yang menonjol dalam novel ini adalah feodalisme dan feminisme kemiskinan. Keduanya saling terkait dan membuat perempuan miskin terus hidup dalam lingkaran penindasan di tengah tatanan masyarakat Jawa yang tradisional dan patriarkal.

Feodalisme dalam novel ini tergambar melalui struktur sosial yang kaku antara kaum bangsawan (priyayi) dan rakyat jelata. Tokoh Gadis Pantai, yang bahkan tidak disebutkan namanya, menjadi simbol dari kelas bawah yang tak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Ia dinikahkan secara paksa dengan Bendoro, seorang bangsawan yang menjadikannya sekadar “istri simpanan” tanpa status hukum yang jelas. Pernikahan ini bukanlah ikatan kasih, melainkan wujud kekuasaan feodal yang menindas tubuh dan martabat perempuan miskin. Ketika sudah tidak dibutuhkan, ia dipulangkan tanpa penghargaan sedikit pun, seolah hidupnya tak pernah berarti. Melalui kisah tragis ini, Pramoedya menunjukkan bahwa sistem feodal tidak hanya menindas secara ekonomi, tetapi juga mengikis nilai-nilai kemanusiaan. Dalam sistem semacam ini, manusia tidaklah setara, bangsawan memiliki kuasa untuk “mengambil dan membuang,” sementara rakyat hanya bisa pasrah dan tunduk.

Dalam kajian feminis, Gadis Pantai merepresentasikan bentuk nyata dari feminisme kemiskinan, yakni pandangan yang melihat penindasan perempuan sebagai hasil tumpang tindih antara patriarki dan kemiskinan. Gadis Pantai, anak seorang nelayan miskin, tidak memiliki akses terhadap pendidikan, informasi, atau pilihan hidup. Keluarganya justru merasa “beruntung” saat ia dilamar Bendoro, tanpa menyadari bahwa keputusan itu menjadi awal penderitaannya. 

Tubuh perempuan dalam novel ini dijadikan alat legitimasi kekuasaan dan simbol status sosial. Sementara kemiskinan membuatnya kehilangan kekuatan untuk menolak, bahkan untuk sekadar bersuara. Gadis Pantai tidak memiliki kendali atas hidupnya. Ia hanyalah objek yang berpindah dari satu kekuasaan ke kekuasaan lain, dari orang tuanya, ke Bendoro, dan akhirnya kembali ke kampung tanpa identitas, kehormatan, atau masa depan. Dalam pandangan feminisme kemiskinan, inilah bentuk penindasan paling kompleks dimana perempuan terperangkap bukan hanya oleh budaya patriarki, tetapi juga oleh kemiskinan yang mengekang pilihan hidupnya.

Di sinilah letak kritik feminis terhadap masyarakat yang dikuasai oleh sistem patriarki dan perbedaan kelas. Feminisme kemiskinan menegaskan bahwa kebebasan perempuan tidak bisa dilepaskan dari kebebasan ekonomi. Seorang perempuan tidak akan benar-benar merdeka selama ia masih bergantung secara ekonomi pada pihak atau sistem yang menindasnya.

Meski Gadis Pantai tampak sebagai tokoh yang pasif, Pramoedya menyisipkan bentuk perlawanan yang sunyi dalam dirinya. Ia mulai mempertanyakan posisinya, merasa tidak nyaman dengan ketidakadilan yang dialaminya, dan pada akhirnya memilih untuk membawa anaknya pulang. Anak itu menjadi simbol harapan, simbol kemungkinan perubahan di masa depan. Pramoedya memang tidak menawarkan solusi eksplisit, namun melalui kesadaran Gadis Pantai, ia menanamkan benih perlawanan dan kesadaran bahwa sistem yang menindas itu tidak seharusnya diterima begitu saja.

Dari sudut pandang pribadi saya, Gadis Pantai bukan hanya kisah masa lalu, tetapi juga cermin bagi realitas sosial masa kini. Bentuk-bentuk feodalisme modern masih bisa kita temui dalam relasi kuasa di tempat kerja, di rumah tangga, bahkan dalam media sosial yang membentuk citra “perempuan ideal” berdasarkan pandangan patriarki. Begitu pula dengan feminisme kemiskinan, banyak perempuan hari ini yang masih tidak memiliki kebebasan karena terjebak dalam ketergantungan ekonomi. Membaca novel ini membuat saya sadar bahwa perjuangan perempuan bukan hanya soal melawan laki-laki, tetapi melawan sistem yang menormalisasi ketimpangan.

Novel Gadis Pantai adalah potret kelam masyarakat kolonial yang tetap relevan untuk memahami ketidakadilan sosial masa kini. Feodalisme yang menciptakan kesenjangan kelas dan feminisme kemiskinan yang menyoroti ketidakberdayaan perempuan menjadi dua tema besar yang saling bertaut. Melalui karya ini, Pramoedya tidak sekadar mengisahkan nasib seorang perempuan, tetapi juga mengajak pembaca untuk berpikir lebih kritis tentang struktur sosial yang masih menindas hingga hari ini.(*)

Oleh Miranti Maulina Anggraini