Dengan kemajuan teknologi seiring perkembaangan zaman, teknologi dalam pembuatan film fantasi-pun berkembang pesat. Film fantasi merupakan salah satu genre film yang menghadirkan dunia dalam imajinatif penuh keajaiban, makhluk mistis, serta kisah yang sering kali melampaui batas realitas. Dengan adanya efek visual yang menakjubkan dan jalan cerita yang unik, film fantasi tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki peran penting dalam menstimulasi daya imajinasi dan kreativitas penonton. Dengan adanya stimulasi daaya imaajinasi tersebut, dapat mendorong penonton untuk mengalurkan ide ide kreativitas.
Film fantasi memiliki segi unik di mana cerita tersebut memiliki ide ceritanya tidak berdasarkan kenyataan atau bersifat imajiner. Berbeda dengan karangan fiksi yang memuat kenyaataan, cerita fantasi memuat cerita-cerita di luar nalar dan kenyataan. Ruang waktu yang tidak jelas membuat penonton berpikir lebih luas daripada ruang nyata di dunia.
Dampak dari film fantasi terhadap stimulasi otak, antara lain:
- Merangsang pemikiran kreatif melalui skema pemikiran baru: dengan adanya film fantasi yang menampilkan situasi yang nyata pada dunia mendorong otak untuk melewati batas skema pengetahuan sehari-hari. Sebagai contoh, riset “Experiencing the impossible and creativity: a targeted literature review” menunjukkan bahwa berinteraksi dengan narasi fantasi memiliki hubungan positif dengan kreativitas. Dengan kata lain, menonton film fantasi dapat mengaktifkan aspek “what-if” dalam otak, memikirkan skenario alternatif atau solusi non-konvensional.
- Aktivasi jaringan otak yang terkait dengan imajinasi dan pemrosesan makna: pada artikel “Unlocking Creativity in the Brain” dari BrainFacts, dituliskan bahwa aktivitas kreatif yang termasuk imajinasi terkait dengan precuneus dan medial prefrontal cortex (MPFC) area yang aktif saat “daydreaming” atau biasa disebut “Melamun” ketika film fantasi membuka imajinasi, otak kemungkinan besar sedang menggunakan jaringan ini merespon rangsangan visual atau narasi yang tak konvensional.
- Membuka “skema disruptif” yang memecah pola pikir rutin: teori “schema disruption” membuktikan bahwa ketika seseorang dihadapkan dengan narasi yang menentang ekspektasi realistas, misalnya makhluk fantasi, kekuatan supernatural, hal ini bisa mendorong kreativitas. Hal ini sangat relevan dalam konteks keseharian dengan melihat film fantasi dapat memicu ide atau desain yang “mengubah” norma, bukan hanya meniru.
Dari berbagai penelitian, bisa disimpulkan bahwa film fantasi memang punya pengaruh besar terhadap cara kerja otak dan kreativitas seseorang. Adegan atau cerita yang penuh keajaiban membuat otak lebih aktif, terutama bagian yang berhubungan dengan imajinasi dan berpikir bebas.
Beberapa studi menunjukkan bahwa menonton film fantasi dapat meningkatkan daya pikir kreatif, kemampuan mengatur ide, dan bahkan cara seseorang memecahkan masalah. Film dengan unsur mustahil membantu otak terbiasa berpikir di luar kebiasaan dan membuka kemungkinan baru.(*)
Oleh Nabila Ramadhani Nugraha