Para Perempuan yang Menulis Dunia

Dalam sepanjang peradaban manusia, laki-laki seringkali mengendalikan tinta untuk menulis sejarah dunia. Namun di balik sejarah sastra dan pemikiran, ada pula para perempuan yang juga berpengaruh untuk dunia. Mereka adalah perempuan-perempuan yang berbicara, menulis dan berkarya untuk mengguncang dunia dengan penuh keberanian dan banyaknya perjuangan. Di masa ketika perempuan dibungkam dan dibatasi untuk belajar, banyak dari mereka yang justru menciptakan perubahan lewat tulisan dan ide cemerlang. Namun, tidak semuanya mendapat pengakuan oleh banyak orang. Bahkan dalam beberapa kasus, hasil karya mereka diklaim oleh orang lain—sering kali oleh laki-laki di sekitarnya. Seperti Rosalind Franklin yang namanya baru diakui puluhan tahun setelah penemuan struktur DNA disematkan kepada Watson dan Crick. Peristiwa tersebut membuktikan betapa seringnya sejarah ditulis tanpa tinta perempuan.

Dalam artikel ini, kita akan menyelam dalam cerita-cerita perempuan yang menulis dunia dengan berbagai cara dalam berbagai bidang. Artikel ini ditulis dengan tujuan memberikan apresiasi kepada para perempuan yang membawa perubahan untuk dunia. Para perempuan yang datang dari latar dan waktu yang berbeda namun tetap dengan tujuan yang sama untuk membuka jalan bagi generasi berikutnya.

Cleopatra VII, ratu terakhir dari dinasti Ptolemaic Mesir, adalah sosok tokoh luar biasa yang sering kali diselimuti legenda dan romantisasi. Padahal, di balik pesona dan cerita romantisnya dengan dua tokoh besar Romawi, ia adalah sosok pemimpin cerdas, visioner, dan berani dalam mengambil keputusan politik yang menentukan nasib negerinya. Ia bukan hanya ratu dalam nama, ia adalah perempuan yang terpelajar dan pemimpin yang rasional.

Hubungannya dengan Julius Caesar dan kemudian dengan Mark Anthony bukan sekadar kisah asmara romants seperti di dalam film, namun itu adalah strateginya untuk mempertahankan kedaulatan Mesir. Di bawah kepemimpinannya, Mesir bangkit dan mengalami pemulihan ekonomi. Setelah kematiannya pada tahun 30 SM, Mesir berakhir menjadi kerajaan yang merdeka dan dimulailah masa kekuasaan Romawi.

Queen Elizabeth I, seorang ratu Inggris yang memerintah selama 4 dekade san berjuang keras menegaskan dirinya di dunia politik yang didominasi oleh laki-laki. Ia naik takhta ketika Inggris dalam masa genting. Banyak yang meragukan kemampuannya dalam memimpin—bukan karena kurangnya kecerdasan, melainkan karena ia seorang perempuan muda yang belum menikah. Namun Elizabeth membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang cermat, diplomatis,  dan berwawasan luas. Ia menolak tekanan politik untuk menikah demi sekutu atau legitimasi kekuasaan, dan bahkan dengan tegas menyebut dirinya “menikah dengan rakyat Inggris.” Di

bawah kepemimpinannya, Inggris mengalami masa stabilitas dan kemakmuran. Elizabeth memperkuat angkatan laut, menata keuangan negara dan mendukung eksplorasi maritim.

Tidak hanya berjaya dalam politik dan militer, ia juga dikenal sebagai pelindung seni, sastra dan ilmu pengetahuan. Elizabeth berhasil menulis ulang gambaran tentang kepemimpinan perempuan di mata dunia. Ia menunjukkan bahwa kecerdasan, keteguhan, dan visi jauh lebih penting daripada gender dalam menentukan kualitas seorang pemimpin.

Joan Of Arc, simbol harapan dan patriotisme dan menjadi salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh dan legendaris dalam sejarah Eropa. Dia bukan pemerintah ataupun penulis, namun dia adalah perempuan muda yang menulis sejarah dengan keberaniannya. Ia hanyalah gadis desa biasa yang tidak memiliki latar bangsawan ataupun pendidikan tinggi. Sejak remaja ia mengaku mendapat “suara” dai Tuhan untuk menyelamatkan Perancis dan menobatkan Charles VII sebagai raja yang sah. Meskipun banyak yang meragukannya, Joan tetap bertekad luar biasa dan berhasil bergabung dalam peperangan dan memimpin pasukan Perancis menuju  kemenangan. Namun, di usia yang masih muda, dia dieksekusi dengan tuduhan sebagai penyihir atau bidah (pengingkar agama). Kisah Joan menunjukan keberanian perempuan yang melampaui zamannya.

Olympe De Gouges, sosok tokoh yang dikenal sebaagai salah satu pelopor feminisme.

Dia adalah penulis dan aktivis politik yang menyuarakan dan menuntut kesetaraan bagi perempuan di tengah hiruk-pikuk Revolusi Perancis akhir abad ke-18. Di kota Paris, ia menyaksikan sendiri bagaimana ide-ide besar Revolusi Perancis—kebebasan, kesetaraan, persaudaraan—hanya berlaku bagi kaum laki-laki saja. Dari situ, terciptalah salah satu karyanya yang paling terkenal yaitu “Déclaration des droits de la femme et de la citoyenne” (Deklarasi Hak-hak Perempuan dan Warga Negara Perempuan, 1791). Pandangannya yang independen membuat banyak pihak tidak senang. Sehingga pada tahun 1793, di masa pemerintahan teror (Reign of Terror), Olympe ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh guillotine. Ia dihukum bukan karena tindakannya, tetapi karena tulisannya yang dianggap “mengancam revolusi”

Marie Curie, perempuan pertama yang menerima penghargaan Nobel dan menjadi salah satu perempuan paling berpengaruh dalam sejarah sains. Sejak kecil, ia adalah anak yang cerdas dan haus akan ilmu. Namun, pada saat itu peempuan di Polandia tidak diperbolehkan belajar di universitas. Oleh karena itu, dia bergabung dengan universitas bawah tanah, tempat dimana para perempuan belajar secara diam-diam. Kemudian ia melanjutkan studinya di Sorbonne Univrsity, Paris. Disitulah dia bertemu suaminya sekaligus menjadi rekan peneliti baginya. Bersama, mereka mempelajari fenomena misterius yang baru ditemukan saat itu: radioaktivitas. Dari kerja keras tanpa henti di laboratorium sederhana, pasangan ini menemukan dua unsur baru — polonium dan radium. Penemuan ini membuka jalan bagi perkembangan teknologi modern seperti sinar-X dan terapi kanker, serta mengubah cara manusia memahami energi atom.

Namun, di balik keberhasilannya, perjuangan Marie Curie tidak mudah. Dunia sains saat itu didominasi laki-laki, dan banyak pihak meragukan kemampuannya hanya karena ia seorang perempuan. Bahkan, ketika ia dan Pierre memenangkan Hadiah Nobel Fisika tahun 1903, panitia awalnya hanya berniat memberikan penghargaan itu kepada Pierre dan rekannya. Pierre menolak kecuali nama Marie juga dicantumkan. Akhirnya, Marie Curie menjadi perempuan pertama yang menerima Nobel.

Grace Murray Hopper, ilmuwan komputer, matematikawan, dan perwira Angkatan Laut Amerika Serikat yang mengubah cara manusia berinteraksi dengan mesin sehingga diakui dunia sebagai salah satu pelopor teknologi komputer modern. Ia berjasa besar dalam mengubah komputer dari mesin rumit menjadi alat yang bisa “berbicara” dengan manusia. Selama Perang Dunia II, Hopper bekerja mengembangkan komputer Harvard Mark I, salah satu komputer pertama di dunia. Ia kemudian menciptakan compiler pertama — program yang menerjemahkan bahasa manusia menjadi bahasa mesin. Inovasi inilah yang menjadi dasar bagi bahasa pemrograman modern, termasuk COBOL, yang hingga kini masih digunakan dalam sistem bisnis dan pemerintahan. Karena jasanya, Grace Hopper dijuluki “Queen of Code” dan dikenal sebagai sosok yang membuat dunia komputer lebih mudah diakses oleh banyak orang.

Hedy Lamarr, seorang aktris Hollywood yang ternyata ikut meletakkan dasar bagi teknologi Wi-Fi dan Bluetooth yang kita pakai sekarang. Ia dikenal dunia sebagai bintang film glamor Hollywood pada era 1930–1940-an, namun di balik kecantikannya, ia adalah penemu jenius. Di masa Perang Dunia II, ia menciptakan sistem komunikasi rahasia berbasis “frequency hopping” — teknologi yang memungkinkan sinyal radio berpindah-pindah frekuensi agar tidak mudah disadap musuh. Meskipun penemuannya sempat diabaikan, prinsip dari inovasi Hedy menjadi fondasi penting bagi teknologi nirkabel modern—seperti Wi-Fi, GPS, dan Bluetooth.

R.A. Kartini, simbol suara perempuan Nusantara. Setelah membahas beberapa perempuan di berbagai belahan dunia, tentu ibu Kartini tidak bisa dilupakan atas semangatnya dalam mencapai kesetaraan. Pada masa itu, perempuan Indonesia hidup dalam banyak batasan— tidak bebas menempuh pendidikan, menikah muda, dan minim sekali kesempatan untuk berbicara di ruang publik. Namun di tengah keterbatasan itu, ibu Kartini tumbuh dengan semangat belajar yang tinggi. Ia gemar membaca surat kabar dan buku-buku berbahasa Belanda, yang membuka pikirannya tentang kesetaraan, pendidikan, dan kemerdekaan berpikir.

Dari situ ibu Kartini mulai menulis beberapa surat kepada sahabat-sahabatnya di Belanda. Disitu ia mengungkapkan keresahannya terhadap nasib perempuan pribumi dan keinginannya untuk melihat perempuan berdiri sejajar dengan laki-laki dan berdampingan dalam membangun  bangsa. Kemudian surat-surat itu dikumpulkan dan diterbitkan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” — karya yang menjadikan Kartini sebagai simbol kebangkitan perempuan Indonesia. Ia membuka jalan bagi lahirnya gerakan pendidikan perempuan, dan semangatnya terus hidup dalam setiap perempuan Indonesia yang belajar, berkarya, dan bersuara.

Dari Cleopatra dan Queen Elizabeth I yang menulis sejarah dengan kekuasaannya, Joan of Arc daan Olympe De Gouges yang menulis sejarah dengan keberanian dan ketangguhan, hingga Marie Curie, Grace Hopper dan Hedy Lamarr yang menulis sejarah dengan penemuan dan ide cemerlang mereka, sejarah membuktikan bahwa perempuan selalu punya cara untuk meninggalkan jejak untuk membentuk peradaban. Dan di antar kisah-kisah besar dunia itu, ibu Kartini berdiri sebagai pembuka jalan bagi jutaan perempuan Indonesia untuk bermimpi.

Dunia yang kita kenal hari ini adalah hasil dari tangan-tangan dan pikiran perempuan seperti mereka yang berani melampaui batas, mengubah pandangan, dan menulis bab baru dalam sejarah manusia. Karena sejatinya, dunia tidak pernah hanya ditulis oleh satu gender; dunia ditulis oleh mereka yang berani menulisnya dengan hati.(*)

Oleh Nasyra Umaira