Dua Bawang dan Cermin dari Negeri Seberang

Sebuah desa asri yang dikelilingi pepohonan hijau dan sungai-sungai yang jernih hidupklah seorang gadis cantik yang bernama Bawang Putih. Semenjak ibunya meninggal, bawang putih tinggal bersama ayahnya yang merupakan orang kaya namun sederhana. Ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik yang hanya mau menikmati harta dari ayah bawang putih, ibu tirinya juga membawa serta anak perempuannya yang bernama Bawang Merah. Sifat bawang merah pun sama seperti sifat ibunya yang licik. Ibu tiri dan Bawang Merah selalu berperilaku baik kepada Bawang Putih hanya ketika ada ayahnya saja. Awalnya Bawang Putih berfikir bahwa keluarganya yang sekarang akan bahagia, namun itu semua salah dan ternyata ia hanya dijadikan pembantu oleh ibu dan anak tersebut.

Setiap harinya bawang putih harus mencuci, memasak, dan membersihkan rumah karena paksaan dari Bawang Merah dan ibu tirinya. Semestara itu, Bawang Merah dan ibu tirinya hanya bersantai sambil bercermin memuci dirinya sendiri. Walaupun kehidupan bawang putih tidak sesuai dengan harapannya, Bawang Putih selalu tersenyum dan tidak pernah mengeluh ataupun membalas perlakuan dari mereka. Bawang Putih percaya tuhan akan memberi jalan kepada orang yang sabar.

Pada suatu hari, Bawang Putih hendak mencuci pakaian namun tidak sengaja bawang putih menghanyutkan selendang kesayangan milik bawang merah. Bawang Putih menyusuri sungai hendak mencari selendang bawang merah dan berharap menemukannya sebelum sore datang. Di ujung sungai Bawang Putih melihat sebuah gua kecil yang tertutup oleh semak- semak, dari dalam goa terdengar suara memanggil “Siapa di luar sana?.” Dengan sopan bawang putih menjawab bahwa dia sedang kehilangan selendang merah punya kakaknya. Keluarlah seorang nenek tua, dengan senyum ramah nenek itu berkata “Aku menemukannya, tapi tolong bantu aku membersihkan rumah ini sebentar” dan tanpa ragu Bawang Putih membantu nenek itu memasak dan membersihkan rumahnya.

Setelah selesai, sang nenek pun menyodorkan dua buah labu yang berbeda ukuran, yang satu besar dan yang satu kecil. “Ambilah salah satu sebagai hadiah” katanya. Bawang putih pun memilih labu yang kecil karena takut kesusahan untuk membawa nya kembali ke rumah dan tidak mau rakus. Sang nenek pun berkata lagi jika labu itu harus dibuka pada saat bawang putih sudah sampai rumah.

Sesampainya di rumah ibu tiri dan bawang merah menertawakan karena membawa labu yang kecil. Namun ketika bawang putih membelah labu tersebut tanpa disangka terpancar cahaya keemasan yang ternyata isinya adalah perhiasan, permata, dan emas. Ibu tiri dan bawang merah pun terkejut, isi dari labu tersebut pun direbut oleh mereka.

Setelah kejadian itu mereka berdua pergi ke sungai dengan maksud meniru Bawang Putih. Mereka berpura-pura kehilangan selendang dan menelusuri sungai hingga tiba di gua yang sama. Namun saat nenek itu meminta bantuan, mereka bekerja asal-asalan dan tidak tulus. Ketika diminta memilih labu, Bawang Merah langsung mengambil yang besar, berharap mendapatkan emas lebih banyak. Karena tidak sabar mereka membuka labu tersebut di saat perjalanan pulang, bukan emas ataupun permata yang didapat melainkan ular dan kalajengking. Mereka berdua ketakutan, dan semenjak saat itu mereka berdua menyesali sifat serakah mereka

Suatu malam, sewaktu bawang putih hendak merapikan barang-barangnya tana sengaja Bawang Putih menemukan kunci kecil berukir bunga mawar di antara perhiasan dari labu yang pernah diberi sang nenek waktu . Malam berikutnya, ia bermimpi tentang taman istana yang megah dan suara lembut yang berkata, “Temukan gerbang mawar, dan kau akan tahu kebenaran.” Keesokan paginya, Bawang Putih mengikuti petunjuk mimpinya dan tiba di reruntuhan batu di tengah hutan.

Ia menemukan ukiran mawar di dinding batu, lalu memasukkan kunci kecil itu dan tiba- tiba batu besar bergeser, membuka jalan menuju ruang bawah tanah dengan cahaya kristal berkilau. Di dalamnya berdiri cermin besar berbingkai emas. Saat Bawang Putih mendekat, pantulannya berubah menjadi sosok wanita bergaun putih. Wanita itu berkata, “Kau adalah pewaris kerajaan yang hilang. Hanya hati yang tulus yang bisa memulihkan kedamaian tempat ini.”

Wanita itu berkata bahwa kutukan kerajaan hanya bisa hilang jika Bawang Putih memaafkan mereka yang telah menyakitinya. Walau berat, Bawang Putih mengajak ibu tiri dan Bawang Merah ke tempat itu. Di depan cermin ajaib, ia menggenggam tangan mereka dan berkata, “Aku memaafkan kalian.” Air mata mengalir, dan cermin memancarkan cahaya yang mengubah gua itu menjadi taman penuh bunga mawar.

Dari dalam cahaya, muncul sang ratu, sosok yang menyerupai peri. Ia tersenyum dan berkata, “Kutukan telah berakhir. Kebaikan dan pengampunan kalian telah membawa cahaya kembali.” Ratu itu menepuk pundak Bawang Putih dan berkata, “Kau seperti Cinderella yang berhati lembut, seperti Snow White yang membawa kedamaian, dan seperti Rapunzel yang bersinar karena ketulusan.”

Cermin air itu juga menampilkan kisah lain yaitu kisah putri salju yang terusir dari istana dan harus bersembunyi di hutan, Lalu Rapunzel yang terkurung di menara yang tinggi namun tetap bisa bernyanyi, dan Beauty and the Beast yang melihat kebaikan dibalik sosok yang buruk rupa. Bawang putih mengerti, meski berasal dari negeri dan budaya yang berbeda namun mereka semua mengalami hal yang serupa yaitu menemukan kekuatan melalui penderitaan.

Sejak hari itu, mereka hidup damai dan saling menyayangi. Ibu tirinya dan Bawang Merah berubah menjadi orang baik. Di hutan, tempat gerbang mawar berdiri, kini tumbuh taman indah yang berkilau setiap malam. Orang-orang percaya, itu adalah berkah dari kerajaan yang telah terhapus kutukannya. Bawang Putih pun hidup bahagia, tidak dengan kemewahan, tetapi dengan hati yang damai dan keluarga yang utuh.(*)

Oleh Noor Hamamah Faustina