Dari Hutan ke Panggung: Pesona Lincah Kethek Ogleng

Malam itu angin berembus lembut berhias rembulan temaram. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara gamelan yang mengalun ringan, mengundang rasa penasaran. Aku dan temanku, Rina, melangkah menuju balai desa yang diterangi lampu minyak dan lampu panggung sederhana. Di sanalah, pertunjukan Kethek Ogleng akan dimulai.

“Dengar itu, Rin,” kataku pelan. “Nada gamelannya seperti berbunyi gleng-gleng. Mungkin dari situlah nama Ogleng berasal.”

Rina mengangguk sambil tersenyum. “Iya, aku pernah baca, kethek itu artinya kera dalam bahasa Jawa. Jadi Kethek Ogleng berarti tarian kera yang mengikuti suara gamelan. Lucu ya, ternyata simple sekali asal namanya.”

Tiba-tiba dari balik panggung muncul sosok penari dengan kostum menyerupai kera. Gerakannya lincah dan spontan: meloncat, menoleh, menjentikkan tangan, bahkan menekuk lutut seolah benar-benar seekor kera yang riang. Penonton tertawa kecil setiap kali penari itu berinteraksi dengan pemain gamelan atau penonton di barisan depan.

Aku terpana. “Hebat sekali. Gerakannya tampak bebas, tidak seperti tari klasik yang penuh aturan.Bukankah ini nampak baru? Kita biasa menjumpai tarian yang anggun, elegan, tapi ini Nampak penuh gairah kebebasan.”

Rina menimpali, “Memang begitu. Kethek Ogleng ini sudah ada sejak sekitar tahun 1967, loh. Jadi termasuk ikon budaya Wonogiri.”

Aku mengangguk kagum. Sementara itu, penari di panggung tak hanya menari. Ia mulai menampilkan fragmen drama kecil tentang seekor kera yang kehilangan kelompoknya dan berkelana mencari jati diri. Gerakan dan ekspresi wajahnya begitu hidup hingga penonton ikut terbawa suasana.

“Rin, aku jadi merasa seperti melihat kisah kehidupan manusia juga,” bisikku. “Ada perjuangan, kesetiaan, dan pencarian jati diri.”

“Benar,” jawabnya. “Banyak seniman bilang Kethek Ogleng itu bukan sekadar hiburan, tapi juga cermin nilai-nilai moral.”

Saat pertunjukan berlanjut, aku memperhatikan beberapa penonton muda sibuk merekam video di ponsel mereka. Aku tersenyum lega—setidaknya masih ada minat dari generasi muda.

“Sayangnya, kelompok seni seperti ini makin sedikit,” kata Rina lirih. “Anak muda sekarang lebih suka hiburan digital. Padahal di Wonogiri ada sanggar-sanggar budaya yang terus berjuang melatih penari muda agar tradisi ini tidak punah. Namun tak ayal, minat generasi muda semakin menurun dari waktu ke waktu.”

Aku menatap panggung dan berkata pelan, “Mungkin kuncinya ada di kita, Rin. Kalau semua orang ikut peduli, misalnya lewat media sosial, sekolah bisa adakan ekstrakurikuler tari tradisional, atau pemerintah buat festival rutin, pasti Kethek Ogleng bisa terus hidup.”

Rina tersenyum. “Seperti festival di Alun-Alun Giri Krida Bakti kemarin, kan? Puluhan kelompok tampil, dan penontonnya ramai sekali. Aku harap itu jadi awal kebangkitan.”

Suara gamelan perlahan melambat, penari terakhir menunduk memberi hormat. Sorak dan tepuk tangan menggema di udara Wonogiri malam itu. Aku menatap ke arah panggung dengan perasaan hangat.

“Indah sekali,” kataku. “Kethek Ogleng bukan hanya tari rakyat, tapi warisan yang hidup. Semoga nanti anak-anak kita masih bisa menontonnya seperti malam ini.”

Rina menatapku dan mengangguk. “Selama masih ada orang yang mencintai budaya, tarian ini akan tetap menari di antara gamelan dan tawa penonton.”

Kami mengakhiri malam itu dengan renungan mendalam. Tanggung jawab besar yang perlahan berpindah ke pundak-pundak kami, generasi muda Indonesia.

“Mari pulang, Rin. Besok kita buat program tentang Kethek Ogleng di sekolah. Mari beraksi!” sorak semangatku keras membara Bersama dengan hangatnya pelukan malam.

“Ayo!” timpal Rina sembari menggandeng tanganku menuju jalan pulang.(*)

Oleh Reftha Pramudita Widyananda Saputri