Di tanah berhawa sejuk di sepanjang aliran Sungai Serayu, antara hamparan sawah yang menunduk dan perbukitan yang berlapis kabut, berdiri sebuah wilayah yang dahulu dikenal dengan nama Kadipaten Wirasaba. Kadipaten ini menjadi saksi perjalanan sejarah panjang yang berakar sejak masa akhir Kerajaan Majapahit, jauh sebelum Jawa Tengah mengenal bentuk pemerintahan modern. Di antara para penguasa yang pernah memerintah di tanah subur ini, satu nama tetap abadi dalam ingatan rakyat “Adipati Warga Utama I”, yang dikenal pula sebagai Adipati Wirasaba VI. Ia adalah pemimpin yang arif, pemegang teguh kesetiaan, dan simbol kehormatan bagi masyarakat Wirasaba hingga kini.
Pada masa itu, sekitar abad ke-16, kekuasaan besar di Jawa dipegang oleh Sultan Hadiwijaya dari Kesultanan Pajang. Adipati Warga Utama I memerintah Wirasaba dengan tangan teduh: rakyat hidup makmur, perdagangan berjalan, dan pertanian di lembah Serayu menghasilkan panen berlimpah. Namun, seperti kisah-kisah besar dalam sejarah Nusantara, takdir kadang tak berpihak pada yang setia. Kesetiaan sang adipati justru menjadi awal dari tragedi yang membuat namanya dikenang selama berabad-abad.
Suatu hari, Sultan Pajang mengeluarkan perintah kepada seluruh adipati di tanah Jawa. Masing-masing diminta menyerahkan seorang putri untuk menjadi pelara-lara, penari istana dan tanda bakti kepada Sultan. Sebagai pemimpin yang tunduk pada perintah, Adipati Wirasaba dengan berat hati menyerahkan putri tercintanya, Raden Rara Sukartiyah, gadis anggun yang dikenal berbudi pekerti halus dan setia kepada orang tua. Namun malang, kabar dusta datang menerpa. Tersebar fitnah bahwa sang putri telah kehilangan kehormatannya sebelum menikah. Tanpa memberi ruang bagi kebenaran, Sultan murka dan memerintahkan agar sang adipati dihukum mati.
Dalam perjalanan pulang dari Pajang menuju Wirasaba, di bawah langit senja Desa Bener (yang kini masuk wilayah Purworejo), pasukan kerajaan menghadang rombongan sang adipati. Menurut tutur rakyat, Adipati Warga Utama I tidak melawan. Ia hanya tersenyum lirih dan berkata, “Jika kesetiaan harus dibayar dengan darah, maka biarlah darah ini menjadi saksi.” Tak lama kemudian, tombak menembus dadanya, dan tubuhnya rebah dalam diam. Tempat di mana ia gugur kini diyakini sebagai tanah keramat, dan masyarakat setempat masih menziarahinya sebagai bentuk penghormatan pada penguasa yang wafat dengan kehormatan.
Kabar kematiannya menyebar cepat ke Wirasaba. Istana diliputi duka, rakyat meratap, dan nama sang adipati menjadi doa dalam setiap upacara adat. Saat Sultan Pajang memanggil keluarga Kadipaten Wirasaba untuk menghadap, tak seorang pun berani datang, kecuali satu orang menantu bernama Raden Joko Kahiman. Keberaniannya membuat Sultan terkesan. Ia kemudian diangkat menjadi penerus dengan gelar Adipati Warga Utama II atau Adipati Mrapat. Untuk menjaga kedamaian keluarga dan kestabilan wilayah, ia membagi Kadipaten Wirasaba menjadi empat bagian, yakni Banjar Petambakan, Merden, Wirasaba, dan Kejawar. Pembagian yang menjadi cikal bakal munculnya wilayah-wilayah penting di Jawa Tengah bagian barat.
Menurut legenda yang masih dipercaya masyarakat hingga kini, sebelum wafat Adipati Warga Utama I meninggalkan beberapa pesan yang menjadi pitutur luhur bagi keturunannya. Pesan itu berbunyi:”Aja lelungan ing dina Sabtu Pahing, aja ngingu jaran wulu dhawuk abrit, aja mangan pindhang banyak, lan aja manggon ing bale malang.”
Dalam bahasa Indonesia, pesan itu berarti larangan untuk bepergian pada hari Sabtu Pahing, memelihara kuda berwarna abu kemerahan, memakan daging angsa, dan tinggal di balai yang melintang. Masyarakat percaya, pantangan itu berkaitan dengan simbol-simbol peristiwa wafatnya sang Adipati sebagai tanda agar keturunannya selalu waspada dan berhati-hati menghadapi hidup.
Berabad-abad kemudian, nama Adipati Wirasaba tetap hidup dalam ingatan rakyat. Di Desa Klampok, Banjarnegara, makamnya berdiri teduh di bawah naungan pohon tua, menjadi tempat ziarah dan doa bagi mereka yang ingin mengenang jejak leluhur. Dari kisah hidupnya, masyarakat belajar bahwa kesetiaan sejati tidak selalu berujung manis, tetapi meninggalkan jejak kemuliaan yang tak lekang oleh waktu. Adipati Wirasaba adalah lambang kehormatan, keberanian, dan kebijaksanaan, serta nilai-nilai luhur yang menjadi dasar kehidupan masyarakat di sepanjang aliran Sungai Serayu.
Dan di setiap desir angin yang melewati lembah Wirasaba, masyarakat masih berbisik pelan: ”Sang Adipati tidak mati oleh fitnah, sebab namanya hidup di antara kesetiaan dan doa yang tak pernah padam.”(*)
Oleh Shafa Nur Fridayanti