Melayang di Langit, Menjejak di Tanah: Asal-Usul Desa Leyangan

Pada masa penjajahan Belanda, Mahesa Tatit dan Nyi Melati memimpin suatu pelarian dari Yogyakarta menuju tempat yang jauh di balik hutan belantara. Pelarian ini terpaksa dilakukan agar terhindar dari cengkeraman penjajah. Meninggalkan kampung halaman, menembus hutan, mereka membawa harapan untuk terbebas dari belenggu penjajahan. 

Dari perjalanan yang panjang, tibalah mereka di tempat sunyi tak berpenghuni di balik rimbunnya pepohonan. Meskipun jauh dari keramaian, setidaknya mereka aman dari tekanan penjajah. Tempat itu adalah tanda terima kasih yang diberikan Keraton Yogyakarta kepada Mahesa Tatit atas jasanya, sehingga dihadiahkanlah tanah tersebut sebagai imbalan.

Seiring berjalannya waktu, tempat yang awalnya sepi mulai berubah karena jumlah pengungsi yang kian bertambah. Dengan penuh keyakinan, Nyi Melati mengajak para pengungsi bergotong royong membangun pemukiman yang aman dan nyaman untuk memulai kehidupan baru. Dari situlah, tempat yang semula hanya sekadar tempat persembunyian, berkembang menjadi sebuah perkampungan dengan penduduk dan struktur sosialnya sendiri. 

Selain Mahesa Tatit dan Nyi Melati, para tokoh desa seperti Kyai Kopeng, Nyai Glendeng, Simbah Cokro, dan Demang Surodiponyo muncul sebagai pilar kekuatan masyarakat, mereka mengusahakan keberlangsungan desa yang aman dan makmur. Setiap tokoh yang berperan memiliki jasa yang tak ternilai. Nyai Melati, sebagai pelarian yang berjuang demi keselamatan, menjadi simbol keteguhan dan keberanian. Kyai Kopeng dan Nyai Glendeng dikenal sebagai tokoh spiritual dan penuntun masyarakat dalam menjalankan adat dan kepercayaannya. Sementara Simbah Cokro dan Demang Surodiponyo menyumbang kekuatan struktur pemerintahan desa, menjaga keamanan dan kedamaian bersama Mbah Mahesa Tatit.

 Suatu hari, terjadi fenomena yang menghebohkan warga. Mereka melihat kain panjang seperti selendang yang tidak diketahui asalnya, melayang di langit. Kain itu bergerak indah dari arah barat ke timur seakan menari-nari di atas desa. Warga berbondong-bondong menyaksikan sembari menyerukan kalimat “ana kain ngleyang” yang artinya ada kain melayang. 

Kata ngleyang itulah yang menjadi cikal bakal nama Desa Leyangan. Sebelumnya, kain yang melayang itu sempat jatuh di Desa Beji yang berbatasan langsung dengan Desa Leyangan. Dimana salah satu warganya ada yang mengambil kain tersebut, lalu mencucinya dengan cara dikebrok-kebrok. Sehingga di Beji kemudian ada dusun yang dinamai Sikebrok. Ketika dijemur, kain itu kembali ngleyang sampai di Desa Leyangan. Bertepatan dengan jatuhnya kain warga pun menggelar selamatan atau sedekah desa. Mereka percaya bahwa roh leluhur mereka sedang menunjukkan keberkahan dan kekuatan desa.

Tradisi sedekah desa di Leyangan masih berlanjut hingga saat ini. Sedekah desa dilaksanakan ketika ada kepala desa yang terpilih dan setiap satu tahun sekali.  Acaranya digelar dengan meriah lengkap dengan pertunjukan wayang semalam suntuk. Dalang dari pagelaran wayang bisa berasal dari manapun, tetapi prinsip lakonnya harus menceritakan tentang pembangunan atau sosok pemimpin. 

Semula wilayah Desa Leyangan, hanya terdiri dari satu dusun yaitu Dusun Krajan. Seiring bertambahnya waktu, wilayah disekitarnya bergabung ke Desa Leyangan. Wilayah yang dimaksud meliputi Dusun Jetis, Dusun Lengkong, dan Dusun Kalikopeng. Dengan begitu, saat ini Desa Leyangan terdiri atas empat dusun. 

Mengenai sesepuh desa, makam mereka masih bisa ditemukan di masing-masing dusun. Ada makam yang dikeramatkan meskipun makam tadi berada di sekitar pemakaman umum. Ada makam Nyi Melati, Mbah Kopeng, Nyai Glendeng, Demang Surodipo atau Diponyono, Mbah Mahesa Tatit, Mbah Cokro. Contohnya makam Mbah Cokro dapat ditemukan di Dusun Krajan, tepatnya di seberang jalan Pemakaman Umum Secokro.

Pesan sesepuh yang disampaikan sejak awal terbentuknya desa secara turun temurun kepada pemimpin di Desa Leyangan yakni Hormatilah orang lain jika ingin dihormati. Kedua, modal pertama untuk membangun adalah kerukunan. Karena Desa Leyangan tidak hanya dihuni penduduk asli, karena maraknya pembangunan perumahan, maka siapapun penduduk di sini harus paham adat istiadat.

Dengan demikianlah, cerita tentang Desa Leyangan menjadi sebuah contoh akan kekuatan gotong royong dan persatuan dalam menghadapi tantangan hidup. Mereka tetap menjaga tradisi lama sambil menghadapi perubahan zaman dengan penuh semangat dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.(*)

Oleh Reviana Elis