Hidup Bukan Ihwal Kesempurnaan melainkan Proses

Pernahkah tebesit di benak kita, untuk apa sebenarnya kita hidup? Apa yang menjadi tujuan dari setiap langkah, setiap persoalan yang harus ditanggapi, dan setiap interaksi sosial yang kita jalani? Pertanyaan-pertanyaan ini adalah fondasi dari pencarian makna kehidupan. Perkenalkan, saya Zahra Nabila Mutiarani, mahasiswa semester 3 Pendidikan Tata Busana, Universitas Negeri Semarang. Saya mengangkat tema ini karena bagi saya, membahas makna hidup adalah hal yang sangat menarik dan antusias. Melalui tulisan ini, saya berharap dapat belajar dan bertindak lebih baik lagi ke depannya.

Jujur, saya dulunya adalah pribadi yang didominasi oleh sifat egois, agresif, dan arogan. Saya selalu ingin menjadi pusat perhatian dan merasa semua orang harus mengikuti apa kata saya. Kritik sekecil apa pun sulit saya terima. Ironisnya, semua perbuatan buruk yang saya lakukan justru adalah hal-hal yang paling saya benci dari orang lain.

Sifat-sifat ini pada akhirnya membawa konsekuensi. Saya pernah dijauhi teman sekelas, disindir, dan dihujani berbagai kritik yang menyakitkan hati. Rasa tidak nyaman dan sulit dijelaskan itu mulai mengganjal. Dalam perenungan mendalam, saya menemukan sebuah kesadaran: “Kamu tidak bisa selalu menjadi pemeran utama, tetapi kamu selalu bisa menjadi pemeran utama untuk ceritamu sendiri.” Sejak saat itu, saya bertekad untuk berubah, menimbang setiap tindakan, dan menentukan keputusan dengan lebih hati-hati.

Setelah bertekad menjadi pribadi yang lebih baik, saya sadar satu hal: kritik dan omongan tidak enak tidak akan pernah hilang. Itu adalah bagian yang tak terhindarkan dari kehidupan. Apa pun yang kita lakukan, pasti ada yang suka dan ada yang tidak suka.

Awalnya, saya sedih karena merasa upaya saya sia-sia. Namun, seiring waktu, saya belajar menyikapi hal itu dengan lebih lapang dada, atau seperti kata orang Jawa, “legawa.”

Mengejar kesempurnaan di mata orang lain adalah perlombaan tanpa garis akhir. Kita akan kelelahan sendiri. Semua kesuksesan dan kebaikan yang kita bangun bisa hilang dalam sekejap hanya karena satu kesalahan. Kita tidak harus sempurna di hadapan orang lain, tetapi kita harus memastikan bahwa kita tidak memiliki niat untuk menyakiti.

Terkait dengan kekhilafan, saya berpendapat bahwa setiap hal buruk yang menimpa kita mungkin juga merupakan buah dari perbuatan kita di masa lalu. Pandangan ini mungkin kontroversial, tetapi bagi saya, pemikiran ini justru membantu saya menjadi lebih lapang dada saat menerima perlakuan buruk dari orang lain. Alih-alih menyalahkan, saya akan beristighfar dan merenung, “Maafkan hamba, Ya Allah, jika hamba pernah melakukan hal seperti ini.”

Dengan cara ini, saya berhenti berusaha keras memuaskan manusia dan mulai fokus pada perbaikan diri.

Hidup adalah serangkaian pilihan. Setiap orang berhak memilih jalannya masing-masing. Bagi saya, setiap kejadian adalah ujian dan proses untuk menjadi versi diri yang lebih baik. Kita melihat berbagai jenis manusia: ada yang dulunya baik, terjerumus, lalu kembali baik; ada yang berubah dari buruk menjadi baik, meski kadang masih “kumat”; dan ada pula yang memilih jalan buruk hingga akhir hayat, dan lain sebagainya.

Semua jenis perjalanan ini, menurut saya tidak ada yang salah, karena itu adalah bagian dari proses pembentukan diri. Orang lain hanya bisa memberi nasihat dan mengarahkan, tetapi keputusan untuk berubah sepenuhnya ada di tangan individu itu sendiri.

Lalu, di tengah proses yang penuh ketidakpastian ini, siapakah yang dapat menjadi tempat bergantung? Jawabannya bukanlah orang tua, saudara, atau pasangan terkasih, melainkan diri kita sendiri dan yang paling utama, TUHAN kita. Meskipun setiap orang memiliki keyakinan berbeda, saya yakin seratus persen bahwa ketergantungan sejati harus berpusat pada Tuhan. Dialah pusat dari segala yang kita jalani. Meskipun manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi, ada pemahaman lain menurut saya: orang lain bisa menjadi batu loncatan yang membantu kita mencapai tujuan, tetapi kita harus tetap teguh pada pendirian diri. Mungkin terdengar sedikit kejam, tetapi intinya adalah setiap orang dapat menjadi guru yang berharga bagi kita. Yang baik dapat kita contoh, dan yang buruk dapat kita pelajari sebagai pelajaran.

Pada intinya, setiap orang memiliki alur cerita dan proses yang unik. Tidak ada manusia yang memiliki perjalanan hidup sama persis. Oleh karena itu, berhentilah mencari perhatian dengan drama yang tidak perlu. Jangan berharap semua orang peduli atau memihak, karena pada kenyataannya, banyak orang hanya melihat hasil akhir, tanpa memahami perjuangan panjang di baliknya.

Jalani hidup dengan keyakinan, syukuri setiap langkah, dan teruslah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Pada akhirnya, perjalanan ini hanyalah antara diri kita dan Tuhan, yang paling tahu tentang proses, usaha, dan niat tulus di dalam hati kita.(*)

Oleh Zahra Nabila Mutiarani