Polusi Udara di Kota Besar Semakin Parah, Warga Mulai Resah

Dalam beberapa bulan terakhir, kondisi udara di sejumlah kota besar di Indonesia semakin memburuk. Data dari lembaga lingkungan hidup menunjukkan bahwa tingkat polusi udara di Jakarta, Bandung, dan Surabaya meningkat tajam selama musim kemarau tahun ini. Warga mengeluh karena udara terasa lebih panas, berdebu, dan sering menyebabkan batuk serta iritasi mata.

Menurut keterangan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), meningkatnya polusi udara disebabkan oleh kombinasi antara aktivitas kendaraan bermotor, pembakaran sampah, dan penurunan curah hujan. “Saat curah hujan rendah, partikel polutan sulit turun ke tanah. Akibatnya, udara menjadi lebih kotor dan berbahaya untuk kesehatan,” ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Rina Nuraini pada hari Senin (28/10).

Namun, sebagian masyarakat menilai bahwa pemerintah kurang cepat dalam menangani masalah polusi. “Kami sering membaca berita tentang rencana pengurangan emisi, tetapi di lapangan tidak terasa ada perubahan yang signifikan,” kata Dedy, warga Jakarta Timur. Ia menambahkan bahwa pemerintah seharusnya memperbanyak ruang hijau dan membatasi kendaraan pribadi yang menyebabkan kemacetan.

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyatakan sudah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan kadar polusi. Salah satunya adalah dengan memperketat uji emisi kendaraan bermotor dan menambah armada bus listrik. Akan tetapi, menurut laporan harian yang diterbitkan oleh DLH, indeks kualitas udara Jakarta masih berada pada kategori tidak sehat.

Selain masalah transportasi, pembakaran sampah di permukiman juga menjadi penyumbang besar polusi udara. Banyak warga yang masih membakar sampah di halaman rumah karena dianggap lebih praktis dan cepat. Padahal, asap dari pembakaran tersebut mengandung zat beracun seperti karbon monoksida dan dioksin yang dapat membahayakan saluran pernapasan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan. “Kami sudah melakukan sosialisasi ke berbagai daerah, namun kesadaran masyarakat masih rendah. Banyak yang belum tahu bahwa asap pembakaran dapat lebih berbahaya dibanding asap kendaraan,” ungkap Direktur Pengendalian Pencemaran Udara KLHK, Dwi Rahmad.

Selain itu, fenomena El Nino juga disebut-sebut memperparah kualitas udara di Indonesia. Suhu udara yang lebih panas membuat polutan bertahan lebih lama di atmosfer. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya titik api akibat kebakaran lahan di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Akibatnya, langit di beberapa kota tampak kelabu dan jarak pandang menurun drastis.

Beberapa pakar lingkungan menilai bahwa masalah polusi udara tidak dapat diselesaikan hanya dengan kebijakan jangka pendek. “Pemerintah harus berani membuat aturan yang tegas, misalnya melarang kendaraan tua yang tidak lulus uji emisi atau memberikan insentif untuk penggunaan transportasi umum,” kata Profesor Mahendra dari Universitas Indonesia. Ia juga menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Banyak masyarakat yang menggunakan masker hampir setiap hari. Beberapa sekolah dasar bahkan sempat meliburkan siswanya karena kualitas udara yang memburuk. Para orang tua mengaku khawatir kesehatan anak-anak mereka akan terganggu jika kondisi ini terus berlangsung.

“Sekarang anak saya sering batuk dan pilek. Kalau keluar rumah sebentar saja, langsung terasa sesak,” ujar Maria, seorang ibu rumah tangga di Jakarta Barat. Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata agar udara di kota dapat kembali bersih seperti dulu.

Dalam upaya menekan polusi, pemerintah berencana menambah jumlah taman kota, memperluas jalur sepeda, dan memperbanyak kendaraan listrik di jalan raya. Namun, sejumlah pihak meragukan program tersebut bisa berjalan konsisten. Mereka menilai bahwa tanpa penegakan hukum yang kuat, berbagai rencana hanya akan menjadi wacana.

Para ahli juga menyoroti pentingnya pendidikan lingkungan di sekolah. Dengan membiasakan anak-anak memahami bahaya polusi dan cara menjaga udara bersih, diharapkan generasi mendatang dapat hidup lebih sadar lingkungan. Beberapa sekolah di Jakarta sudah mulai mengadakan program “Sekolah Hijau” yang mengajarkan siswa menanam pohon dan mengurangi sampah plastik.

Meski berbagai upaya telah dilakukan, banyak pihak menilai bahwa tantangan terbesar adalah perubahan perilaku masyarakat. Selama masyarakat masih terbiasa membuang sampah sembarangan, menyalakan kendaraan tanpa perlu, atau membakar sampah di pekarangan, maka kualitas udara tidak akan membaik dalam waktu dekat.

DAFTAR PUSTAKA

Badan meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (2025). Laporan Kondisi Kualitas Udara Nasional 2025. Jakarta: BMKG.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (2025). Data Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Indonesia Tahun 2025. Jakarta: KLHK.

Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta. (2025). Laporan Harian Indeks Kualitas Udara DKI Jakarta.

Kompas.com. (2025, 10 Oktober). “Polusi Udara Jakarta Kembali Buruk, Pemerintah Perluas Uji Emisi.” Diakses dari https://www.kompas.com/

CNN Indonesia. (2025, 12 Oktober). “El Nino dan Kualitas Udara: BMKG Peringatkan Dampak Lingkungan.” Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/

Tempo.co. (2025, 20 Oktober). “Ahli Lingkungan: Pembakaran Sampah Rumah Tangga Perlu Penegakan Hukum.” Diakses dari https://www.tempo.co/

Sinta, M. (2024). Pendidikan Lingkungan dan Kesadaran Iklim di Sekolah Dasar. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Nama: Kasih Bintang Fajar

NIM: 2502020050