Sebagai mahasiswa, saya sering merasa bahwa persoalan kesehatan mental bukan lagi sekadar isu tambahan, melainkan kebutuhan utama yang harus diperhatikan. Di era globalisasi dan teknologi digital seperti sekarang, kehidupan terasa semakin cepat dan kompetitif, dari keluarga dan seseorang merasa terjebak dalam tekanan yang sulit dikendalikan.
Masa remaja hingga awal dewasa, yakni sekitar usia 16-24 tahun, sebenarnya adalah masa pencarian jati diri. Kita sedang berusaha memahami siapa diri kita, apa tujuan hidup, dan bagaimana menghadapi dunia yang semakin kompleks. Namun, pada saat yang sama, kita dibebani berbagai tuntutan, seperti teman sebaya yang memberi tekanan agar kita selalu mengikuti tren, dosen yang menuntut pencapaian akademik tinggi, bahkan media sosial menampilkan kehidupan orang lain yang tampak sempurna. Semua itu menciptakan perasaan ‘tidak cukup baik’ dan secara perlahan melemahkan kesehatan mental kita.
Menurut pengalaman saya sendiri, tekanan terbesar datang dari dunia akademik. Tugas yang menumpuk, ujian beruntun, dan tuntutan agar selalu berprestasi sering kali membuat waktu terasa sangat terbatas. Rasanya seolah 24 jam tidak pernah cukup. Sementara itu, ada teman yang merasa sangat terbebani oleh hubungan percintaan. Konflik dengan pasangan, perasaan dikhianati, atau kekecewaan yang mendalam bisa menjadi pemicu stress berkepanjangan. Jika tidak diimbangi dengan kemampuan mengelola emosi, hal-hal ini dapat mengarah pada depresi dan kecemasan.
Media sosial yang seharusnya menjadi ruang hiburan justru sering menjadi sumber perbandingan sosial. Kita mudah merasa kurang percaya diri saat melihat pencapaian orang lain yang tampak gemilang. Komentar negatif atau cyberbullying juga bisa sangat memengaruhi kondisi psikologis. Tidak jarang mahasiswa jadi kehilangan rasa percaya diri karena merasa hidupnya tertinggal jauh dari orang lain.
Dampak dari kesehatan mental yang terganggu sangat luas. Bukan hanya menurunkan produktivitas akademik, tetapi juga memengaruhi relasi sosial dan kesehatan fisik. Saya melihat ada teman yang semangat belajarnya hilang, sering sakit, bahkan menarik diri dari pergaulan. Padahal, mahasiswa adalah generasi penerus bangsa. Jika sejak dini sudah rapuh secara mental, tentu kualitas pembangunan bangsa di masa depan juga akan terdampak.
Menurut saya, solusi paling sederhana bisa dimulai dari diri sendiri, seperti olahraga teratur, pola makan sehat, dan tidur cukup adalah langkah kecil yang sering diremehkan, padahal dampaknya sangat besar. Selain itu, saya percaya dukungan sosial dari keluarga, sahabat, atau komunitas juga sangat penting untuk menjaga kesehatan mental. Dukungan sosial membuat kita merasa didengar, dan beban mental terasa lebih ringan. Jika kondisi sudah sangat mengganggu, kita sebaiknya tidak ragu untuk mencari bantuan profesional. Konseling atau terapi bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk menjaga diri.
Namun, menjaga kesehatan mental tidak bisa hanya dibebankan pada individu. Pemerintah dan institusi pendidikan perlu hadir dengan kebijakan nyata. Program konseling kampus harus lebih mudah diakses, bukan sekadar formalitas. Edukasi tentang pentingnya kesehatan mental harus diperluas agar stigma negatif terhadap orang yang mengalami gangguan mental dapat berkurang. Saya yakin, dengan adanya dukungan sistem yang kuat, mahasiswa akan lebih siap menghadapi tekanan zaman.
Pada akhirnya, saya berpendapat bahwa kesehatan mental mahasiswa adalah fondasi masa depan bangsa. Kita tidak bisa menganggap remeh persoalan ini, karena mahasiswa adalah calon pemimpin, innovator, dan penggerak perubahan. Menjaga kesehatan mental berarti menjaga kualitas generasi. Karena itu, saya merasa penting untuk terus mengingatkan diri sendiri dan orang lain, bahwa kesehatan mental bukan hanya urusan pribadi, melainkan kepentingan bersama yang harus diperjuangkan.
SLAMET ARIANA RAHMAWATI