Judul: Laut Bercerita
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Jakarta
Tebal buku: 13,5 cm × 20 cm
Jumlah halaman: 379
Tahun terbit: Oktober 2017
ISBN: 978-602-424-694-5
Buku ini berlatar belakang kehidupan kumpulan mahasiswa pada tahun 1990-an. Kisah berfokus pada tokoh Biru Laut sebagai pemeran utama. Ia bersama teman-teman serta kelompok mahasiswa lainnya membentuk organisasi yang dianggap “terlarang” oleh pemerintah pada masa itu. Cerita menggambarkan keadaan politik ketika seorang pemimpin memegang jabatan selama puluhan tahun sebelum akhirnya ditumbangkan oleh rakyat.
Aksi penyaluran aspirasi mahasiswa yang seharusnya menjadi bentuk kepedulian terhadap kondisi negara justru membuat mereka menerima perlakuan yang tidak semestinya. Mereka tidak hanya diinterogasi, tetapi juga disiksa, dipukuli, disetrum menggunakan kabel, diinjak dengan sepatu bergerigi, bahkan dipaksa berendam dalam air es.
Novel ini tak hanya mengangkat pergerakan mahasiswa, tetapi juga menghadirkan kehangatan rumah, cinta yang tak lekang oleh waktu, persahabatan yang kuat, serta pengkhianatan seorang kawan yang ternyata menjadi lawan. Cerita ini sekaligus mengingatkan pembaca untuk berhati-hati terhadap orang lain, sebab pada akhirnya yang harus paling kita percayai adalah diri sendiri.
Kelebihan
Buku ini menggambarkan keadaan Indonesia pada masa itu dengan sangat hidup. Peristiwa-peristiwa yang ditampilkan bukanlah sesuatu yang asing bagi sejarah Indonesia, terutama pada masa Orde Baru. Terdapat pula fakta tentang larangan membawa atau membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer yang dianggap dapat “merusak” pikiran rakyat. Kisah mengenai mahasiswa yang diculik juga terasa relevan, mengingat kejadian serupa masih terjadi pada masa kini ketika demonstrasi berlangsung.
Buku ini sangat direkomendasikan untuk mahasiswa maupun masyarakat umum agar dapat merefleksikan perjalanan bangsa. Selain itu, cerita ini juga dibumbui kisah cinta yang epik. Penulis menggambarkan setiap objek cerita dengan sensual dan alami sehingga membuat alurnya terasa hidup. Salah satu contohnya terlihat pada penggambaran tokoh Anjani oleh Asmara:
“Betapa hancurnya wajah Anjani yang cantik itu. Kini dia kelihatan kusam, rambutnya tidak pernah bersentuhan dengan sampo, baju yang mungkin dia ambil dari keranjang pakaian kotor, dan jari-jarinya yang jorok dengan kuku yang hitam membuat Anjani mirip kaum Hippies tahun 1965 yang konon malas mandi.”
Kekurangan
Cerita dalam buku ini sering melompat antara waktu sebelum, sesudah, dan masa ketika para tokoh menjadi buronan, sehingga beberapa pembaca perlu berkonsentrasi lebih agar tidak kehilangan orientasi waktu dan tempat. Meskipun tokoh utama (Biru Laut) dan keluarganya tergambar kuat, beberapa tokoh sampingan terasa kurang “hidup” atau kurang memiliki latar belakang yang mendalam sehingga motivasi mereka tidak selalu jelas.
Sebagian pembaca juga menilai dialog antarteman aktivis atau keluarga terdengar terlalu formal sehingga kurang mencerminkan suasana percakapan dalam kondisi perjuangan dan ketegangan. Selain itu, terdapat beberapa kesalahan ketik seperti kata ganda atau perubahan huruf yang keliru. Walaupun tidak terlalu mengganggu, kesalahan ini tetap bisa menurunkan kenyamanan membaca.
Karena novel ini menggambarkan penyiksaan, penghilangan paksa, dan penderitaan keluarga, pembaca yang sensitif terhadap kekerasan mungkin merasa tidak nyaman. Bahasa yang digunakan juga cukup berat untuk ukuran novel fiksi, meski sebenarnya novel ini tidak sepenuhnya fiksi karena mengandung unsur kisah nyata. Oleh karena itu, novel ini sebenarnya kurang cocok untuk pembaca tingkat SMA, apalagi di bawahnya, karena terdapat sejumlah adegan dewasa.
MARISAH