FILM “NOBODY KNOWS”

  1. SPESIFIKASI FILM

Sutradara            : Hirokazu Koreeda        

Penulis Naskah  : Hirokazu Koreeda

Produser             :  Hirokazu Koreeda       

Pemain Utama   :  Yuya Yagira, Ayu Kitaura, Hiei Kimura, Momoko Shimizu, Hanae Khan

Musik                 :  Gonzales Mikami, Titi Matsumura    

Sinematografi     :  Yutaka Yamazaki

Editor                 :  Hirokazu Koreeda       

Studio                :  Cinequanon, Bandai Visual    

Durasi Film        :  141 menit

Genre                 :  Slice of life, Coming of age, Drama

Tanggal Rilis      :  7 Agustus 2004

  • SINOPSIS FILM

Film Nobody Knows (Dare Mo Shiranai/誰も知らない)  menceritakan kisah sesorang ibu tunggal Keiko Fukushima (You) pindah ke apartemen baru bersama putranya yang berusia 12 tahun, Akira (Yuya Yagira). Mereka menyapa pemilik apartemen, dan Keiko memperkenalkan Akira sebagai satu-satunya anaknya. Ia juga menjelaskan bahwa ayah Akira sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis.

Setelah mereka menata barang-barang di apartemen baru, dalam koper ternyata keluar dua anak Keiko yang lain, Shigeru dan Yuki (Hihei Kimura, Momoko Shimizu). Lalu Akira pergi sendiri ke stasiun kereta untuk menjemput adiknya yang lain, Kyoko (Ayu Kitaura).

Ketika semua anak sudah berkumpul, mereka makan malam pertama di apartemen baru itu. Keiko menjelaskan aturan main yaitu tidak boleh berisik dan tidak ada yang boleh keluar rumah kecuali Akira. Jika melanggar, mereka akan diusir seperti di apartemen sebelumnya. Setelah itu, Keiko pergi bekerja di sebuah toko serba ada, meninggalkan Akira untuk menjaga adik-adiknya.

Tak lama kemudian, Keiko bertemu pacar baru dan semakin jarang pulang. Hingga pada suatu hari, ia seolah benar-benar meninggalkan anak-anaknya. Dengan uang yang hampir habis, Akira harus merawat saudara-saudaranya seorang diri sambil menyadari bahwa jika ia gagal, mereka semua akan dipisahkan ke panti asuhan.

  • ANALISIS FILM

Nobody Knows adalah salah satu film yang cukup underated atau jarang diketahui oleh orang lain. Film panjang berdurasi 141 menit ini memenangkan Penghargaan Oscar untuk kategori “Film Berbahasa Asing Terbaik”. Pemeran utama, Yuya Yagira yang pada saat itu berusia 14 tahun, meraih penghargaan untuk kategori “Aktor Terbaik” pada Festival Film Cannes 2004.

Film ini diangkat dari kisah nyata ‘Sugamo Child Abandonment Case’ atau Kasus penelantaran anak di Sugamo pada pada tahun 1988. Peristiwa ini melibatkan seorang ibu dengan empat anaknya. Sang ibu menelantarkan empat anaknya selama 9 bulan dan mengakibatkan kematian salah satu dari mereka. Media Jepang tidak pernah mempublikasikan nama-nama dari anak-anak tersebut, mereka hanya disebut sebagai anak A, B, C, D dan E (Anak ketiga meninggal tak lama setelah dilahirkan). Insiden ini diliput oleh media internasional dan mendapat perhatian dari banyak pihak. Ada banyak perbedaan film ini dengan kisah aslinya, di mana dikatakan versi filmnya dibuat lebih manusiawi dari keadaan sebenarnya.

Pada film difokuskan menyorot kehidupan dari anak-anak yang ditelantarkan ibunya dan tidak diceritakan alasan khusus sang ibu meninggalkan anak-anaknya. Dalam film ini, tidak banyak diiringi dengan soundtrack atau musik penggiring, sehingga kita lebih terbawa masuk dalam film bagi orang yang menyukai realisme. Akan tetapi, bagi sebagian orang ini adalah kekurangan dari film tersebut karena akan terasa suasana sepi dan kurang emosional. Bagi sebagian penonton, realisme dalam film ini meninggalkan rasa hampa dan kosong saat setelah selesai menontonnya. Uniknya di film ini tidak menampilkan adegan menangis sama sekali yang biasanya ketika ada adegan di mana tokoh utama menangis, penonton akan terbawa suasana ikut menangis. Kesedihan dan kehampaan film ini disalurkan melalui tatapan sorot mata aktor yang memancarkan emosi hampa dan putus asa dari seorang anak yang ditelantarkan oleh ibunya. Aktor tersebut ialah Yuya Yagira (Akira), melalui film Nobody Knows ini ia memulai debut aktingnya di layar lebar. Pada saat itu memerankan peran sebagai anak pertama yang dipaksa menjaga ketiga adiknya. Walau mereka berbeda ayah, Akira (Yuya Yagira) tetap menjaga dan merawat mereka. Sebelum sang ibu meninggalkan Akira (Yuya Yagira) yang pada saat itu izin pergi bekerja di Osaka, ia memberi uang ke Akira (Yuya Yagira) untuk digunakan hidup dengan adiknya sampai dirinya pulang. Hari demi hari mereka menunggu kepulangan dari ibunya. Akira (Yuya Yagira) sudah menebak bahwa sang ibu akan meninggalkan dirinya dan adiknya demi bersama dengan pacar barunya. Akira (Yuya Yagira) mencoba menghubungi ibunya tetapi tidak ada jawaban. Hingga suatu ketika, di apartemennya terdapat kiriman uang yang berasal dari ibunya.

Selain menyorot tentang anak yang ditelantarkan oleh orangtuanya, film ini juga menampilkan sedikit adegan di mana terjadi pembullyan pada kalangan anak-anak. Saki (Hanae Khan) yang pada saat itu berada di sekolah dibully oleh teman-temannya, yang bahkan seseorang itu tidak pantas disebut teman. Saki berasal dari keluarga berkecukupan, tetapi ia tidak mendapatkan kasih sayang dari keluarga tersebut. Dari situlah pertemanan Saki (Hanae Khan) dan Akira (Yuya Yagira) terjalin. Mereka bermain bersama. Keadaan yang hampir sama membuat mereka dekat satu sama lain. Tak jarang Saki (Hanae Khan) mengunjungi apartemen Akira (Yuya Yagira) dan adik-adiknya tinggal. Suasana di apartemen itu berantakan dan bau. Lama-kelamaan uang yang diterima Akira (Yuya Yagira) dari ibunya habis. Hal itu membuat air dan listrik di apartemen itu diputus karena Akira (Yuya Yagira) tidak membayar sewa apartemen. Mereka bahkan tidak sanggup membeli makanan. Terkadang Akira (Yuya Yagira) mengandalkan pemberian makanan yang hampir basi dari pekerja paruh waktu di minimarket. Lebih parahnya lagi, dari salah satu adik Akira (Yuya Yagira) terpaksa memakan kertas karena sudah tidak ada makanan di apartemen. Mengetahui keadaan sahabatnya tersebut, Saki (Hanae Khan) ingin membantu Akira (Yuya Yagira) mendapatkan uang. Ia terpaksa menjadi pemandu karaoke dengan pria paruh baya. Melihat itu, Akira (Yuya Yagira) marah dan menolak uang pemberian Saki (Hanae Khan). Adegan ini menggambarkan bahwa anak yang dewasa sebelum waktunya. Eksploitas anak dengan mudah dilakukan tanpa memikirkan apa yang akan terjadi pada kesehatan mental anak tersebut. Anak-anak yang seharusnya bermain dan belajar, terpaksa masuk dalam dunia gelap dan kehilangan masa kanak-kanaknya. Ini menjadi peringatan bagi orangtua untuk senantiasa mendampingi anaknya dan membuat mereka merasa aman.

Pada akhir dari film, salah satu adik dari Akira (Yuya Yagira) yaitu Yuki (Momoko Shimizu) meninggal dunia karena terjatuh dari kursi dan dibiarkan tanpa pertolongan medis hingga keesokan harinya. Besoknya, Akira (Yuya Yagira) dan Saki (Hanae Khan) memutuskan untuk mengubur jasad Yuki (Momoko Shimizu) di dekat bandara dengan memasukkan jasad Yuki (Momoko Shimizu) melalui koper. Bukan tanpa alasan Akira (Yuya Yagira) mengubur jasad adiknya di dekat bandara. Dari dulu, Akira (Yuya Yagira) sudah berjanji kepada Yuki (Momoko Shimizu) akan menunjukan pesawat. Sekarang, adiknya bisa melihat pesawat setiap hari dengan tenang. Adegan ini menggambarkan anak yang tidak diketahui identitasnya yang pada saat itu, Yuki (Momoko Shimizu) memang tidak memiliki akta kelahiran harus hidup dalam persembunyian yang tidak diketahui masyarakat.

Hari demi hari terus berlanjut. Mereka melanjutkan hidup mereka seperti pada hari sebelumnya. Di ending film tidak diperlihatkan apa yang terjadi kepada mereka. Penonton dibuat berimajinasi dengan pikiran mereka masing-masing. Meski tragedi besar sudah terjadi, kehidupan mereka terus berjalan. Hal ini menunjukkan betapa kerasnya kehidupan pada anak-anak yang bahkan tidak bisa memilih nasib mereka sendiri. Kerasnya kehidupan yang merenggut masa kanak-kanak mereka. Film ini menyinggung bahwa orangtua harus bertanggung jawab dengan kehidupan anak-anak mereka. Peran masyarakat juga sangat berpengaruh dalam kehidupan anak-anak. Ketidakpedulian masyarakat inilah yang menjadi masalah, karena sama saja mereka juga ikut andil dalam menelantarkan anak-anak. Masyarakat diam dan seolah tidak melihat apa yang terjadi pada anak-anak tersebut. Semua orang memang berhak untuk menikah dan memiliki anak, tapi tidak semua orang pantas menjadi orangtua. Anak tidak diminta dilahirkan. Maka dari itu, berikanlah kehidupan yang nyaman dan aman bagi anak tersebut. Kesimpulannya, Nobody Knows menyinggung rapuhnya institusi keluarga, hilangnya kepedulian sosial, dan kenyataan bahwa anak-anak sering jadi korban paling sunyi dari kegagalan orang dewasa.

MISWA SYITA