Perilaku anak-anak zaman sekarang telah menjadi sorotan dan kekhawatiran banyak orang tua, guru, dan masyarakat luas. Tidak jarang kita mendengar keluhan tentang anak-anak yang menunjukkan sikap agresif, kurang sopan, bahkan perilaku toxic yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Kondisi ini adalah tanda bahwa terdapat sesuatu yang salah dalam proses tumbuh kembang mereka. Anak-anak yang seharusnya menjadi generasi emas, justru malah menghadapi tantangan besar dalam membentuk karakter yang positif. Maka dari itu, diperlukan pemahaman lebih dalam apa yang menjadi akar permasalahannya.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi perilaku negatif tersebut ialah kebiasaan anak menonton video di handphone. Di era digital sekarang ini, anak-anak sangat mudah sekali dalam mengakses bermacam-macam konten. Sayangnya, tidak semua konten yang mereka tonton itu dapat mendidik atau sesuai dengan usia mereka. Bukannya mendidik malah memperkeruh keadaan. Video yang mereka tonton justru mengandung unsur kekerasan, kata-kata kasar atau perilaku tidak pantas. Hal itu dapat memengaruhi pola pikir dan sikap anak menjadi tidak baik.
Anak muda sekarang tumbuh dengan kebebasan menggunakan ponsel tanpa adanya batasan. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, ponsel selalu tergenggam di tangan mereka. Mereka bisa melihat apa saja melalui layer handphone, tanpa adanya filter yang jelas dari orang tua. Masalahnya, video yang mereka tonton bukanlah tontonan yang pantas untuk anak seusianya, melainkan konten tidak sopan, penuh ujaran kebencian, bahkan perilaku yang jauh dari adab. Ada juga sebuah konten di mana ada beberapa anak yang sedang bermain, namun konteks dari video itu malah menjadi pembullyan. Pembuat video seharusnya dapat mempertimbangkan bagaimana agar konten yang ia buat bisa memberikan hal positif kepada anak.
Kurangnya pengawasan dari orang tua juga menjadi salah satu penyebab utama dari permasalahan ini. Adanya kesibukan yang dimiliki orang tua dengan pekerjaannya, hal tersebut membuat mereka lupa untuk memberikan ajaran dasar sopan santun. Ketika orang tua lelah bekerja mereka malah memilih untuk bermain handphone untuk beristirahat. Padahal anak sudah menunggu untuk bercerita tentang kesehariannya. Terkadang memang orang tua mau mendengarkan, namun mereka tidak mendengar serius cerita si anak, sehingga anak merasa bahwa dirinya tidak didengar dengan baik. Karena anak merasa seperti itu maka anak cenderung bermain handphone. Jika dibiarkan terus menerus makan hubungan dalam keluarga tersebut menjadi kurang harmonis dan hubungan antara orang tua dan anak pun dapat renggang karena siibuk dengan handphone mereka massing-masing.
Lingkungan pergaulan anak juga sangat berpengaruh, di mana anak-anak cenderung meniru gaya bicara dan perilaku teman-temannya, baik di dunia nyata maupun maya. Terkadang dalam pergaulan anak dapat diterima dalam suatu kelompok pertemanan itu dengan bisa meyesuaikan atau beradaptasi dengan temannya. Maka anak pun cenderung meniru perilaku teman-temannya agar dapat bergabung ke dalam pertemanan. Padahal ia tidak memgerti apakah yang dilakukan temannya itu sudah baik atau belum.
Kondisi seperti ini juga berpengaruh dalam lingkungan sekolah si anak, sehingga dapat mengganggu dan merugikan dalam pembelajaran di sekolah. Mereka kurang mengerti bagaimana menghargai dan menghormati guru, teman, serta warga sekolah lainnya. Beberapa perilaku tidak pantas yang dilakukan seperti berbicara kasar, membantah guru, atau tidak mematuhi peraturan mereka lakukan begitu saja tanpa ada rasa takut dan empati. Hal itu membuat proses pembelajaran terganggu dan menurunkan motivasi guru. Guru harus mengeluarkan energi lebih dan waktu tambahan untuk menegakkan disiplin, sehingga fokus pada pembelajaran menjadi berkurang. Selain itu, anak seperti itu juga dapat membuat Tindakan bullying kepada temannya.
Jika permasalahan ini dibiarkan terus-menerus dapat berpengaruh tidak baik pada kehidupan mereka di masa depan. Mereka akan menjadi emosional, sulit bekerja sama dengan orang lain, dan sulit berkomunikasi dengan baik. Nilai-nilai sosial seperti empati dan rasa hormat akan semakin luntur dan bisa saja hilang, sehingga anak kehilangan kemampuan untuk membedakan mana perilaku yang pantas dan tidak. Akibatnya konflik akan mudah terjadi karena sikap mereka yang kurang baik, sehingga lingkungan rumah dan sekolah tidak nyaman.
Berubahnya era digital sekarang ini membuat kita sulit menghapus konten dari kehidupan anak. Namun kita masih bisa mengatur bagaimana anak mengonsumsinya. Orang tua perlu aktif menjadi pendamping yang kompeten, tidak hanya sekadar memberikan gadget lalu lepas tangan begitu saja. Orang tua bisa melakukan pemilihan tontonan yang sederhana, ringan, dan sesuai usia anak. Seperti cerita moral, permainan imajinatif, dan interaksi nyata bukan video penuh konflik. Sekolah juga perlu menghidupkan kembali pendidikan karakter melalui pembiasaan sederhana seperti salam, sopan santun, dan kerja sama, sementara masyarakat harus ikut menjadi teladan, karena anak-anak adalah peniru ulung, apa yang kita lakukan pasti akan mereka tiru.
Nama : Tahta Sriseta Setyasa
NIM : 2502020062
Rombel : 2