Oleh Dian Natalia Simandalahi
Saat ini bayangan hitam itu tak mengikuti aku lagi, seolah enggan mengiringi langkahku seperti sebelumnya. Aku spontan melihat ke arah jam tangan berwarna kuning yang melapisi pergelangan tangan kananku. Arah jarum jam menunjukkan tepat pukul 11.55. Matahari sedang menampakkan diri dengan percaya diri. Semua orang berbondong-bondong keluar, mungkin mereka peka akan perasaan aneh yang aku rasakan atau memang ini fenomena yang dinantikan banyak orang. Setelah sekitar 10 menit berlalu, bayangan hitam itu kembali muncul, kembali mengikuti langkah kecilku yang kembali berjalan pulang menuju rumah untuk beristirahat. Saat itu aku masih duduk di bangku SMP, sedang gemar-gemarnya bermain di bawah sinar matahari, dan tidak tahu apa itu peristiwa kulminasi. Belum mengerti apa yang menyenangkan dan unik dari daerah yang aku kenal sebagai daerah asal dan tempat tumbuh kembangku, hingga suatu hari aku sangat membanggakan banyak hal yang menjadi ciri khas daerah asal ku ke tanah di mana aku merantau saat ini.
Aku lahir dan tumbuh di Kalimantan Barat, tepatnya di Kota Pontianak. Garis Khatulistiwa tidak hanya melewati Pontianak, tetapi juga melewati Riau, Parigi Moutong, dan Pulau Halmahera. Namun, satu-satunya kota yang tepat dibelah oleh Garis Khatulistiwa di area daratan berpenghuni dan padat penduduknya hanya Kota Pontianak. Secara etimologis, kata “Khatulistiwa” diserap dari bahasa Arab: Khat al-Istiwa’, Khat berarti garis dan Istiwa berarti lurus atau sama rata. Garis Khatulistiwa atau biasa disebut Garis Ekuator merupakan garis imajiner nol derajat lintang yang membagi dua bagian sama besar, yakni Belahan Bumi Utara dan Belahan Bumi Selatan. Peristiwa ini sangat menarik perhatian banyak orang karena rentang waktunya yang hanya terjadi 2 kali dalam setahun pada sekitar bulan Maret dan September dan terjadi pada pukul 11:49 – 11:53 WIB. Pada rentang waktu tersebut, posisi Matahari sangat dekat dengan titik 90 derajat di atas kepala kita.
Titik nol derajat ada karena Bumi harus dibagi atas dua wilayah. Garis ini dipilih sebagai titik tengah karena merupakan lingkaran terbesar pada permukaan Bumi yang tegak lurus terhadap sumbu rotasi Bumi, dan di titik ini durasi siang dan malam hampir selalu sama sepanjang tahun, menjadikannya poros stabilitas waktu dunia. Uniknya, garis ini tidak selalu berhenti di satu tempat akibat pergeseran kerak bumi atau lempeng tektonik. Di Pontianak sendiri, garis ini telah bergeser ke arah selatan dari tugu yang sudah dibangun sejak tahun 1928 itu. Sekarang muncul pertanyaan bagaimana sejarah dan siapa manusia pertama yang berhasil menentukan titik nol derajat ini.
Titik nol derajat ini merupakan hasil sebuah ekspedisi internasional yang dulu dipimpin oleh seorang ahli geografi dari tanah Belanda bernama G.P. Khroustchoff pada tahun 1928. Nama yang paling sering dicatat dalam sejarah adalah seorang astronom bernama Kapten Luitenant Luchtmans. Ia memimpin tim tersebut untuk menentukan titik koordinat yang presisi menggunakan metode astronomi tradisional, yang kemudian ditandai dengan sebuah tonggak kayu sederhana dan anak panah sebelum akhirnya dibangun menjadi monumen yang lebih permanen. Kemudian, pada tahun 1930 tugu itu disempurnakan dengan penambahan lingkaran dan anak panah, dan pada 1938 kembali dibangun oleh seorang arsitek Silaban dengan megah.
Pada Hari Raya Idulfitri kemarin, aku berkesempatan untuk kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarga. Aku harus menempuh kurang lebih enam jam menggunakan mobil untuk sampai ke kampung halaman nenekku di Meliau, Kabupaten Sanggau. Senang rasanya bisa berkumpul dan tertawa bersama keluarga kembali. Satu hari sudah aku lewati, dan kemudian aku merasa hari itu sangat panas, tidak seperti biasanya. Hari itu aku merasa kulitku terbakar. Bertepatan dengan tanggal 23 Maret pukul 11.52 WIB, aku sedang berjalan dan ingin mengunjungi dan bertamu ke rumah tetangga sekitar. Tak disangka, ketika aku sedang berlindung di bawah jaket dan menutup kepalaku, bayanganku seketika hilang tak bersisa. Dan ternyata benar. Setelah sampai di rumah tetanggaku, aku segera melihat berita dari handphone. Aku merasakan kulminasi lagi setelah sekian lama.
Setelah menghabiskan waktu selama 4 hari di Meliau, aku harus pulang. Kembali menempuh 6 jam perjalanan, dan yang bisa aku lihat hanya lahan sawit yang berhamburan namun rapi ditanam oleh sang penguasa. Sawit seakan menjadi ikon dari Kalimantan, bukan lagi hutan yang rindang dan hijau. Gelondongan sawit itu seakan berbicara dan tertawa atas tatapan kejiku, sedang mereka para tamak dan serakah menikmati uang hasil penjualan, uang hasil menjual tanah kelahiran mereka sendiri. Sebagai perempuan yang lahir dan dibesarkan di tanah Kalimantan, kritik tajam perlu disampaikan kepada sang pemimpin dan bagi orang diluar sana yang masih sempit akan keberlangsungan tanah Kalimantan.
Hal menarik lain yang akan aku ceritakan dan merupakan kebangganku ialah Sungai Kapuas. Nama Kapuas diambil dari daerah di hulu sungai, yaitu Kabupaten Kapuas Hulu. Bagi masyarakat Pontianak, sungai ini bukan sekadar aliran air, melainkan “nadi” yang menghidupi peradaban sejak zaman dahulu. Sungai ini menjadi saksi bisu perpindahan penduduk, perdagangan rempah, hingga penyebaran budaya Dayak dan Melayu yang hidup berdampingan di tepiannya. Sejarah Pontianak tak bisa dilepaskan dari Sungai Kapuas. Pada tahun 1771, Syarif Abdurrahman Alkadrie menyusuri sungai ini mencari tempat permukiman baru. Konon, ia harus melepaskan tembakan meriam untuk mengusir gangguan makhluk halus (yang kemudian menjadi asal-usul nama “Pontianak”).
Setiap daerah mempunyai pantangan serta legenda yang berakar dan berlanjut secara turun-temurun, sama halnya dengan yang ada di Sungai Kapuas. Masyarakat setempat percaya akan adanya Puake, yaitu makhluk penjaga sungai. Legenda yang paling terkenal adalah kisah Naga dan Buaya, dua putra kembar Raja Kahayan Hilir yang dikutuk menjadi hewan karena pertikaian mereka. Naga dipercaya menjaga kedalaman Kapuas, sementara Buaya menjaga wilayah muara. Kemudian ada kepercayaan Kampunan, yakni keyakinan bahwa jika seseorang ditawari makanan atau minuman dan orang tersebut menolak, maka dipercaya akan membawa sial di perjalanan. Cara untuk menolak hal tersebut adalah dengan menyentuh makanan tersebut dengan ujung jari telunjuk, lalu ujung jari itu disentuh ke leher sendiri.
Hal di atas tidak selalu harus kita yakini dan percaya, namun, seperti kata pepatah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, kekuatan yang tak kasat mata menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Di balik kesan mistisnya, kampunan mengajarkan kita untuk tidak sombong dan selalu menghargai pemberian orang lain. Ini adalah bentuk keramahtamahan masyarakat Pontianak yang sangat halus. Sentuhan jemariku pada cangkir kopi itu adalah sebuah janji bisu, sebuah ritual kecil untuk tetap membumi, agar garis nasibku tak terputus di tengah jalan karena kesombongan yang tak sengaja. Bahwa di setiap tawaran makanan, ada doa yang terselip dan menolaknya adalah cara tercepat mengundang badai dalam perjalanan.
Tak terkira rasa banggaku terhadap tanah Kalimantan. Pedih pula hatiku ketika harus meninggalkan Kalimantan karena harus menimba ilmu. Namun, hal itu harus kulakukan. Aku ingin, ketika sudah mempunyai ilmu yang cukup, aku dedikasikan jasaku kepada tanah Kalimantan. Pulau ini sangat kaya dan beragam sumber daya alamnya, namun di satu sisi masih tertinggal jauh dari Pulau Jawa, mulai dari fasilitas hingga pendidikan yang terbilang masih jauh. Kultur yang sangat beragam membuatku selalu menyebut Kalimantan dengan sebutan “rumah”.
Langkahku perlahan menjauh dari pelataran tugu saat lembayung senja mulai larut ke dalam pekatnya Sungai Kapuas. Aku menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar tentang mengunjungi titik nol derajat yang ditemukan Luchtmans atau mengagumi arsitektur kokoh karya Silaban, melainkan tentang menemukan koordinat pulang bagi jiwaku sendiri. Di kota ini, aku belajar bahwa menjadi manusia yang utuh berarti harus berani berdiri di tengah garis keseimbangan.
Kini, saat lampu-lampu kota mulai memantul di permukaan air yang tenang, aku memandang garis cakrawala dengan perasaan yang lebih lapang. Pontianak bukan lagi sekadar titik di atas peta atau monumen kayu yang menjadi beton, melainkan sebuah ruang di mana waktu seolah berhenti sejenak untuk membiarkan bayang-bayangku hilang di bawah cahaya kebenaran. Aku pulang membawa sepotong kebijaksanaan dari Tanah Khatulistiwa: bahwa hidup adalah tentang terus bergerak, namun tetap memiliki titik diam di dalam hati. Meski bumi terus bergeser dan garis nol derajat tak pernah benar-benar menetap, aku telah menemukan titik setimbangku sendiri di sini, di antara riak Kapuas yang abadi dan langit yang tak pernah berhenti memeluk setiap doa yang kupanjatkan.(*)