Berkunjung ke Pabrik Gula Mojo di Sragen

Oleh Nurrena Anggun Budiyanti

Bulan ini adalah waktu di mana Pabrik Gula Mojo yang beralamat di Mojo Kulon, Sragen Kulon, Kec. Sragen, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah 57212, Indonesia sedang melakukan penggilingan gula. Setiap penggilingan Pabrik Gula Mojo akan mengadakan syukuran giling tebu yang sering disebut sebagai “Cembreng” oleh masyarakat sekitar. Prosesi itu dilakukan tepat di sekitar Pabrik Gula Mojo. Prosesi ini mirip dengan pasar malam. 

Aku belum pernah datang ke sana sebelumnya. Hingga malam hari ini, Ayah dan Ibu mengajakku dan adikku untuk datang ke Pabrik Gula Mojo untuk menikmati suasana Cembreng. Aku segera bersiap-siap agar tidak membuat kedua orang tuaku menunggu lama. Aku segera bergegas dan menunggu di samping motor, kemudian membonceng dengan Ibu untuk menuju ke tempat itu. 

Sesampainya aku di sana, aku sangat terpanah dengan kemerlap lampu yang menghiasi malam. Banyak pedagang kaki lima yang menjual aneka ragam jajanan yang sering aku temui di depan sekolah, seperti bakso bakar, telur gulung, dan berbagai macam makanan lainnya hingga makanan yang jarang aku temui seperti kebab, dimsum, dan jagung bakar. Bahkan aku menemui makanan yang belum pernah aku temui, yaitu es serut pelangi.

Kemudian aku berjalan lebih dalam, menjelajahi area tersebut lebih dalam, dan aku melihat banyak sekali wahana permainan seperti perahu yang berukuran besar kemudian melayang-layang di udara sehingga membuat orang-orang yang menaikinya berteriak histeris. Kemudian, tepat di sebelahnya terdapat wahana yang sering kali aku lihat di media sosial yang sering kali disebut dengan bianglala dan masih banyak wahana permainan lainnya. 

Segera aku menarik adikku untuk mencoba setiap wahana yang ada. Setiap kali ingin menaiki wahana, aku harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 10.000.00-,. Aku dan adikku sangat menikmatinya. Kami sangat senang hingga tak terasa sudah menghabiskan waktu sangat lama dan telah mencoba semua wahana yang ada sehingga membuat kami sangat lapar.

Segera aku dan adikku pergi untuk menghampiri para pedagang kaki lima. Mencari-cari mana yang sesuai dengan selera kami berdua. Hingga tak terasa waktu berlalu, akhirnya kami semua memutuskan untuk pergi pulang. Selama di perjalanan pulang, aku merasa tidak ikhlas untuk meninggalkan tempat yang menyenangkan ini. 

Keesokan harinya, Ibu mengajakku untuk pergi ke pasar yang kebetulan berada tepat di sekitar Pabrik Gula Mojo, lantas aku tanpa berpikir panjang segera ikut Ibu ke pasar untuk mengetahui apakah suasana pada malam dan pagi hari akan berbeda.

Sesampainya di pasar, aku segera bergegas pergi untuk melihat daerah sekitar, dan betapa terkejutnya aku karena melihat pemandangan yang sangat berbeda dari semalam. Bukannya keindahan gemerlap lampu dan banyaknya pedagang kaki lima serta wahana permainan, yang aku lihat pada pagi hari ini adalah banyaknya truk yang bermuatan tebu berjejer panjang dari pintu masuk hingga ke dalam. Dan tanpa aku sadari, ternyata di sekitarku tercium bau yang kurang sedap. Bau kurang sedap tersebut ternyata merupakan limbah yang dihasilkan dari penggilingan tebu yang kemudian akan menjadi gula. 

Karena aku penasaran, aku masuk ke dalam dan menyadari bahwasanya pabrik gula ini merupakan bangunan yang sudah tua. Setelah aku bertanya kepada pegawai setempat, ternyata Pabrik Gula Mojo merupakan bangunan yang berdiri sejak era kolonialisme. Pabrik Gula Mojo sudah beroperasi sejak Belanda masih di Indonesia. Hal ini membuatku kagum karena ternyata bangunan yang sudah sangat lama berdiri dari dulu sampai sekarang masih kokoh, tidak seperti bangunan tua yang sudah usang.

Selama aku berdiri di sini, sejujurnya aku merasa kurang nyaman karena bau limbah yang dihasilkan sangat menyengat. Kemudian aku kembali kepada ibuku dan menanyakan apakah bau ini tidak bisa diatasi. Kemudian ibuku menjawab tidak tahu, tapi biasanya akan menghilang dengan sendirinya. 

Dan aku kembali bertanya pada Ibu apakah cembreng-nya sudah selesai, kemudian Ibu menjawab belum. Ibu menjelaskan bahwasanya cembreng akan dilaksanakan selama kurang lebih 40 hari, sehingga masih ada sekitar 30 hari lagi. Aku berharap bisa datang lagi. Hanya saja aku merasa terlalu ramai sehingga agak sesak, tetapi tidak masalah karena memberikan pengalaman yang menyenangkan. 

Dan pada akhirnya aku mengunjungi cembreng lagi pada hari-hari selanjutnya, tapi dengan teman-temanku. Tanpa aku ketahui, malam itu menjadi kunjungan terakhirku ke Cembreng karena setelahnya ada pandemi Covid-19 sehingga kegiatan Cembreng tidak diadakan. Setelahnya, aku merasakan bahwasanya penyelenggaraan Cembreng setelah pandemi tidak semeriah sebelumnya. Tetapi kegiatan penggilingan tebu hingga saat ini masih aktif dilakukan. (*)