Oleh Galuh Mustika Sugiyoto
Kala itu aku bersama keluargaku berkesempatan untuk mengunjungi Museum Manusia Purba Sangiran yang terletak di dua kabupaten, yakni Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah. Di Kawasan Sangiran terdapat empat Museum Klaster dan satu museum lapangan. Museum Klaster tersebut adalah Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan, Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Dayu, Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Ngebung, Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Bukuran, dan Museum Lapangan Manyarejo. Masing-masing museum menyajikan tema yang berbeda, berkaitan dengan potensi temuan serta nilai sejarah penelitian di setiap klaster.
Kawasan Sangiran merupakan situs warisan dunia UNESCO yang luasnya mencapai 59,21 km² dan menyimpan lebih dari 50% temuan Homo erectus di dunia. Artefak yang ditemukan dan dipamerkan di Museum Sangiran bukan hanya menjadi yang tertua di Indonesia, tetapi juga menjadi saksi bisu proses evolusi manusia dan kehidupan zaman prasejarah.
Museum Sangiran yang pertama kami kunjungi adalah Museum Sangiran Klaster Ngebung yang terletak di Desa Ngebung, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Matahari bersinar terik sehingga udara terasa sangat panas, namun tak mengurangi rasa semangat dan antusiasme kami. Saat pertama kali menginjakkan kaki di klaster Ngebung, mataku langsung tertuju pada sebuah patung gajah raksasa dengan belalai yang melambai dan gading panjang. Patung itu terletak di depan pintu masuk museum.
Setelah kami masuk ke dalam museum, terdapat sebuah diorama besar yang menceritakan proses penggalian fosil di Kawasan Sangiran lengkap dengan fosilnya. Aku menyentuhnya dan berpikir mungkin ini hanya fosil imitasi sebagai pajangan, tetapi pemandu museum mengatakan itu merupakan fosil asli. Fosil yang aku sentuh adalah fosil dari tanduk kerbau purba Bubalus palaeokerabau dengan panjang 1,5 meter yang diperkirakan hidup pada kala Pleistosen awal hingga Pleistosen akhir.
Aku melanjutkan langkah sambil melihat-lihat fosil kerang moluska di sepanjang lorong dan sesekali memotretnya. Langkahku terhenti di ruangan diorama para peneliti dan penemu dari fosil-fosil purba yang ditemukan di Kawasan Sangiran. Salah satunya adalah von Koenigswald. Kedatangannya ke Sangiran menemukan serangkaian temuan alat-alat kebudayaan Homo erectus atau manusia kera yang menjadikan Klaster Ngebung dijuluki sebagai Sangiran Flakes Industry. Ruangan diorama ini juga menampilkan peran Raden Toto Marsono yang berjasa dalam membantu penelitian von Koenigswald.
Pemandu museum lalu mengarahkan kami ke ruangan diorama selanjutnya. Ruangan diorama ini menceritakan tentang penemuan megafauna gajah purba Stegodon trigonocephalus dan perkembangan penelitian di Kawasan Ngebung. Ruangan ini menyuguhkan pengalaman melihat fosil gajah Stegodon yang telah direkonstruksi dan disusun secara realistis meskipun tidak utuh. Fosil yang tersisa berupa gading, kepala, kaki kanan belakang, beberapa tulang rusuk, tulang punggung, dan tulang selangka.
Tiba di ruangan diorama terakhir. Ruangan ini menceritakan tentang seorang tabib atau dukun pengobatan pada masa itu yang sedang menggerus fosil untuk dijadikan obat yang akan diberikan kepada pasien yang berbaring di kasur sederhana di sampingnya. Masyarakat setempat menjadikan fosil sebagai pengobatan yang diyakini mujarab dan dapat menyembuhkan penyakit dengan cara menggerusnya untuk dikonsumsi. Fosil tersebut juga dijual di toko-toko obat Cina untuk dijadikan sebagai obat.
Usai menjelajahi Museum Klaster Ngebung, kami melanjutkan perjalanan menuju museum selanjutnya, yakni Museum Manusia Purba Sangiran Klaster Krikilan yang terletak di Dusun Ngampon, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Klaster Krikilan adalah klaster yang pertama kali dibangun dan merupakan visitor center Museum Manusia Purba Sangiran. Di sepanjang perjalanan, terdapat kios-kios di depan rumah warga setempat yang menjual aneka cenderamata, salah satunya berupa batu biru yang diukir, fosil-fosil kecil, dan aneka makanan dan minuman.
Saat kami tiba, matahari bersinar sangat terik di atas kepala, ditambah lokasi museum yang berada di dataran rendah dengan tanah gersang dikelilingi hutan jati. Akan tetapi, begitu masuk ke dalam museum, mata seolah dibuat takjub akan betapa besarnya fosil-fosil hewan purba di museum ini. Fosil-fosil di Museum Klaster Krikilan lebih banyak dan lebih besar dibandingkan dengan Klaster Ngebung. Fosil pertama yang kami temukan adalah fosil gading gajah Elephas namadicus yang panjangnya sekitar dua meter. Gadingnya saja panjangnya dua kali lipat dari gading gajah biasa. Bisa dibayangkan gajahnya sebesar apa. Gajah ini diperkirakan hidup di Kawasan Sangiran sekitar 400.000 tahun yang lalu pada masa Pleistosen Tengah hingga atas.
Tak hanya fosil hewan purba, di museum ini juga terdapat fosil manusia purba Australopithecus africanus, Pithecanthropus mojokertensis, Homo soloensis, Homo neanderthal, dan Homo sapiens. Beberapa fosil manusia purba tersebut rupanya hanya replika. Fosil yang asli sebagian besar telah dipindahkan ke Museum Geologi Bandung untuk diteliti lebih lanjut.
Selain fosil dari daratan, terdapat fosil dari binatang laut dan air tawar, antara lain Crocodillus sp., Hippopotamus sp. (kuda nil), Chelonia sp. (kura-kura), ikan, kepiting, dan bahkan gigi ikan hiu. Aku berhenti di ruangan diorama yang berjudul Geologi dan Lingkungan Purba Sangiran untuk mencari informasi lebih lanjut tentang mengapa bisa ditemukan fosil hewan laut di Kawasan Sangiran yang berupa daratan. Rupanya sekitar 2,4 juta tahun yang lalu, wilayah Sangiran masih berupa lautan. Di depan Sangiran muncul pulau-pulau vulkanik gunung api seperti Gunung Lawu Purba, Merapi Purba, dan Merbabu Purba. Di sekitar pulau vulkanik tumbuh ekosistem terumbu karang yang hidup berdampingan dengan fauna laut seperti hiu dan kerang. Adanya endapan lempeng biru Formasi Kalibeng menjadi bukti otentik bahwa wilayah Sangiran dulunya adalah lingkungan laut sebelum akhirnya berubah menjadi daratan.
Usai puas menjelajah dan memotret, tak terasa hari mulai sore. Kami lalu keluar dari museum untuk mencari cenderamata di sepanjang pintu keluar. Aku membeli sebuah gantungan kunci kayu berbentuk manusia purba dan sebuah batu ukir hiasan berwarna putih. Pada akhirnya, kami melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah. (*)