Oleh Pradita Putri Anggraeni
Kawasan permata sejarah di pesisir utara Jawa, dengan deretan bangunan kolonial yang masih berdiri kokoh, jalan-jalan lurus, dan nuansa Eropa yang kuat. Suasananya terasa seperti kembali ke masa lampau, tetapi tetap hidup karena kini diisi oleh museum, galeri, kafe, dan ruang publik. Tempat itu dinamakan Kota Lama, terletak di Semarang Jawa Tengah. Di sore hari, cahaya matahari jatuh perlahan di dinding-dinding tua, membuat semua terlihat lebih hangat. Tempat ini selalu punya cara tersendiri untuk membuat orang merasa sesuatu di dalam hati mereka.
Begitu aku selesai keluar kelas dengan badan yang udah capek banget, tiba-tiba Shanon menepuk pundakku dari belakang sampai aku kaget. “Aduhh, apaan sih ron, gue kaget tau” gerutuku pelan. Dia cuma ketawa cengegesan karena kelas terakhir berakhir lebih cepat dari biasanya. Kami berempat duduk dan istirahat karena telah menyelesaikan 8 SKS dalam satu hari. Karena sama-sama habis kelas dan capek, butuh refreshing, aku langsung kepikiran ngajak mereka nongkrong. “Guys, gimana kalau kita ke Kota Lama?” tanya aku. Sambil tetap sibuk main HP, Shanon ditanya Hazel yang baru ikut nyamperin, “Eh iya, Non, lu udah pernah ke mana aja di Semarang?” Dengan santai dia jawab, “Emm, deket-deket kampus aja sih.” Pas kutanya apa dia pernah ke Kota Lama, dia malah bilang, “Udah… di TikTok.” Jawaban itu langsung bikin kami kompak ngeledekin dia, “Yeeeuu!” Lalu aku menyahut, “Yaudah kita habis ini ke sana mau ga? Lu ga ada kesibukan, kan?” Sharon menaruh hp. Dia melirik ke Hazel sama aku dan langsung ngomong “Ngga ada sih, yaudah, yuk, boleh, gas”.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Tanpa banyak mikir lagi, kami bertiga langsung gas naik motor menyusuri jalanan Semarang yang mulai padat. Biar ngga terlalu ramai dan bikin pusing, tongkrongan kali ini cuma diisi aku, Shanon, dan Hazel. Dari tadi Hazel nyetir sambil sesekali ngeluh karena kena macet. Angin sore yang harusnya adem malah terasa sumpek karena bercampur dengan debu dan asap kendaraan saat pulang kerja. Di lampu merah dekat Tugu Muda, kami terjebak cukup lama sampai badan rasanya pegel banget.
Sepanjang jalan, aku jadi pemandu wisata dadakan buat Shanon yang dari tadi lihat ke sana ke mari. “Tuh, lihat kiri. Itu tuh Tugu Muda, terus bangunan besar yang kelihatan angker itu namanya Lawang Sewu,” kataku sambil menoleh sedikit ke arahnya. Shanon langsung mengangguk perlahan sambil memahami. Kelihatan banget dia lagi menikmati hal-hal baru di kota ini. Dia bilang pelan kalau kota ini ternyata keren juga, walaupun lalu lintasnya bikin pusing. Aku cuma senyum tipis dan bilang dia harus sabar, karena nanti suasana di Kota Lama bakal jauh lebih seru.
Akhirnya, kami masuk ke kawasan Kota Lama dan mulai mencari tempat parkir. “Mau parkir motor di mana enaknya?” teriak Hazel agak kencang buat ngalahin suara kendaraan. Aku langsung nunjuk ke gang kecil di samping gedung bertuliskan “SPIEGEL” yang kelihatan megah dan klasik. “Masuk aja ke situ, biasanya ada abang parkir yang masih nyisain tempat kok,” jawabku yakin. Benar saja, di ujung jalan paving itu masih ada tempat kosong, jadi kami langsung parkir dengan lega.
Begitu turun dari motor dan mulai jalan kaki, suasananya langsung beda total. Sedikit lebih tenang, lebih pelan, dan jauh lebih nyaman daripada jalan raya tadi. Kami jalan santai menyusuri trotoar, dan sesekali suara langkah kaki kami terdengar nyaring di atas paving blok yang keras. Bangunan tua peninggalan Belanda berdiri gagah di kanan-kiri. Debu menempel di sana-sini, tapi justru itu yang bikin tempat ini terasa punya cerita panjang. Shanon kelihatan paling heboh, terus nengok kanan-kiri sambil merekam video pakai ponsel dia buat upload ke media sosial. “Sumpah, ini keren banget anjir. Vibes-nya beda jauh sama depan kampus kita,” katanya sambil melambatkan langkah.
Hazel langsung nimbrung dengan nada bangga, seolah-olah dia ikut membangun tempat itu. “Iya kan, makanya warga lokal suka banget nongkrong di sini.” Aku juga ikut nambahin sedikit pengetahuan sejarah biar kelihatan sok pintar. “Dulu tempat ini pusat perdagangan Hindia Belanda. Tapi kalian sadar ngga jalanannya sekarang malah lebih tinggi dari lantai dasar bangunannya?” Ternyata paving yang kami injak ini memang sudah berkali-kali ditinggikan buat mengatasi rob dan penurunan tanah, yang memang sering jadi masalah di pesisir Semarang. Karena itu, pintu-pintu bangunan lama kelihatan seperti tenggelam dan justru bikin tampilannya makin unik dan estetik buat anak-anak zaman sekarang yang suka foto-foto. Kami sempat berhenti sebentar di salah satu sudut gedung tua yang agak sepi, cuma buat menikmati suasana tanpa buru-buru.
Langkah kami lalu mengarah ke lapangan terbuka, dan di sana berdiri bangunan berkubah bata merah besar yang langsung mencuri perhatian. Shanon yang dari tadi jalan santai tiba-tiba mempercepat langkahnya sedikit. Matanya langsung fokus ke arah bangunan itu. “Wih, itu Gereja Blenduk ya?” katanya, nadanya agak antusias sambil menunjuk. Aku sempat melirik ke arahnya, agak kaget juga dia langsung ngeh. “Iya, bener. Ikonnya Kota Lama itu,” jawabku santai. Shanon mengangguk pelan. Matanya masih ngga lepas dari bangunan itu. “Dari dulu pengen lihat langsung asli, biasanya cuma lihat di foto doang dari Google,” tambahnya. Aku ikut nyeletuk dikit, “Namanya ‘Blenduk’ itu dari bahasa Jawa, artinya menggelembung. Liat aja tuh kubahnya, bulet banget,” sahutnya sambil senyum tipis, “Iya juga ya”, lalu tanpa banyak basa-basi langsung nyiapin HP dan mulai cari angle terbaik buat foto OOTD di dekat gereja bersejarah itu.
Di sekitar taman gereja, orang-orang mulai ramai datang buat duduk santai atau cari angin sore. Ada bapak-bapak ramah yang nawarin sepeda ontel, sampai fotografer jalanan yang semangat nawarin jasa foto estetik. Walau pengunjungnya lumayan banyak, tempat ini tetap terasa nyaman karena jalur pejalan kakinya lebar dan rapi. Kami sempat didatangi badut nyentrik yang ngajak foto bareng, tapi Hazel menolak dengan halus karena lagi bokek dan malas keluar uang tip. Melihat tingkah para pengunjung lain yang random banget itu malah bikin kami senyum-senyum sendiri. Rasanya menyenangkan dan hiburan gratis seperti ini justru bikin suasana makin hidup.
Ngga terasa, langit mulai berubah jadi jingga kemerahan. Bayangan pilar-pilar gedung tua memanjang di tanah dan bikin suasana makin dramatis. Angin sore juga jadi lebih sejuk, seolah berhasil ngusir panas dan gerah yang tadi nempel gara-gara macet. Kami lanjut jalan tanpa tujuan pasti, iseng masuk ke lorong sempit yang agak lembap di antara dua gedung, lalu ketawa lega saat keluar lagi ke jalan utama. “Sumpah ya, jalan santai di tempat kayak gini tuh entah kenapa healing banget, healing dari 8 SKS,” ujar Hazel, yang biasanya paling dulu ngeluh capek. Aku cuma mengangguk setuju, sadar kalau kebahagiaan sederhana bareng teman kayak gini memang udah cukup buat ngilangin capek.
Nggak terasa, langit mulai berubah jadi jingga kemerahan. Bayangan pilar-pilar gedung tua memanjang di tanah dan bikin suasana makin dramatis. Angin sore juga jadi lebih sejuk, seolah berhasil ngusir panas dan gerah yang tadi nempel gara-gara macet. Kami lanjut jalan tanpa tujuan pasti, iseng masuk ke lorong sempit yang agak lembap di antara dua gedung, lalu ketawa lega saat keluar lagi ke jalan utama. Aku melirik ke arah Shanon yang dari tadi kelihatan menikmati suasana. “Gimana hari ini, Non? Kesan lo gimana pertama kali ke sini?” tanyaku santai. Shanon sempat diam sebentar. Matanya masih menyapu bangunan di sekitar, lalu dia tersenyum tipis. “Jujur ya… beda banget sih sama yang di TikTok,” jawabnya.
“Bedanya kenapa?” Hazel langsung nimbrung, penasaran. “Di TikTok kelihatan estetik doang, tapi pas ke sini tuh… lebih kerasa gitu lho feel-nya,” lanjut Shanon. “Tadi aja gue nemu toko vintage kecil yang keren banget, yang jual barang-barang lama gitu. Itu nggak pernah gue lihat di TikTok.” Aku ketawa kecil. “Nah, kan, makanya jangan percaya TikTok mulu.” Shanon cuma nyengir, lalu nambahin pelan, “Serius sih, ini lebih dari yang gue kira.” “Sumpah ya, jalan santai di tempat kayak gini tuh entah kenapa healing banget,” ujar Hazel, yang biasanya paling dulu ngeluh capek. Aku cuma mengangguk setuju, sadar kalau kebahagiaan sederhana bareng teman kayak gini memang udah cukup buat ngilangin capek.
Lagi enak-enaknya menikmati suasana vintage, langkah kami mulai melambat. Kaki sudah mulai terasa pegal setelah muter cukup jauh memutari kota lama, dan perutku juga mulai keroncongan pelan. Aku menoleh ke arah mereka berdua. “Em Gusy, kita ke Kov Heritage aja yuk. Tempatnya nggak jauh dari sini, enak buat istirahat juga,” ajakku. Hazel langsung nengok. Matanya agak berbinar. “Boleh siiehh, gue juga pengen ngopi” jawabnya santai. “Pas banget, gue juga laper” jawab ku cepat. “Gue pengen beli spageti-nya sekalian asli.”
Shanon yang dari tadi cuma dengerin langsung ikut nimbrung karena dia penasaran. “Loh, di situ ada makanannya juga?” Hazel langsung nyengir, “Adalah. Lumayan lengkap kok di sana.” Dia lanjut sambil sedikit ketawa, “Kopinya juga enak. Gue biasanya pesen kopi hazelnut di situ… enak banget sumpah.” Shanon langsung nyeletuk, “Ih, hazelnut? Cocok sih sama nama lu, Zel.” Hazel reflek ketawa, “Ya kali nggak cocok, branding gue itu.” Aku ikut ketawa kecil. Suasana langsung cair lagi. Tanpa banyak mikir, kami pun sepakat buat lanjut jalan ke Kov Heritage, kali ini dengan langkah yang lebih pasti soalnya tujuan utamanya sudah jelas: makan dan ngopi santuy.
Kami pun masuk ke kafe yang menempati bekas gedung tua itu, yang sekarang sudah disulap jadi tempat estetik dan kekinian. Dari luar, tampilan batanya masih kelihatan tua, tapi begitu masuk, langsung kecium aroma kopi dan suasananya berasa “cozy” banget. Kami duduk di sofa sudut yang empuk, lalu menarik napas lega karena kaki akhirnya bisa istirahat. Obrolan kami makin ke sini makin ngalir, topiknya udah nggak jelas ke mana dari dosen killer, tugas yang belum disentuh, sampai cerita random yang tiba-tiba jadi bahan ketawa bareng. Suasana kafe yang hangat bikin waktu kerasa jalan lebih cepat dari biasanya.
Di sela obrolan, Shanon tiba-tiba diam sebentar, matanya ngelirik ke luar jendela, lalu balik lagi ke kami. “Temen-temen, makasih ya, serius,” ucapnya pelan tapi tulus. Aku sama Hazel langsung nengok ke dia. “Hah? Apaan dah tiba-tiba formal gitu,” celetuk Hazel sambil nyengir. Shanon cuma ketawa kecil. “Ya… makasih aja. Hari ini seru sih. Nggak nyangka bakal se-enjoy ini.” Aku senyum tipis, sedikit mengangguk. “Santai aja kali, masih banyak tempat lain yang belum lo liat.” “Serius?” dia langsung nyaut. Matanya agak berbinar lagi. “Iya lah,” jawabku santai. “Kalau lo lagi free lagi nanti, gue ajakin ke tempat lain. Biar sekalian lo nggak cuma taunya dari TikTok doang.” Hazel langsung nimbrung, “Nah tuh, biar yang kamu liat di tiktok itu nyata gitu lho, bukan cuma ‘katanya-katanya’ doang.” Kami bertiga langsung ketawa bareng. Di luar, lampu-lampu jalan Kota Lama sudah menyala sempurna, memantulkan cahaya hangat ke jalanan yang mulai lebih sepi. Malam perlahan turun, tapi entah kenapa, rasanya hari ini belum benar-benar selesai karena dari obrolan kecil ini, aku tahu, akan ada banyak rencana spontan lain yang nunggu di hari berikutnya.(*)