Oleh Almalia Yulianto Putri
Siang itu, kala matahari sedang terik-teriknya memancar di langit, di teras rumah sedang ramai oleh senda gurau teman-temanku. Mereka hampir setiap hari menjadikan rumahku untuk berkumpul demi melepas rasa lelah serta rindu setelah menerjang padatnya aktivitas kehidupan kami. Selama satu bulan penuh kami menghabiskan waktu bersama sebelum kembali ke kehidupan yang sebenarnya. Kebetulan, waktu libur kami sudah menipis. Jadi, secara mendadak salah satu temanku, Adit, mengajak kami pergi ke sebuah curug yang bernama Curug Tritis. Tempatnya tidak jauh, cukup dekat dari rumah sehingga tidak perlu memakan waktu lama agar sampai ke curug tersebut.
Setelah mendapat izin dari orang tua masing-masing, kami bergegas pergi ke sana menggunakan perlengkapan seadanya. Tujuan utama kami ke sana sebenarnya untuk menciptakan momen bersama saja sebelum berpisah ke perantauan masing- masing. Setelah melewati perjalanan di tengah hutan, kami sampai di kebun dekat curug tersebut. Untuk sampai ke atas, kami harus melewati sawah milik warga setempat dan jalan tanah kecil di tengah hutan. Cukup jauh untuk sampai di atas, kami memanjat banyak sekali bebatuan yang licin dan tajam.
Sebenarnya aku suka, tapi karena batunya banyak yang tajam, dan kami tidak memakai sepatu khusus, alhasil kaki kami jadi korbannya. Sakit, susah, senang kami lalui bersama. Dengan peralatan seadanya kami nekat naik padahal jalurnya yang bisa dibilang sangat berbahaya. Menanjak tanpa adanya pegangan, menurun tanpa adanya tangga. Kami sempat berhenti sejenak untuk sekedar minum, atau memotret pemandangan.Banyak sekali pemandangan indah yang membuat kami berhenti untuk diabadikan dengan ponsel.
Panasnya matahari membuat kami cukup lelah menanjak bebatuan yang curam ini. Tajamnya batu hampir membuat aku khusunya, menyerah untuk melanjutkan perjalanan. Tapi dengan teriakan semangat dari teman-temanku, mampu membakar semangat di dalam diriku kembali membara untuk melanjutkan perjalanan. Saat sudah setengah perjalanan, kami menemukan curug kecil yang mana, sudah pertanda bahwa puncak nya semakin dekat. Kami menyempatkan foto bersama karena di sini pemandangannya sangat indah.
Tak lama kemudian, kami sampai di curug utamanya. Curug tersembunyi, yang belum di ketahui banyak orang. Kami suka sekali pergi ke tempat tersembunyi seperti ini, karena bebas ingin berfoto di spot mana saja tanpa harus antre dengan orang lain. Sayangnya, hari itu musim kemarau, jadi air curug tidak sederas biasanya. Biasanya, kalo deras pasti kita tidak bisa memanjat bebatuan curam tadi. Tapi walaupun begitu, tidak menutup keindahan dari curug ini, tempatnya masih terjaga dari sampah dan hal mengganggu lainnya.
Kami menghabiskan banyak waktu di sana, melempar candaan receh yang bahkan menurut orang lain tidak lucu jika mereka mendengarnya. Air yang segar mampu menggugah minat kami untuk berenang, tapi karena tidak membawa pakaian ganti alhasil kami memilih duduk di pinggir sambil bermain air. Aku hanya melihat mereka dari jarak yang cukup jauh sambil memakan bekal buah yang aku bawa dari rumah. Aku tidak ikut bergabung, sebab mereka akan sangat jahil mencipratkan air ke arahku. Setelah bekal ku habis, barulah aku mendekat ke arah mereka untuk sekedar minta tolong agar di ambilkannya foto untukku.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, kami memutuskan untuk turun, dan pulang ke rumah masing-masing. Pada waktu turun pun, sangat sulit karena medan berbahaya. Turunan yang sangat curam tanpa pegangan di sekelilingnya. Tanah kering menjadi saksi kakiku tergores sedikit demi sedikit. Ujung tebing batu menjadi saksi kami menahan rasa sakit di kaki demi menahan laju gerak kami menuruni curug tersebut.
Setelah perjalanan yang sangat melelahkan dan mengorbankan banyak hal, akhirnya kami sampai di parkiran motor. Kami memutuskan pulang dengan mengisi perut terlebih dahulu. Walaupun jalan menuju curug sangat menguras tenaga, kami tetap bahagia. Sebab di suguhkan oleh pemandangan luar biasa indah dari curug tersebut. Selain itu juga, kami dapat menghabiskan waktu bersama sebelum berpisah. Kini, curug tersebut sudah mulai dikenal oleh beberapa orang, karena mereka memperoleh info dari kami.
Jika diungkapkan dengan kata-kata, akan sangat sulit menggambarkan keindahan curug tersebut. Sebab indahnya pemandangan itu sudah tersimpan rapi di memori kami. Khususnya memoriku. Mitos bahwa jalan menuju curug itu angker, tidak terasa bahkan dapat dipatahkan. Sebab aku berkunjung ke sana, dengan orang-orang terkasihku. Mitos itu terkubur dalam-dalam oleh riang dan gembiranya kami di perjalanan.