Oleh Aisyah Hani’atur Ridlo
Pagi itu, aku berdiri di tepi Waduk Gajah Mungkur, memandangi air yang tenang dan sangat luas. Angin sepoi-sepoi bertiup pelan, membawa kesegaran yang membuat siapa pun merasa damai saat berkunjung ke sini. Namun, di balik keindahan yang sering dipuji orang-orang, aku tahu ada sebuah cerita besar yang terkubur dalam-dalam di dasar waduk ini. Bagi kebanyakan orang, ini hanyalah tempat wisata, tetapi bagi warga asli Wonogiri, air ini menyimpan kenangan tentang rumah yang terpaksa ditinggalkan.
Dahulu kala, tempat yang kini dipenuhi air ini adalah daratan yang sangat subur dan hijau. Sebelum proyek besar bendungan dimulai pada tahun 1970-an, daerah ini merupakan lembah yang penuh dengan aktivitas warga. Sawah-sawah membentang luas, pasar-pasar ramai dengan suara tawar-menawar, dan anak-anak kecil berlarian di pematang sawah tanpa beban. Semua itu adalah kehidupan nyata yang pernah ada, jauh sebelum mesin-mesin besar datang untuk mengubah segalanya menjadi hamparan air.
Aku teringat cerita turun-temurun tentang bagaimana suasana mulai berubah ketika rencana pembangunan waduk diumumkan kepada warga. Tidak ada sorak sorai kemenangan, yang ada hanyalah kebingungan dan rasa cemas yang menyelimuti setiap sudut desa. Pemerintah mengumumkan bahwa daerah ini harus dikosongkan demi proyek nasional untuk mencegah banjir di wilayah hilir dan mengairi sawah-sawah di tempat lain. Warga dihadapkan pada pilihan sulit, mendukung kemajuan atau mempertahankan tanah kelahiran mereka.
Istilah “Bedol Desa” kemudian menjadi kata yang paling sering didengar oleh warga saat itu. Bedol desa bukan sekadar pindah rumah biasa, melainkan pindahnya seluruh penduduk satu desa secara bersama-sama ke tempat yang sangat jauh. Seluruh tatanan kehidupan yang sudah dibangun puluhan tahun harus dicabut hingga ke akar-akarnya. Tetangga yang sudah seperti saudara, guru mengaji, hingga perangkat desa, semuanya harus bersiap pergi meninggalkan tanah leluhur mereka.
Persiapan untuk pergi adalah masa-masa yang paling menyedihkan bagi setiap keluarga di sana. Mereka harus mulai memilah barang-barang mana yang bisa dibawa dan mana yang harus ditinggalkan untuk tenggelam. Banyak warga yang memandangi dinding rumah kayu mereka dengan mata berkaca-kaca, menyadari bahwa mereka tidak akan pernah kembali lagi. Pohon-pohon buah yang mereka tanam sejak kecil harus ditinggalkan begitu saja, menjadi saksi bisu kepergian sang pemilik yang sangat berat hati.
Suasana perpindahan itu sangat dramatis, mirip dengan adegan di film-film perjuangan yang penuh air mata. Truk-truk besar milik pemerintah datang berjejer di sepanjang jalan desa untuk mengangkut barang dan orang. Orang-orang tua terlihat duduk termenung di atas tumpukan barang-barang mereka, memandangi tanah yang telah menghidupi mereka selama ini. Ada rasa sedih yang sangat mendalam karena mereka tahu, setelah hari itu, alamat rumah mereka hanya akan menjadi titik di bawah air.
Tujuan utama para penduduk ini adalah tanah transmigrasi di Sumatera, tempat yang sangat asing dan jauh dari Pulau Jawa. Mereka pergi bukan karena ingin mencari kekayaan, tetapi karena mereka rela berkorban demi kepentingan jutaan orang lainnya. Perpisahan pun terjadi di mana-mana, ada yang menangis memeluk nisan makam keluarga, ada pula yang mengambil segenggam tanah untuk dibawa pergi sebagai kenang-kenangan. Mereka membawa harapan baru, namun hati mereka tetap tertinggal di lembah Wonogiri ini.
Proses penggenangan waduk dimulai perlahan-lahan setelah semua warga dipastikan sudah pindah ke tempat baru. Air sungai Bengawan Solo mulai dialirkan masuk, merayap perlahan menutupi jalanan desa yang kini sudah sepi. Satu per satu rumah yang tidak sempat dibongkar mulai terendam, disusul dengan jembatan-jembatan kecil dan sekolah-sekolah tempat anak desa menuntut ilmu. Dalam waktu singkat, pemandangan hijau yang dulu sangat akrab di mata, perlahan-lahan berubah menjadi warna biru kecoklatan yang dingin.
Setidaknya ada 51 desa yang akhirnya tenggelam sepenuhnya di bawah permukaan air Waduk Gajah Mungkur. Desa-desa itu kini telah menjadi “kota hantu” di bawah air, yang hanya bisa diingat melalui foto-foto lama atau ingatan para orang tua. Waduk ini akhirnya resmi berdiri sebagai salah satu bendungan terbesar di Indonesia, membawa manfaat bagi irigasi dan listrik. Namun, biaya dari kemajuan itu adalah tenggelamnya ribuan kenangan dan sejarah panjang sebuah komunitas yang sangat rukun.
Ada satu fenomena unik yang selalu terjadi setiap kali musim kemarau panjang datang melanda daerah Wonogiri ini. Saat air waduk surut drastis, daratan yang dulu tenggelam perlahan-lahan mulai muncul kembali ke permukaan secara ajaib. Puing-puing pondasi rumah yang sudah berlumut terlihat kembali, jalanan desa yang retak mulai nampak, bahkan nisan-nisan di area pemakaman lama kembali terlihat. Seolah-olah, tanah ini sedang ingin bernapas dan menunjukkan jati dirinya kembali kepada dunia.
Melihat nisan yang muncul kembali di musim kemarau adalah momen yang sangat menyentuh bagi siapa saja yang melihatnya. Para keluarga yang masih tinggal di sekitar Wonogiri biasanya akan datang berkunjung untuk sekadar melihat atau berziarah ke makam leluhur yang muncul tersebut. Mereka berjalan di antara lumpur kering yang dulunya adalah jalan utama desa, mencoba mencari-cari di mana letak rumah mereka dulu. Ini adalah pertemuan singkat yang penuh emosi antara masa lalu dan masa kini.
Waduk Gajah Mungkur bagiku adalah pengingat bahwa pembangunan selalu membutuhkan pengorbanan yang sangat besar. Kita tidak boleh hanya menikmati pemandangannya yang indah atau airnya yang melimpah tanpa menghargai orang-orang yang merelakan tanahnya. Para pahlawan pembangunan ini adalah warga desa yang ikhlas meninggalkan kenyamanan demi keselamatan orang lain di daerah hilir. Tanpa kerelaan mereka, mungkin kita tidak akan pernah melihat kemegahan bendungan ini hari ini.
Duduk di tepiannya saat matahari terbenam membuatku sering berimajinasi tentang kehidupan di bawah sana. Mungkin di dasar sana masih ada bekas ruang tamu tempat keluarga berkumpul, atau bekas lapangan tempat para pemuda desa bermain bola setiap sore. Air waduk ini telah mengunci semua rahasia itu dalam kesunyian yang abadi, menjaganya agar tetap ada meski tidak bisa lagi disentuh oleh tangan manusia. Gajah Mungkur adalah sebuah buku sejarah yang ditulis di atas air.
Aku ingin orang-orang yang berkunjung ke sini tahu bahwa ini bukan sekadar waduk buatan untuk berfoto-foto saja. Ada keringat, air mata, dan pengabdian yang sangat besar yang tertanam di bawah riak-riak air yang tenang ini. Sejarah bedol desa harus tetap diceritakan agar anak cucu kita paham bahwa Wonogiri punya cerita tentang cinta tanah air yang sangat nyata. Kita berhutang rasa hormat kepada setiap keluarga yang telah merelakan akar sejarah mereka dicabut demi kebaikan bersama.
Akhirnya, Waduk Gajah Mungkur akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Wonogiri. Meski raga penduduknya sudah terpencar hingga ke luar pulau, hati dan doa mereka pasti selalu tertuju pada tanah yang kini tertutup air ini. Waduk ini mengajarkan kita tentang arti melepaskan sesuatu yang sangat dicintai untuk sesuatu yang lebih besar nilainya. Sebuah pelajaran tentang keikhlasan yang terlukis indah diantara birunya air dan hijaunya perbukitan Wonogiri.(*)