Oleh Franz Tongam Xaverius Lubis
Di sebuah desa di tanah Tapanuli, hiduplah seorang pemuda bernama Joru. Ia dikenal sebagai anak yang rajin membantu orang tua dan sangat mencintai budaya daerahnya. Setiap pagi, suara gondang sabangunan yang mengalun dari balai desa selalu membuatnya bersemangat memulai hari, seolah memanggilnya untuk terus menjaga warisan leluhur.
Joru tinggal bersama neneknya, Oppung Boru, yang sudah renta namun masih memiliki ingatan tajam tentang sejarah keluarga mereka. Di beranda rumah panggung yang sederhana, sang nenek sering menceritakan kisah tentang asal-usul marga mereka dan perjalanan panjang leluhur Batak. Dari sanalah Joru mengenal nilai “Dalihan Na Tolu” yang mengajarkan tentang saling menghormati antara hulahula, dongan tubu, dan boru.
Suatu sore, saat matahari mulai tenggelam di balik perbukitan, Oppung Boru mengajak Joru berjalan ke tepi danau kecil di desa mereka. Ia menunjuk ke arah air yang tenang dan berkata bahwa seperti air itulah manusia harus hidup—tenang, namun mampu mencerminkan segala hal dengan jernih. Kata-kata itu tertanam dalam benak Joru.
Beberapa hari kemudian, kabar besar datang. Desa mereka akan mengadakan pesta adat pernikahan yang melibatkan seluruh warga. Bagi masyarakat Batak di Tapanuli, pesta seperti itu bukan sekadar perayaan, melainkan peristiwa sakral yang penuh makna. Semua orang memiliki peran, dan tak seorang pun boleh merasa terpisah dari kebersamaan itu.
Joru ditugaskan membantu persiapan ulos bersama para ibu. Di rumah adat, ia menyaksikan bagaimana benang-benang halus ditenun menjadi kain yang indah. Setiap motif memiliki arti: ada yang melambangkan harapan, perlindungan, hingga doa untuk kebahagiaan pasangan yang menikah.
Tak hanya itu, Joru juga ikut membantu para pria mempersiapkan gondang. Ia belajar mengenali setiap alat musik—taganing, gordang, dan sarune—yang menghasilkan irama khas Batak. Baginya, suara gondang bukan hanya musik, melainkan bahasa jiwa yang menghubungkan manusia dengan leluhur.
Latihan tortor pun dimulai setiap sore. Joru yang awalnya canggung perlahan mulai memahami gerakan tangan dan langkah kaki yang penuh makna. Tarian itu mengajarkan rasa hormat, kebersamaan, dan kegembiraan. Setiap gerakan memiliki arti yang tidak boleh dilakukan sembarangan.
Suatu malam, Oppung Boru memanggil Joru ke dalam kamar. Ia membuka sebuah peti kayu tua yang sudah lama tersimpan. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sehelai ulos yang warnanya mulai pudar, namun tetap indah. “Ini ulos warisan keluarga kita,” katanya pelan, “dulu diberikan kepada kakekmu saat menikah.”
Joru menerima ulos itu dengan tangan gemetar. Ia merasakan beratnya makna yang terkandung di dalamnya. Neneknya kemudian berpesan agar ia tidak melupakan jati dirinya, meskipun suatu hari nanti ia pergi merantau ke kota.
Malam itu, angin bertiup pelan di luar rumah. Joru duduk termenung sambil memandangi ulos di pangkuannya. Ia membayangkan bagaimana kehidupan leluhurnya dahulu, bagaimana mereka menjaga adat di tengah berbagai perubahan zaman.
Keesokan harinya, suasana desa berubah menjadi sangat meriah. Tamu-tamu mulai berdatangan dari berbagai daerah di Sumatra Utara. Warna-warni ulos menghiasi setiap sudut desa, menciptakan pemandangan yang begitu indah dan hangat.
Upacara adat dimulai dengan penuh khidmat. Para tetua adat memimpin jalannya acara dengan bahasa Batak yang kental. Joru berdiri di antara para pemuda lainnya, mengenakan ulos warisan neneknya. Ia merasa bangga sekaligus terharu.
Ketika gondang mulai dimainkan, Joru ikut menari tortor bersama yang lain. Kini gerakannya tidak lagi kaku. Ia menari dengan penuh perasaan, mengikuti irama yang menggema hingga ke dalam hatinya. Seolah-olah ia menyatu dengan tradisi yang telah hidup selama ratusan tahun.
Di tengah keramaian, ia melihat Oppung Boru duduk tersenyum. Tatapan mata neneknya penuh kebanggaan, membuat Joru semakin yakin bahwa apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang penting.
Setelah pesta selesai, malam kembali sunyi. Joru berjalan sendirian ke perbukitan kecil di pinggir desa. Dari sana, ia bisa melihat seluruh desa yang kini tampak tenang setelah sehari penuh perayaan.
Ia duduk di atas batu besar, memandang langit yang dipenuhi bintang. Dalam keheningan itu, ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk menjaga dan melestarikan budaya Batak. Ia sadar bahwa modernisasi tidak bisa dihindari, tetapi adat harus tetap hidup di hati generasi muda.
Beberapa bulan kemudian, Joru mulai mengajarkan anak-anak desa tentang tortor dan makna ulos. Ia juga membantu mendokumentasikan cerita-cerita Oppung Boru agar tidak hilang ditelan waktu.
Desa kecil di Tapanuli itu pun perlahan menjadi tempat yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mengajarkannya kepada generasi berikutnya. Joru tumbuh menjadi pemuda yang disegani, bukan karena kekuatan atau kekayaan, melainkan karena kecintaannya pada budaya.
Dan di setiap alunan gondang yang terdengar, di setiap ulos yang dikenakan, dan di setiap langkah tortor yang ditarikan, semangat leluhur tetap hidup—menyatu dalam jiwa Joru dan seluruh masyarakat Tapanuli.(*)