Antara Kali Dayung dan Takdir

Oleh Berlian Sekar Cinta Solekhah 

Belakangan ini, linimasa media sosialku dipenuhi oleh cuplikan video sungai yang sebelumnya tidak pernah kuketahui. Orang-orang menyebutnya Kali Dayung. Pesona alamnya berhasil membuatku  terpanah. Meskipun takjub dengan keindahannya, tanganku tetap bergerak menggulirkan tayangan ke cuplikan video selanjutnya. Bukannya tidak tertarik, tapi aku lebih menyukai pantai daripada sungai. Jadi meskipun ada keinginan, jarang sekali cukup kuat untuk membuatku pergi.

“Ayo ke Kali Dayung. Lagi viral banget, loh. Nggak mungkin kan kalau video-videonya nggak lewat di berandamu?” kata Salma suatu malam melalui pesan WhatsApp

Aku melihat pesan tersebut dan menjawab, “Lewat kok. Tapi nanti deh aku kabarin kamu lagi,” padahal aku tahu jawabanku nanti: tidak.

Salma tidak menyerah dan kembali membujukku beberapa hari kemudian. Ia kembali mengirimkanku pesan-pesan singkat dan mencoba meyakinkanku dengan mengirimkan video-video dari layar ponselnya yang seolah akan berhasil membuat hatiku tergerak dan ikut pergi bersamanya. Ia berkata, “Tempat ini sedang viral, Cinta. Ayo kesana sama aku.”

Aku menatapnya jengah dan berkata, “Aku sebenarnya nggak mau kesana,” kataku sambil menjauhkan layar ponsel salma dariku. “Tempat viral itu malah bikin capek, loh. Udah pasti bakal banyak pengunjung, Salma.”

“Iya sih, tapi aku janji kalau ini bakal seru banget,” kata Salma. Ia tersenyum lalu melanjutkan, “Aku ajak temen-temen yang lain juga deh, biar lebih seru.”

“Ya udah, terserah kamu. Kalau banyak yang ikut, aku bakal ikut,” ucapku dengan mantap.

“Oke, deal,” jawabnya cepat.

Beberapa hari setelah itu, terdengar suara ketukan pintu rumah di pagi hari. Aku segera membuka pintu dan mendapati teman-temanku—Alif, Reina, Sabrina, Fela, dan Salma—yang sudah siap pergi berdiri sambil tersenyum. Sambil menghela napas dan tersenyum pasrah, aku berkata, “Oke, aku ikut. Kalian masuk aja dulu. Aku mau siap-siap.” Kemudian mereka masuk kedalam rumah sambil bersorak.

Tak lama kemudian, kami berangkat bersama. Setelah perjalanan yang cukup jauh, kami akhirnya sampai di tempat wisata Kali Dayung. Sesampainya di sana, ternyata kami harus berjalan kaki menuruni jalan untuk menuju ke sungai. Pengunjung bisa turun dengan berjalan kaki, menggunakan motor pribadi atau naik ojek yang tersedia. Salma mengusulkan untuk berjalan kaki dan kami pun menyetujuinya. Namun, ternyata untuk sampai ke tujuan tidak semudah yang kami bayangkan. Jalanan yang harus kami tempuh ternyata cukup jauh, curam, dan sempit. Hingga akhirnya, belum mencapai setengah perjalanan, aku dan teman-teman mulai merasa kelelahan.  “Aduh, jalannya sejauh ini? Kalau kita naik ojek aja gimana? Capek banget, sumpah,” keluh Reina sambil menyeka keringat di dahinya.

“Ayo, pasti bisa kok. Nggak sejauh itu, anggap aja olahraga pagi,” jawab Salma santai. Ia mengajak kami untuk menikmati perjalanan saja sambil melihat pemandangan sekitar. Sepanjang jalan, Salma terus berceloteh untuk menyemangati kami. Meski begitu, perjalanan tetap terasa sangat lama—sekitar tiga puluh menit—dan cukup melelahkan. 

Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya kami sampai di bawah. Rasa lelah seolah langsung terbayar ketika melihat pemandangan di depan mata. Tempat itu begitu indah, dengan suasana yang sejuk dengan sedikit cahaya dari matahari yang seolah mengintip dari balik awan. Meskipun belum terlalu ramai, ada cukup banyak pengunjung yang datang lebih awal seperti kami. Pemandangan yang aku lihat dari video di media sosial terwujud menjadi nyata dihadapanku. Kami pun bermain air dengan penuh kegembiraan. Air yang dingin terasa begitu menyegarkan setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Tawa kami bercampur dengan suara gemericik sungai, menciptakan suasana yang hangat dan menyenangkan. Setelah puas bermain air, kami mulai menggelar tikar di atas bebatuan besar yang cukup datar, lalu berbagi tugas dan memulai kegiatan memasak. Aroma sosis yang mulai matang bercampur dengan udara segar di sekitar kami. Sambil menunggu masakan siap, kami duduk melingkar dan mulai berbincang. Obrolan kami mengalir begitu saja—tentang kehidupan kami sejauh ini, cerita-cerita yang belum sempat dibagikan, hingga rencana masa depan yang masih terasa jauh namun menyenangkan untuk dibayangkan. Sesekali, tawa pecah ketika salah satu dari kami mengingat kejadian lucu di masa lalu. Ketika makanan akhirnya matang, kami langsung menyantapnya bersama-sama. Di tengah suasana santai itu, tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri kami. “Permisi, Mbak. Boleh saya pinjam baskomnya?” katanya kepada Salma.

“Eh, boleh, Mas. Ini, ambil saja,” jawab Alif santai.

“Terima kasih ya, Mbak,” ujar laki-laki tersebut, lalu dibalas Alif dengan anggukan. 

Setelah itu, ia kembali ke tempat teman-temannnya yang ternyata berada tidak jauh dari tempat kami duduk. Namun, tidak lama kemudian, laki-laki itu kembali. Sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, ia berkata, “Maaf mengganggu lagi, Mbak. Kalau nggak keberatan, boleh pinjam sendok dan piringnya?”

Kami saling berpandangan, lalu tertawa kecil. “Boleh mas, ini bawa aja,” jawab Alif dengan tawa kecil. Setelah selesai makan, kami menyadari bahwa makanan kami masih banyak tersisa. Namun, tidak ada satupun dari kami yang ingin membawanya pulang. Selain karena sudah kenyang, kami juga teringat betapa lelahnya perjalanan turun tadi. Rasanya berat jika harus membawa semua itu kembali naik. 

Di tengah kebingungan itu, Fela memberikan usul, “Gimana kalau kita kasih ke mas-mas tadi?” 

“Setuju. Lagian mas-mas tadi sama temen-temennya kok,” ujar Sabrina.

Awalnya kami ragu karena merasa kurang enak—bagaimanapun itu adalah makanan sisa kami.

“Eh, tapi nggak apa-apa?” bisikku pelan.

“Nggak apa-apa, kok. Siapa tahu mereka mau,” jawab Sabrina meyakinkan. “Daripada mubazir juga,” tambahnya lagi.

Aku dan yang lain saling berpandangan sejenak, masih sedikit ragu. “Yaudah, kita tawarin aja dulu,” ujar Sabrina. Akhirnya kami sepakat untuk tetap menawarkannya, dengan Salma sebagai perwakilan.

“Permisi, Mas,” panggil Salma sambil mendekati mereka.

Salah satu dari mereka, yang tadi meminjam baskom, menoleh. “Iya, Mbak?”

“Ini kami ada makanan lebih. Kalau berkenan, masnya mau?” tanya Salma sedikit ragu.

“Serius, Mbak?” wajahnya langsung berubah cerah.

“Iya, Mas. Daripada nggak habis,” jawab Salma sambil tersenyum.

“Wah, mau banget, Mbak. Makasih banyak, ya!” katanya antusias. Dari tempat kami duduk, kami saling berpandangan dan tertawa kecil melihat reaksinya.

“Wah, rezeki banget ini,” kata yang lain sambil menerima makanan itu.

“Iya, ini pas banget lagi lapar,” tambah temannya. Salma hanya menanggapinya dengan senyuman.

“Ngomong-ngomong, tempatnya bagus banget, ya. Nggak sia-sia datang jauh-jauh. Mbak asalnya dari mana, kalau boleh tahu?” tanya salah satu dari mas-mas yang tadi meminjam baskom sambil tersenyum, mencoba membuka obrolan lebih santai.

“Lumayan jauh dari sini, Mas. Tapi masih Jepara kok, ” jawab Salma santai.

“Pantesan bawaannya lengkap banget,” katanya lagi sambil tertawa kecil. Kami ikut tertawa.

“Eh… boleh kenalan nggak?” tanyanya kemudian, sedikit ragu.

Kami saling berpandangan lagi. “Boleh dong,” jawab Salma santai.

“Kenalin, aku Dimas,” lanjutnya sambil sedikit tertawa kecil, lalu mengulurkan tangan ke arah Salma.

Salma menjabat tangannya dengan santai. “Salma.”

“Kalau nggak keberatan, saya mau minta Instagram-nya boleh?” lanjutnya. 

Salma menoleh ke arah kami semua, seolah meminta persetujuan.

Aku dan yang lain langsung saling menatap. “Kalau aku nggak, deh. Kamu aja, Sal,” kataku cepat, lalu diangguki oleh yang lain. Salma mengangguk santai lalu menyebutkan nama akunnya.

“Siap, makasih ya, Mbak,” ujar Dimas.

“Yaudah, Mas, kami sekalian pamit, ya,” kata Salma.

“Iya, hati-hati di jalan, Mbak,” balas mereka.

“Siap, makasih juga,” sahut Salma singkat.

Kami pun mulai merapikan barang-barang, memasukkannya kembali ke dalam tas dengan sisa tenaga yang kami punya. Setelah itu, kami berjalan meninggalkan Kali Dayung dan mulai mendaki jalan yang tadi kami turuni. Perjalanan naik terasa jauh lebih berat. Napas kami terengah, langkah kami melambat, tapi tawa tetap sesekali terdengar di antara keluhan-keluhan kecil.

“Kenapa tadi nggak naik ojek aja, sih?” keluh Reina.

“Kamu tadi yang setuju jalan kaki lagi,” jawabku sambil tertawa kecil.

Akhirnya, setelah perjuangan yang cukup panjang, kami berhasil sampai di atas. Rasa lelah langsung terasa, tapi juga ada kepuasan tersendiri. “Ke rumahku aja dulu, yuk,” ajak Sabrina. Kami pun setuju. Sesampainya di rumah Sabrina, kami langsung duduk santai, melepas lelah, dan kembali mengobrol ringan seperti biasa. Tiba-tiba notifikasi dari ponsel Salma berbunyi.

“Eh, di-DM,” katanya sambil tersenyum kecil.

“Siapa?” tanya Fela penasaran.

“Mas-mas tadi,” jawab Salma singkat.

Kami hanya tertawa kecil menanggapinya. Bagi kami, itu hanya kejadian lucu hari itu—tidak lebih. Setidaknya, itu yang aku tahu saat itu.

Beberapa minggu kemudian, aku dikejutkan oleh sebuah unggahan di Instagram Salma. Di sana, ia terlihat sedang berada di tempat yang sama—Kali Dayung, hanya berdua dengan mas-mas yang dulu meminjam baskom kami. Mereka duduk berdampingan, tersenyum ke arah kamera, dengan latar sungai yang sama dan iringan lagu Pandangan Pertama dari RAN. Meski terkejut, aku  tersenyum kecil melihatnya. Rasa penasaran langsung muncul, dan tanpa pikir panjang aku segera menghubungi Salma. “Sal, ini serius?” tanyaku.

“Hahaha. Iya,” jawabnya santai.

“Lah, kok bisa sih?” aku masih belum percaya.

Salma tertawa kecil. “Kamu tau nggak? Sebenernya, dari awal itu, pas dia minjam baskom ke Alif, dia tuh malah lirik-lirik ke aku.”

“Hah, serius? Waktu itu kamu udah sadar?” aku makin kaget.

“Iya. Tapi aku nggak terlalu anggap apa-apa. Terus selama kita ngobrol di Instagram, ternyata aku sama dia nyambung banget. Apalagi kita punya banyak ketertarikan yang sama,” lanjutnya.

“Gila sih… nggak nyangka banget,” kataku sambil tersenyum. “Yaudah, yang penting kamu bahagia.” Salma mengucapkan terima kasih sambil tertawa. Telepon pun terputus, sementara senyumku masih tertinggal. 

Ternyata, dari hal yang terlihat sederhana—sekadar meminjam baskom di tengah perjalanan—bisa menjadi awal dari cerita yang tidak pernah kami duga sebelumnya.

Dalam hati, aku jadi bertanya-tanya. Apakah Salma yang waktu itu begitu bersemangat mengajak kami ke kali Dayung, sebenarnya adalah semacam pertanda dari alam? Seolah-olah, tanpa ia sadari, ada sesuatu yang menunggunya di sana. Sebuah pertemuan yang sederhana, tapi bermakna. Sebuah awal dari cerita yang lebih panjang. Dan mungkin, tanpa kami sadari saat itu, hari yang terasa biasa saja bagi kami, ternyata menjadi hari yang sangat berarti bagi Salma—hari di mana ia akhirnya menemukan tambatan hatinya. (*)