Oleh Syarifa Nur Hidayanti
Saat malam mulai menyelimuti langit, aku akan memulai perjalanan panjang lagi setelah bertahun-tahun lamanya. Aku akan mengikuti setiap langkah yang akan membawaku ke Masohi, tempat di mana ibuku dilahirkan. Kali ini, aku melakukan perjalanan bersama dengan ayahku.
Kami memulai perjalanan di malam hari dengan menggunakan bus travel yang akan membawa kami ke Bandara Internasional Juanda. Perjalanan terasa sangat sunyi, di dalam bus aku merasa sangat kedinginan. Sambil kupeluk boneka beruang kecilku, aku berkata, “Bapak, kok dingin banget ya?”
Ayahku tersenyum dan menyelimutiku dengan jaket. Aku hanya menatap keluar jendela, lalu tertidur. Akhirnya kami sampai di Rest Area, kami dipersilakan untuk turun dan masuk ke sebuah restoran. Langit masih gelap, angin terasa sangat dingin, seperti dini hari. Aku duduk berhadapan dengan ayahku, dengan secangkir teh panas di tangan kami dan sepiring nasi rames. Aku hendak beranjak untuk mengambil es batu, namun ayahku melarang, masih pagi katanya.
Kami melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Selama perjalanan, aku selalu tertidur pulas entah mengapa. Suasana sunyi, nyaman dan terbalut dengan selimut, membuat mataku terasa lebih berat dan mengantuk.
Ayahku membangunkanku, “Sari, kita sudah sampai”
Aku membuka mata dengan perasaan yang berubah menjadi sangat bahagia dalam sekejap. Kami sampai pukul 04.00 WIB, sementara keberangkatan kami pukul 09.00 WIB.
“Apa yang akan kita lakukan selama 5 jam kedepan?” tanyaku dalam hati.
Kami berjalan menuju bandara dan langsung melakukan check-in. Setelah itu, kami menaruh barang bawaan kami di kursi tunggu dan mulai berjalan untuk mencari sarapan, lalu kami menemukan pujasera yang menjual soto. Saat mencoba, ayahku mengatakan “Lebih enak soto Pak Budi”, aku tertawa. Soto Pak Budi adalah restoran langganan keluarga kami yang ada di Banyumanik dan memang rasanya sangat lezat sekali. Setelah makan, kami kembali ke kursi tunggu untuk beristirahat dan aku memutuskan untuk kembali tidur.
Ayah membangunkanku dan mengajakku untuk segera pergi ke Gate yang kami tuju. Kami berjalan menyusuri koridor bandara yang sangat ramai dan aku merasa sangat bahagia. Setelah sampai di Gate, kami melakukan pengecekan dan duduk kembali untuk menunggu jam keberangkatan. Setelah 30 menit kami menunggu, akhirnya pintu keberangkatan dibuka. Kami diarahkan untuk naik bus terlebih dahulu untuk menuju ke pesawat. Sesampainya kami di pesawat, ayahku langsung mencari tempat duduk kami sesuai dengan tiket dan menaruh barang bawaan di bagasi kabin bagian atas. Kami menunggu hampir satu jam, akhirnya pesawat akan lepas landas. Perjalanan ini ditempuh selama dua jam dan kami akan transit terlebih dahulu di Bandara Hasanuddin. Aku kembali memeluk bonekaku dan tertidur pulas selama penerbangan. Ayah membangunkanku, kami tiba di Makassar.
Setibanya kami di Makassar, kami hanya memiliki waktu transit sebanyak satu jam. Kami bergegas untuk melakukan pengecekan kembali agar tidak ketinggalan pesawat. Aku sangat terpukau dengan desain interior bandara ini. Langkahku melambat dan mulai menatap dengan baik ke arah lukisan-lukisan yang ada di sana dan tanpa sadar, aku tertinggal di belakang. Tapi akhirnya, ayahku menghampiriku dan berkata, “Ayo! Fokus sama jalannya, nanti kita ketinggalan pesawat!” Aku mulai mempercepat langkahku dan mengikuti ayahku. Kami langsung pergi ke Gate yang akan kami tuju. Ini adalah penerbangan kami menuju Bandara Pattimura, Ambon.
Kali ini, penerbangan hanya membutuhkan waktu satu setengah jam. Aku tidak tertidur, aku fokus memandangi bumi dan awan dari jendela pesawat. Cuaca saat itu sangat cerah, sehingga aku bisa melihat bumi dengan jelas. Betapa indahnya pemandangan dari atas sini, semuanya terlihat tidak nyata. Akhirnya kami sampai juga di bandara dan langsung menuju ke parkiran, saudara kami sudah menunggu untuk menjemput kami. Kami langsung berangkat untuk menuju penginapan dan perjalanan ini ditempuh selama 45 menit.
Setelah sampai di penginapan, aku terpukau. Penginapan ini berhadapan langsung dengan laut, memang bukan laut yang sangat indah, tetapi sebagai orang yang tinggal jauh dari pesisir pantai tentunya ini merupakan hal baru. Sesampainya di penginapan, kami lamgsumg menaruh barang bawaan dan beristirahat sampai sore tiba. Ketika kami keluar penginapan untuk mencari makan, langit kala itu terlihat sangat indah. Warna jingga yang menyebar ke seluruh langit membuat suasana terasa hangat. Kami berjalan menyusuri jalan dan menemukan sebuah gubuk yang menjual nasi kuning, “Kami beli dua bungkus, ya”, kata ayahku. Kami berjalan kembali ke penginapan dengan aku yang membawa plastik berisi dua bungkus nasi kuning. Setelah sampai, kami langsung menyantap nasi kuning itu sembari menatap ke arah laut yang mulai memantulkan cahaya rembulan. Disaat langit mulai gelap, kami memutuskan untuk pergi tidur.
Pagi itu, pukul 06.00 WIT, matahari mulai memancakan sinarnya. Semua perlengkapan sudah kami siapkan dan kami bersiap untuk pergi ke Pelabuhan Tulehu. Karena jarak yang cukup jauh dan barang bawaan yang banyak, kami memanggil ojek untuk mengantar kami. Sesampainya di pelabuhan, Ayah langsung membeli tiket dan kami langsung berjalan menuju kapal. Perjalanan menggunakan kapal ini ditempuh selama dua jam. Setelah menemukan tempat duduk, kami menunggu selama 30 menit sebelum keberangkatan. Aku menyiapkan plastik hitam kecil, berjaga-jaga jika mabuk laut. Kapal mulai dijalankan, aku berjalan menuju area luar kapal dan melihat air yang terbelah oleh laju kapal, menciptakan percikan-percikan kecil yang berkilau diterpa cahaya.
Aku kembali ke tempat duduk dan memilih untuk tidur sepanjang perjalanan. Tak lama, Ayah membangunkanku dan berkata, “Kita sudah sampai’. Kami telah tiba di Pelabuhan Amahai, Masohi, disitu sudah ada adik dari ibu yang sudah menunggu kedatangan kami, mama Dian. Kami berjalan untuk mencari angkutan umum, perjalanan ini ditempuh selama 15 menit. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, kami sampai di rumah masa kecil ibu. Disana, ibu dan adikku sudah menunggu kedatangan kami. Ayah membawa barang bawaan kami masuk, sementara seluruh keluarga datang mengerumuniku untuk memberikan ucapan selamat datang dan pelukan hangat. Rasa bahagia aku rasakan, karena ini pertama kalinya aku melihat mereka secara langsung. Lalu, aku masuk ke rumah dan beristirahat di kamar yang sudah disediakan.
Keesokan paginya, aku terbangun karena mendengar suara pedagang roti keliling. Ibu itu membawa plastik besar berisikan roti, memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat sekitar untuk memakan roti di pagi hari didampingi dengan teh panas. Setelah menikmati roti tersebut, kami sekeluarga bersiap untuk pergi ke Pantai Ruta. Kami menyewa angkutan untuk transportasi, perjalanan ditempuh selama 45 menit. Sesampainya kami disana, kami langsung membuka tikar dan duduk bersantai sembari menikmati angin laut dan suasana pantai yang begitu syahdu. Tentu saja kami membawa bekal untuk makan siang, berbagai olahan hasil laut kami nikmati. Selesai dengan makan siang, kami langsung bermain air dan berenang di pantai, semua terasa sangat menyenangkan.
Sepulangnya kami dari Pantai Ruta, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Ina Marina. Ketika hampir sampai di Pantai Ina Marina, saat melewati jalan di desa, aku melihat warga sedang menari bersama dengan musik berjudul “Tobelo” yang memang sedang populer kala itu. Senja di Pantai Marina terlihat sangat menakjubkan, langit berwarna jingga dan laut memantulkan sinarnya. “Aku ingin terus disini, aku tak mau pulang ke Jawa”, kataku dalam hati. Ketika langit mulai gelap, kami memutuskan untuk pulang ke rumah dan istirahat.
Besoknya, adik ibuku, kaka Onong mengajakku jalan-jalan menggunakan motor, entah kemana. Perjalanan yang cukup panjang kami tempuh sekitar 30 menit. Dia mengajakku untuk pergi ke wisata hutan mangrove. Pertama kalinya aku pergi ke wisata hutan mangrove, aku sangat takjub melihatnya. Ujung jalan hutan mangrove ini merupakan laut, pendopo berwarna biru berada didekat situ dan kami berjalan menuju pendopo tersebut. Lautnya terlihat sangat jernih, bersih, dan tidak tercemar. Ikan-ikan kecil berlarian kesana kemari, “Lucu ya”, gumamku. Tak lama. Kaka Onong memanggilku dan mengajakku untuk pergi ke tempat selanjutnya. Ia mengajakku utnuk pergi melihat rusa. Tempat itu terlihat seperti pekarangan, namun sangat luas sekali. Kaka Onong bilang bahwa rusa tersebut yang jumlahnya puluhan adalah milik sebuah keluarga. Aku memberi makan rusa itu dengan dedaunan yang ada disitu, tenang saja, ada pagar pembatasnya. Setelah puas bermain dengan rusa, kaka Onong mengajakku untuk pulang. Sesampainya dirumah, aku memutuskan untuk istirahat lalu tidur.
Waktu berlalu, tak terasa sudah lima hari aku dan ayahku berada disini. Kami memutuskan untuk pulang di hari keenam, jadi kami memutuskan untuk menata barang bawaan kami dan Bersiap untuk berangkat ke Pelabuhan Amahai besok pagi. Keesokan paginya, kami berpamitan dengan ibuku dan adikku, karena mereka akan pulang menyusul. Seluruh keluarga memberikan ucapan selamat tinggal dan hati-hati di jalan. Lalu, kami diantar mengunakan motor menuju pelabuhan, membeli tiket, dan langsung masuk ke kapal. Saat duduk di kapal, aku menangis, “Kenapa ini terasa sangat singkat?” kataku dalam hati. Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, aku memilih untuk tidur selama perjalanan. Rute pulang kami masih sama, hanya saja penerbangan terakhir kami berakhr di Bandara Ahmad Yani, Semarang. Di sana, nenek dan kakak ayahku sudah menunggu kedatangan kami. Aku pulang, menyisakan rasa rinduku untuk Masohi.
Jika aku masih diberi kesempatan. aku ingin kembali ke Masohi. Aku ingin mendatangi tempat-tempat yang pernah aku datangi sebelumnya untuk mengenangnya. Karena, setelah Ayah tiada, semua hanya tersisa kenangan. Mungkin aku bisa kembali ke Masohi, namun tidak dengan orang yang sama, yaitu Ayah. Semua terasa seperti angin yang singgah, membawa rasa yang tak sempat kumengerti sebelumnya, sebelum akhirnya hilang bersama waktu. Ia meninggalkan sejuk yang sebentar, juga hampa yang pelan-pelan menetap, seolah mengajarkan bahwa tidak semua yang hadir ditakdirkan untuk tinggal. (*)