Oleh Muhammad Rizza Irfan Nabil
Saya lahir dan besar di Kota Kudus. Sebagai kota yang dikenal dengan sebutan Kota Kretek, Kudus memiliki atmosfer yang unik, perpaduan antara ramainya industri dan ketenangan suasana di Kota Kudus. Sejak kecil, saya sudah sering menyaksikan pemandangan bus-bus peziarah yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang saya anggap sangat wajar.
Salah satu ingatan yang paling membekas dalam memori masa kecil saya adalah saat sekolah dasar mengadakan kunjungan ke Makam dan Menara Kudus. Meskipun sebagai warga lokal saya sering melewati kawasan tersebut, mengunjunginya bersama teman-teman sekelas memberikan sensasi yang berbeda. Ada rasa antusiasme yang muncul saat kami bersiap berangkat dengan seragam sekolah yang rapi.
Perjalanan menuju kawasan Kauman, tempat Menara Kudus itu berdiri, memberikan kesan tersendiri. Saya dan teman-teman harus melewati gang-gang sempit yang diapit oleh bangunan tua dengan arsitektur yang khas. Tembok-tembok bata merah yang tinggi dan pintu kayu besar di sepanjang jalan seolah membawa kami kembali ke masa lalu, tidak seperti suasana modern di pusat kota.
Begitu sampai di depan Menara Kudus, saya merasa takjub. Bangunan yang terbuat dari bata merah itu berdiri dengan sangat kokoh dan memiliki bentuk yang tidak biasa. Jika masjid pada umumnya memiliki menara dengan kubah, Menara Kudus justru menyerupai bangunan candi. Guru saya menjelaskan bahwa ini adalah bentuk penghormatan Sunan Kudus terhadap budaya Hindu yang ada sebelumnya.
Kami kemudian diarahkan untuk memasuki kompleks masjid dan makam. Sebelum masuk, ada hal wajib yang harus dilakukan, yaitu melepas alas kaki. Saya masih ingat bagaimana rasanya telapak kaki menyentuh lantai batu yang agak dingin di pagi hari, memberikan rasa tenang sebelum kami melanjutkan langkah ke area yang lebih dalam.
Di dalam kompleks tersebut, terdapat tempat wudu yang sangat ikonik dengan delapan pancuran. Di atas setiap pancuran terdapat ukiran kayu yang halus dan bernilai seni tinggi. Tempat wudhunya yang bersih ini selalu berhasil membuat saya merasa lebih segar dan tenang sebelum berziarah.
Untuk menuju area makam Sunan Kudus, kami harus melewati beberapa pintu kayu yang ukurannya cukup rendah. Kami diberitahu bahwa desain pintu yang pendek ini memiliki filosofi agar setiap orang yang masuk secara otomatis merundukkan kepala. Hal ini merupakan simbol rasa hormat dan kerendahan hati saat memasuki tempat ini.
Suasana di dalam area makam terasa sangat tenang. Harum bunga mawar, melati, dan aroma kayu yang khas memenuhi udara di sekitar kami. Meskipun banyak peziarah yang datang dari berbagai penjuru daerah, suasana tetap terjaga sunyi. Kami duduk bersila di atas lantai, mengikuti rangkaian doa yang dipimpin oleh guru saya dengan penuh kekhusyukan.
Satu cerita yang tidak pernah terlewat dibahas dalam kunjungan tersebut adalah mengenai tradisi tidak menyembelih sapi. Sunan Kudus mengajarkan pengikutnya untuk menghargai pemeluk agama Hindu dengan cara tidak mengonsumsi sapi, dan menggantinya dengan kerbau. Hingga saat ini, tradisi itu tetap terjaga di Kudus, sehingga soto atau pindang yang biasa orang Kudus makan sehari-hari selalu menggunakan daging kerbau.
Setelah selesai berziarah, kami diberikan waktu luang untuk melihat-lihat detail bangunan. Saya sering terpaku memperhatikan piring-piring kuno yang tertanam di dinding menara dan masjid. Piring-piring tersebut konon berasal dari negeri Tiongkok, yang sekali lagi menunjukkan betapa luasnya pergaulan dan pengaruh budaya yang diterima oleh masyarakat Kudus di masa lampau.
Sebelum pulang, kami menyempatkan diri untuk membeli jajanan di sekitar kawasan Menara. Bau manis dari Jenang Kudus yang sedang dimasak berhasil menggoda kami yang mulai lapar. Menikmati jajanan jenang yang hangat bersama teman-teman sambil berjalan santai menuju kendaraan jemputan adalah penutup yang paling tepat untuk perjalanan hari itu.
Kenangan kunjungan waktu SD tersebut memberikan saya pemahaman bahwa menjadi orang Kudus berarti membawa warisan toleransi yang sangat tinggi. Setiap kali saya melihat Menara Kudus, pasti saya merasa kagum. Saya kagum dengan bangunannya dan dengan toleransi dari Sunan Kudus ke umat Hindu.(*)