Hari yang Penuh Drama

Oleh Nurul Qur’atun

Pagi itu dimulai seperti hari biasa, tapi ternyata berakhir jadi salah satu hari paling berkesan dalam hidupku. Kelasku sedang ada praktik mata pelajaran Mulok. Kami diminta membuat makanan dan minuman, dan kelompokku memilih memasak soto serta membuat es campur.

Suasana pagi itu ramai dan seru. Kami, para cewek, sibuk di dapur menyiapkan bahan, sementara anak cowok seperti biasa lebih banyak bermain daripada membantu. Meski begitu, semuanya terasa menyenangkan.

Di tengah kesibukan itu, muncul rencana dadakan: teman-temanku ingin pergi ke Curug bersama setelah kegiatan selesai. Awalnya aku menolak. Aku beralasan harus mengerjakan portofolio karena saat itu bertepatan dengan pendaftaran SNBP. Tapi mereka terus membujuk, bahkan sampai menarik-narik tanganku. Katanya, aku selalu absen setiap ada acara jalan-jalan kelas.

Akhirnya, aku mengalah. Mungkin sekali ini tidak apa-apa, pikirku.

Setelah semua masakan selesai, kami berkumpul di sekolah. Soto dan es campur yang kami buat langsung dicicipi oleh guru. Sebagian kami bagikan ke guru-guru lain, dan sisanya kami nikmati bersama. Setelah itu, tanpa banyak jeda, kami berangkat menuju curug yang berada di kecamatan lain.

Perjalanan sekitar tiga puluh menit terasa begitu menyenangkan. Kami melewati hamparan sawah, perbukitan, dan perumahan warga. Angin sepoi-sepoi menemani sepanjang perjalanan, membuat suasana semakin hidup.

Sesampainya di sana, kami harus berjalan kaki sebentar untuk mencapai spot yang bagus. Begitu sampai, teman-temanku langsung berlarian menuju air dan mulai bermain. Aku hanya duduk di pinggir bersama teman sebangkuku, menikmati soto sambil menonton mereka. Kami tidak membawa baju ganti, jadi memilih untuk tetap kering.

Beberapa kali aku ditarik-tarik agar ikut turun ke air, tapi aku tetap menolak sambil tertawa. Airnya terlihat sangat jernih, dan teman-temanku tampak sangat menikmati momen itu.

Namun, keseruan itu tiba-tiba berubah menjadi kepanikan.

Salah satu temanku, Atun, terseret arus. Kami semua langsung panik dan berteriak. Untungnya, Adi dengan sigap melompat dan berhasil menyelamatkannya. Mereka berdua selamat, tapi Atun terlihat sangat syok. Dengan suara gemetar, ia bercerita bahwa ia merasa seperti ada sesuatu yang menarik kakinya.

Beberapa teman langsung berbisik, mengatakan bahwa tempat itu angker. Suasana yang tadinya riang mendadak berubah sunyi. Menjelang waktu ashar, kami memutuskan untuk pulang. Kupikir drama hari itu sudah cukup sampai di situ, tapi ternyata belum.

Di tengah perjalanan pulang, motor yang ditumpangi Atun tiba-tiba mogok. Kami kebingungan karena jumlah motor jadi tidak cukup untuk semua. Akhirnya, beberapa dari kami harus berboncengan tiga, sementara motor yang mogok diderek oleh teman cowok lainnya.

Perjalanan pulang terasa lebih melelahkan, tapi juga penuh tawa dan kebersamaan.

Hari itu benar-benar penuh drama dari memasak, perjalanan seru, kejadian menegangkan di curug, hingga motor mogok di jalan. Namun, justru karena semua itu, hari tersebut menjadi kenangan yang tidak akan pernah kulupakan.(*)