Oleh Prasasti Dwi Setyowindiyati
Pemalang tidak pernah benar-benar ramai, tapi tidak juga sepenuhnya sepi. Kota kecil di pesisir utara itu selalu berjalan dengan ritmenya sendiri, pagi yang lembap, siang yang panas, dan malam yang tenang dengan suara jangkrik yang tidak pernah absen. Di rumah sederhana kami, angin kadang membawa bau laut dari arah utara, bercampur dengan suara televisi yang menyala pelan di ruang tengah. Semua terasa biasa, terlalu biasa sampai-sampai sulit membedakan mana hari spesial dan mana yang tidak.
Di tempat seperti ini aku tumbuh, terbiasa dengan hal-hal yang datang tanpa banyak perubahan. Mungkin itu sebabnya, ketika tanggal 7 April datang setiap tahun, aku diam-diam berharap ada sesuatu yang sedikit berbeda. Tidak perlu besar ataupun mewah, cukup sesuatu yang membuat hari itu terasa tidak sama seperti hari-hari lainnya.
Tahun lalu, tepat di pergantian dari 6 ke 7 April, aku sengaja melawan kantuk. Ponsel sudah ada di tangan sejak beberapa menit sebelum tengah malam. Mataku terpaku pada angka yang bergerak pelan, 23.59. Aku menunggu, menahan napas tanpa sadar, seolah satu detik setelahnya akan membawa sesuatu yang aku tunggu. Lalu angka itu berubah menjadi 00.00, dan tidak lama kemudian notifikasi pertama masuk. Seperti yang sudah bisa kutebak, itu darinya.
“SELAMAT ULANG TAHUN!!!!!” Dia seperti tak pernah bosan mengucapkan itu setiap tahunnya. Aku tersenyum melihat pesannya. Aku membaca pesan panjang yang isinya cuma membuatku tersenyum dan sedikit membuatku menangis terharu karena memiliki dia. Dan tentu saja aku berterima kasih karena dia selalu menjadi yang pertama mengucapkan ulang tahun. Malam itu aku tidur dengan perasaan yang sangat senang, seakan-akan aku tidak ingin tidur saat itu. Dalam hati, aku sempat menyusun harapan kecil untuk pagi nanti, mungkin hanya ucapan sederhana dari ibu, kakak, dan adek atau sekadar sapaan yang berbeda dari biasanya.
Pagi datang seperti biasa; rumah tetap seperti biasanya. Aku terbangun agak terlambat dari biasanya, lalu aku berjalan menuju dapur dan melihat ibuku sedang memasak seperti biasa. Aku berjalan menuju kulkas agar ibu bisa melihatku sudah keluar dari kamar dan berharap mendapat ucapan ulang tahun, tapi tidak ada. Pada akhirnya aku memulai pembicaraan.
“Bu, nanti siang aku mau pergi keluar sama Amar.” Ucapku dengan harapan setelah ini Ibu akan mengucapkan ulang tahun. “Oh iya, hati-hati.” Ucapnya. Tidak ada ucapan apa pun. Di situ ada perasaan kosong yang mulai terasa atau perasaan kecewa. Aku pun tidak bisa membedakannya.
Saat aku sudah keluar dengan Amar, aku excited, tapi pikiranku masih memikirkan kejadian di rumah. “Ibu kayaknya lupa kalau aku ulang tahun hari ini.” Ucapku pelan. “Ga mungkin, tapi gapapa ada aku di sini.” Katanya singkat. Memang kalimat itu membuat hatiku sedikit tenang, meskipun di pikiran masih ada sesuatu yang mengganjal. Dan memang, untuk beberapa saat kemudian semuanya biasa-biasa saja. Aku merayakan ulang tahunku dengan Amar. Dia memberikanku hadiah dan kue kecil. Kami menghabiskan waktu dengan hal-hal sederhana, bercerita, tertawa, makan bersama, dan untuk sesaat aku benar-benar merasa bahagia. Aku juga mendapat beberapa pesan dari teman-teman yang mengucapkan ulang tahun.
Waktu menjelang sore, kita memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan pulang, aku masih menyimpan harapan kecil. Mungkin di rumah nanti akan berbeda. “Happy gak?” tanya Amar. “Happy banget, makasih banyak ya buat hari ini.” Ucapku sambil tersenyum. “Sama-sama.” Balasnya singkat. Saat aku membuka pintu, yang menyambut hanya suasana yang sama, tenang, biasa, dan terasa kosong.
Aku masuk ke kamar, duduk di ujung kasur tanpa melepas tas, lalu menatap lurus ke depan, dengan pikiran yang entah sedang memikirkan apa. Dari luar, suara azan maghrib mulai terdengar dari musala dekat rumah, suara yang sejak kecil selalu terasa menenangkan. Tapi kali ini, pikiranku tetap penuh. “Apa mereka lupa ya?” gumamku pelan. “Masa lupa sih… aku kan anaknya.” Lanjutku, suaraku hampir tidak terdengar.
Setelah salat, ibu memanggilku ke ruang keluarga. “Nok, sini dulu, Ibu mau ngobrol.” Katanya. Aku mendengar kalimat itu. Pikirkku langsung membayangkan surprise seperti apa yang mereka siapkan, atau bagaimana cara mereka mengucapkan ulang tahunku atau apa pun itu. Aku terlalu senang sampai memikirkan banyak kemungkinan yang akan terjadi. Bahkan aku tak menyiapkan keburukan yang akan terjadi padaku. “Ibu mau kerja ke luar kota.” Katanya pelan. Aku terdiam. Aku bahkan tak bisa memikirkan apa. Ku kosong.
“Terus, kita gimana bu? Ibu mau ninggalin kita bertiga?” tanyaku pelan, dengan suara bergetar. “Kalian udah besar, bisa diberi tanggung jawab, kalian harus bisa jaga satu sama lain.” Kalimat itu terasa sederhana, tapi langsung terasa berat saat sampai ke pundakku.
Sejak saat itu, semuanya berubah. Rumah yang dulu terasa hangat perlahan terasa berbeda. Aku harus memastikan semuanya berjalan baik, harus mengingatkan, harus menjaga, sementara di sisi lain aku sendiri masih berusaha memahami semuanya. Kakak dan adikku tetap dengan dunia mereka masing-masing, seolah semuanya baik-baik saja.
Aku yang harus terus mengurus semuanya. Memasak, belanja, cuci baju, setrika baju, bersih-bersih rumah. Dan semakin hari, aku semakin lelah. “Aku ini saudara mereka, bukan pembantu,” gumamku pelan suatu malam, saat rumah sudah kembali sepi. Tapi tidak ada yang menjawab, tidak ada yang benar-benar mendengar. Aku merasa bahwa hanya aku yang diberi tanggung jawab sebesar itu. Aku merasa tidak adil. Di saat kakak dan adeku bersantai, hanya aku yang mengerjakan pekerjaan rumah. Apakah aku hanya pembantu di mata mereka? Adakah aku menjadi ibu kedua bagi mereka? Apa yang Ibu rasakan setiap harinya?
Hari-hari tetap berjalan di kota kecil ini seperti biasa: pagi yang datang tanpa ditunggu, sore yang pelan, malam yang sunyi. Tapi bagiku, semuanya tidak lagi sama. Ada sesuatu yang berubah, sesuatu yang tidak bisa aku kembalikan. Dan sejak hari itu, tanggal 7 April tidak lagi terasa seperti hari untuk dirayakan. Ia hanya datang setiap tahun, membawa kembali rasa yang sama dari sebuah hari yang seharusnya ringan, tapi justru meninggalkan beban yang tidak pernah benar-benar hilang.