Sebuah Kota Kecil Tempatku untuk Pulang

Oleh Habib Muhammad Ilham

 Salatiga bagiku adalah tempat yang tidak dapat kulepaskan. Saat aku masuk ke kota ini aku merasa lebih segar. Segala hal yang terasa menyesakan dada perlahan mulai terurai oleh udara sejuk yang menyegarkan, membuat napas terasa lebih lega.

 Gunung Merbabu tampak selalu gagah melindungi kota ini dari bahaya, seperti sebuah benteng yang melindungi segala hal di dalamnya.

 Udaranya yang dingin sudah seperti obat penawar dari penatnya kehidupan di kota besar. Rasanya seperti meneguk segelas air dingin di bawah terik matahari; membuat pikiran menjadi jernih dan membuat tubuh menjadi segar. 

 Di tempat ini tumbuhlah sikap toleransi layaknya bunga-bunga yang mekar di suatu taman. Meskipun bunga tersebut berbeda-beda, mereka terlihat rukun, serasi, dan indah dipandang oleh mata.

 Orang-orang di Salatiga seperti saudara yang selalu peduli. Senyum di wajah mereka selalu tulus bagaikan tali yang menghubungkan hati. 

 Makanan khas tempat ini walaupun terlihat kurang menarik, bagiku itu adalah bentuk kesederhanaan yang menyenangkan hati yang tidak dapat kumiliki di tempat lain. 

Gedung-gedung di tempat ini bagaikan lemari kenangan. Meski catnya sudah kesamaan dan dindingnya sudah retak, tempat ini masih menyimpan kenangan bagaimana seseorang tumbuh dewasa dari waktu ke waktu. 

 Pagi hari di alun-alun Pancasila adalah tempat dimana orang orang-orang berbagi tawa dan cerita. Dimulai dengan berolahraga dan diakhiri dengan sarapan bersama, tempat ini selalu dipenuhi dengan aktivitas manusia.

 Senja di Salatiga adalah penutup hari yang manis. Warnanya yang perlahan menjadi jingga selalu memanjakan mata dan memberikan harapan baru untuk esok hari.

Malam di tempat ini menyelimuti warganya yang sudah kelemahan dari aktivitas seharian. Udara dinginnya membuatku nyaman untuk merenung di tengah sunyi yang menyegarkan.

Kota ini bagaikan sebuah pelabuhan yang siap menampung perahu yang sudah kelelahan di lautan. Di tempat ini kami dapat menurunkan jangka dan beristirahat sejenak untuk hari esok.

Bagiku Salatiga bukan lah sekedar kota kecil, melainkan sebagai bagian dalam diriku. Ia adalah sebuah tempat yang akan aku selalu kunjungi lagi dan lagi, menjadi tempat paling menenangkan dalam hidupku.(*)