Cerpen karya Rafi Ramadhan
Namaku Rama Oslo Widjanarko. Aku berasal dari Rembang, Jawa Tengah. Aku adalah anak ketiga dari empat bersaudara dan sekarang sepertinya umurku sudah tua mungkin 27 tahun. Aku lahir pada tanggal 6 juli 2167 dan ya berarti sekarang sekitar tahun 2194.
Zaman sekarang manusia sudah mencapai puncaknya yang di mana manusia berhasil mencapai semua yang diinginkan. Teknologi sudah sangat maju dan lengkap sehingga membuat manusia zaman sekarang sudah semakin sedikit untuk menciptakan dan menemukan sesuatu yang baru. Mereka merasa seperti Tuhan, apa pun sekarang bisa menjadi kenyataan dan itu semua bisa dilakukan oleh seorang manusia.
Aku bekerja di perusahaan “Our Time” sebuah perusahaan yang bisa menciptakan mesin waktu. Aku bekerja dalam bidang pengujian produk dimana aku bisa menggunakan alat penjelajah waktu itu sesukaku. Alat itu berbentuk seperti jam tangan sehingga memudahkan penggunanya dan tidak terlalu membutuhkan banyak ruang.
Waktu itu pada tanggal 21 April merupakan hari untuk memperingati Kartini, seorang wanita yang memperjuangkan hak-hak perempuan. Aku menjadi sedikit tertarik bagaimana Kartini bisa disebut pahlawan emansipasi wanita. Aku bertanya pada diriku sendiri “Apa zaman dulu wanita ditindas dan didiskriminasi sehingga para wanita tidak mendapatkan hak belajar dan hidup seperti zaman sekarang?”
Pertanyaanku makin membuatku penasaran bagaimana kisah dan perjuangan dari seorang pahlawan emansipasi wanita, yaitu Raden Ajeng Kartini.
Kemudian aku teringat: agaknya aku bisa memuaskan rasa penasaranku secara langsung. Aku menatap pada jam tanganku dan berpikir, “Apa aku gunakan alat penjelajah waktu ini ya untuk kembali ke zaman Kartini dan melihat bagaimana perjuangannya?”
Tanpa pikir panjang aku pun menggunakan alat penjelajah waktu yang berbentuk jam itu. “Sebelum menjelajahi waktu aku harus mencari tahu dahulu kapan sejarah tentang Kartini itu terjadi,” pikirku.
Aku pun mengatur tanggal pada jam menjadi 21 April 1879 dan tempatnya di Jepara, hari di mana sang pahlawan wanita itu lahir.
Seorang bayi perempuan lahir dari keluarga bangsawan Jawa. Namanya Kartini. Wajahnya tenang, tapi entah mengapa, dari sorot matanya yang kecil itu, aku merasa ia akan tumbuh menjadi seseorang yang berbeda. Aku mengikutinya seiring waktu berjalan.
Kartini kecil tumbuh dengan penuh kasih, tetapi juga dibatasi oleh adat. Ia sempat merasakan bangku sekolah, belajar membaca dan menulis dalam bahasa Belanda sesuatu yang tidak semua perempuan dapatkan saat itu. Aku melihat betapa matanya bersinar setiap kali ia belajar hal baru. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Aku mempercepat waktu penjelajahanku hingga Kartini menginjak remaja. Aku menyaksikan momen yang terasa berat. Ia harus menjalani pingitan, sebuah tradisi yang mengharuskan perempuan tinggal di rumah sampai waktunya menikah. Pintu-pintu tertutup rapat, langkahnya dibatasi dan tidak dibiarkan bertemu dengan orang lain. Aku berdiri di sudut ruangan, melihatnya duduk di dekat jendela, menatap dunia luar yang seolah dirampas dan dijauhkan darinya.
Namun, di balik keterbatasan itu, Kartini tidak menyerah. Aku melihat ia mulai menulis. Pena dan kertas sekarang telah menjadi sebuah jendela barunya. Ia mulai menuliskan kegelisahan, harapan, dan mimpinya tentang kebebasan perempuan. Surat-suratnya ia kirimkan kepada sahabat-sahabatnya di Belanda. Aku bisa merasakan betapa kuat pikirannya, Kartini mempertanyakan tradisi, menentang ketidakadilan, dan bermimpi tentang pendidikan untuk perempuan.
Hari demi hari berlalu, aku menjadi saksi atas semangat Kartini yang semakin membesar. Ia sangat ingin merubah nasib para perempuan. Ia ingin para perempuan tidak hanya diam di rumah, tetapi juga berpendidikan, berhak untuk berpikir, dan memiliki hak yang sama dengan laki laki. Dalam diamnya, ia melawan.
Aku pun mempercepat waktu penjelajahanku lagi sampai waktu di mana Kartini menikah. Kartini menikah dengan Bupati Rembang. Aku sedikit khawatir apakah perjuangannya akan berhenti. Namun ternyata tidak justru ia malah semakin berani. Ia mulai mewujudkan mimpinya dengan mendirikan sekolah untuk perempuan di sekitar rumahnya di Rembang. Aku melihat banyak anak-anak perempuan datang dengan penuh rasa ingin tahu, dan Kartini mengajar mereka dengan penuh semangat. Itu adalah salah satu momen paling mengharukan yang pernah kusaksikan secara langsung.
Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Aku mempercepat waktu penjelajahanku lagi dan lagi sampai tiba pada tahun 1904. Aku berdiri di sisi ranjangnya. Tubuhnya lemah setelah melahirkan anak pertamanya. Ruangan terasa sunyi. Aku melihat wajahnya yang tenang, seperti menerima takdir yang menimpanya dengan lapang. Dalam usia yang masih sangat muda, 25 tahun, Kartini mengembuskan napas terakhirnya.
Namun ternyata, perjuangannya tidak berhenti di situ. Bertahun-tahun kemudian, aku melihat surat-suratnya dikumpulkan dan diterbitkan. Pikiran-pikirannya menyebar luas, menginspirasi banyak orang. Namanya terus dikenang, dan gagasannya tentang emansipasi perempuan menjadi bagian penting dalam sejarah. Sebagai saksi dari perjalanan hidupnya meski hanya dalam bayangan aku menyadari satu hal Kartini mungkin telah pergi, tetapi semangatnya tetap hidup.
Aku kembali menatap tanggal yang ada pada jamku dan bersiap untuk kembali di mana seharusnya aku berada. Akupun menekan tombol pada jamku sekali lagi dan akhirnya kembali dimana aku seharusnya. Kemudian aku menyadari betapa menderitanya wanita pada zaman dahulu apabila Kartini tidak melakukan hal hal seberani itu.
Dan setiap kali aku melihat perempuan belajar, berbicara, dan bermimpi, aku tahu perjuangan yang dulu kulihat dengan mata kepala sendiri itu, tidak pernah sia-sia. Aku pun kembali ke kehidupan kerjaku seperti semula. Aku melihat ada pekerja perempuan baru di kantor. Dia sangat cantik tubuhnya mungil dan sedikit berisi.
Aku berpikir, “Wah anak itu cantik sekali…. Apa aku coba ajak kenalan ya siapa tahu jodoh?”
Kemudian kuberanikan diri untuk mengajaknya mengobrol waktu istirahat kantor dimulai. “Hai, boleh kenalan, nggak? Namaku Rama. Kamu baru ya di sini?” sapaku sambil mendekat ke tempat dia beristirahat.
”Oh halo… ngagetin aja. Salam kenal, Rama. Namaku Meida. Aku anak baru di sini. Kok kamu tahu?” jawabnya dengan senyum tipis yang sangat manis.
”Hehehe iya. Soalnya aku nggak pernah ketemu orang seperti kamu di sini” jawabku dengan sedikit canggung.
”Oalah, Masnya sudah lama bekerja di sini ya? Mohon bimbingannya ya, Mas” jawab Meida dengan lembut. Kemudian kami bercerita sedikitlah bagaimana kita bisa berakhir bekerja di tempat seperti ini.
Keesokan harinya kami kembali bekerja di tempat yang sama. Pada waktu yang sama pada jam istirahat. Kami mulai mengobrol santai dan mencoba membahasa topik yang sedikit sensitif aku mulai bertanya dengan kesehariannya dan latar belakangnya.
Inilah cerita Meida:
Aku itu lahir di desa tempat yang sangat jauh dari perkotaan seperti ini. Aku dibesarkan oleh keluarga yang sangat baik dan sangat supportif meskipun kami tinggal di desa tetapi itu bukan masalah yang besar buat aku dan keluargaku. Waktu kecil aku sering sekali diajak ayahku untuk pergi bertani meskipun sudah ada alat yang canggih ayah tetap mengajaku bagiamana cara bertani yang benar sehingga nanti bisa jadi berguna untuk diriku. Aku juga suka menggambar, waktu kecil aku sering sekali menggambar hal hal yang indah seperti kupu kupu dan bunga. Hal yang kusukai selain menggambar adalah belajar mungkin ya aku suka belajar supaya nanti aku bisa meringankan beban keluargaku dan menjadi sosok yang sukses dan bisa membanggakan keluargaku.
Mulai saat itulah mataku terbuka dan aku harus semangat apapun yang terjadi agar bisa membahagiakan orang tuaku. SD terlewati dan aku mulai masuk bangku SMP pada waktu itu perekrutan untuk masuk ke SMA Taruna Nusantara dimulai dan aku berpikir, “Apa masuk SMA ini sebuah pilihan yang bagus ya?”
Aku pun mulai belajar dengan giat dan mengikuti semua tes seleksi SMA Taruna Nusantara. Beberapa hari kemudian pengumuman tiba dan terpampang jelas namaku pada layar pengumuman siswa yang diterima. Aku merasa sangat senang dan terharu. Mulai dari situ semangatku makin membara dan berani mencoba hal hal yang belum pernah kulakukan sebelumnya.
Sampailah waktu di mana aku harus berkuliah. Aku memilih kuliah pada Universitas Diponegoro waktu itu karena aku sangat ingin sekali menjadi orang yang bekerja di bidang teknologi. Aku pun mulai kuliah dengan giat dan rajin. Kemudian tibalah saatnya aku wisuda dari universitas itu. Aku merasa bangga karena menjadi satu satunya sarjana di dalam keluarga kecilku yang awalnya tidak memiliki apa-apa dan aku sudah berusaha sampai sejauh ini.
Waktu berjalan aku mulai menemukan tempat di mana aku bekerja, yaitu di sini, perusahaan “Our time” dan orang tuaku sudah menjadi sangat terbantu karena aku memberikan beberapa persen gajiku pada mereka sebagai balas budiku selama dia merawat dan membesarkanku.
“Wow, terharu banget…,” ujarku ketika Meida mengakhiri ceritanya.
“Makanya tidak usah mengira kalau aku dari kalangan keluarga orang kaya,” jawab Meida sambil tertawa.
Keesokan harinya aku semakin mendekatkan diri pada Meida, mencoba mengenalnya lebih dalam. Hari demi hari berlalu, kami makin dekat dan mungkin sudah waktunya untuk meneruskan ke ranah yang lebih serius. Pada tanggal 21 Desember 2197 aku mencoba melamarnya. Meida setuju.
Keesokan harinya pada tanggal 22 Desember kami melangsungkan pernikahan yang sangat sakral di mana dua jiwa yang berbeda disatukan menjadi satu untuk saling mencintai selamanya. Saat itulah aku sadar aku telah benar benar menemukan Kartiniku sendiri, yaitu dia, istriku yang sangat kusayangi: Meida.(*)