Kepulangan Si Anak Rantau

Oleh Rahel Josephine Simatupang

Lampu-lampu dari arah Singapura mulai terlihat berkerlip di seberang lautan saat aku berdiri di tepian Pantai Stulang Laut. Angin malam Batam yang lembap menyentuh kulitku, membawa aroma garam dan kenangan lama yang sempat terkubur di antara gedung-gedung tinggi.

Sudah lama aku tidak pulang ke rumah, tempat di mana ruko-ruko dan pelabuhan menjadi pemandangan sehari-hari. Kota ini selalu punya cara sendiri untuk menyambut warganya yang kembali, meski wajahnya kini sudah banyak berubah dengan jembatan-jembatan baru.

Saat sedang asyik melamun, sebuah tepukan keras mendarat di bahuku. Aku menoleh dan mendapati sosok kawan lamaku, Icha, yang menyeringai lebar sambil memegang kantong plastik berisi makanan.

“Woi, budak ni! Mane saje kau selama ni, tak nampak batang hidung?” (Woi, anak ini! Ke mana saja kamu selama ini, tidak kelihatan batang hidungnya?) seru Icha dengan logat Melayu Batamnya yang kental.

Aku tertawa melihat gayanya yang tidak berubah sedikit pun. Aku menjawab singkat, “Biasalah, Cha, merantau cari ilmu di tempat orang, nggak sempat pulang.”

Icha duduk di sampingku dan menyodorkan bungkusan yang tadi ia bawa. Ternyata isinya adalah Gonggong, makanan laut khas Kepulauan Riau yang sangat aku rindukan sejak pertama kali menginjakkan kaki di perantauan.

“Makanlah, mumpung masih panas. Budak-budak lain pun dah tanye-tanye kau kat mane.” (Makanlah, mumpung masih panas. Teman-teman lain pun sudah tanya-tanya kamu di mana.) katanya sambil mulai mengupas kulit siput tersebut.

Kami pun bercerita tentang masa sekolah dulu, saat kami sering menghabiskan waktu sore dengan berkeliling Nagoya atau sekadar duduk melihat kapal feri berangkat di Batam Centre. Rasanya baru kemarin kami bercita-cita ingin menaklukkan dunia.

“Dulu kita mau cepat-cepat lari dari sini, tapi sekarang sudah pulang, rasanya ngga mau pergi lagi.” ucapku sambil menatap cakrawala.

Icha hanya mengangguk setuju, ia bilang bahwa Batam memang punya daya tarik yang aneh; sejauh apa pun kita pergi, suara peluit kapal itu akan selalu memanggil untuk kembali ke pulau ini.

Malam semakin larut, suara deburan ombak di bawah dermaga terdengar makin jelas di telinga. Aku merasa tenang, menyadari bahwa identitas sebagai “anak rantau” tidak akan pernah hilang meski aku sudah berganti suasana di kota lain.

Dah lah, jom balek. Esok kite melantak lagi kat Jembatan Barelang.” (Sudah lah, ayo pulang. Besok kita makan besar lagi di Jembatan Barelang.) ajak Icha sambil bangkit dari duduknya. Kami pun berjalan menuju parkiran motor, menutup malam pertama kepulanganku dengan senyuman.(*)