Jejak Singkat di Kota yang Tak Pernah Tidur

Oleh Annisa Cahyani M.R. 

Sang surya terus naik menuju ke permukaan laut kala itu. Sinarnya yang memancarkan semburat jingga kekuningan, dengan pancaran sedikit merah muda, memberikan sebuah kesan pantulan yang hangat pada permukaan air. Angin pagi itu juga masih terasa sedikit dingin, menerbangkan dedaunan kecil yang terjatuh dari tangkainya, mengembuskan helaian rambut hingga mengenai mataku yang terpejam agar rambut itu tidak masuk menusuk manik hitamku. Aku perlahan menyingkirkan helaian rambut itu menuju ke belakang telinga. Melihat sebuah horizon laut yang sangat luas, melihat para nelayan juga kapal besar dari kejauhan mulai menghiasi laut yang tadinya kosong menjadi sebuah dataran dalam yang ramai. 

Kota ini memang tidak pernah tidur. Aku tinggal di sebuah kota dengan sebutan ibu kota di suatu Pulau Jawa bagian tengah. Aku masih menatap lurus ke arah laut yang tak memiliki ujung, terkadang aku merasa bosan dengan pemandangan ini. Bagaimana tidak? Sejak aku baru bernapas untuk dunia ini, hingga sekarang aku beranjak dewasa belum pernah aku meninggalkan kota ini. Jika ditanya, apakah aku terlalu cinta dengan kota ini, aku akan secara tegas mengatakan tidak, iya, tidak sama sekali. Orang tuaku yang terlalu protektif membuatku susah untuk sekedar merantau mencari tahu bagaimana suasana kota tetangga dengan kakiku sendiri. 

Saat pikiranku masih terjerumus pada gelembung kesadaran, tiba-tiba sebuah suara dari arah belakang mengusik lamunanku. Aku dengan cepat menoleh ke belakang. Alisku menukik bingung saat melihat seorang bule. Entahlah, ia tampak seperti orang luar, terjatuh dengan isi kopernya yang berserakan. Semua orang pasti memiliki sebuah perasaan bukan? Hingga dengan kesadaran penuh aku bangkit, dan membantu bule itu memasukan barangnya satu per satu. 

“Kau baik-baik saja?” tanyaku dengan menggunakan kemampuan bahasa Inggris yang aku bisa. Bule itu mengangguk cepat, setelah semua isi kopernya sudah masuk ke dalam sebagaimana mestinya. Ia pun mengeluarkan benda pipih persegi panjang dari dalam saku celananya. Aku menunggunya mengetikan sesuatu dari benda pipih itu hingga sebuah suara, seperti suara Google Translate terdengar.

“Aku baik-baik saja, terima kasih sudah membantuku. Maaf, kemampuan bahasa Indonesiaku masih buruk. Apakah tidak masalah jika aku menggunakan Google Translate seperti ini?” 

Aku sedikit tercengang saat bule itu benar-benar menggunakan suara dari Google Translate, sungguh, ini sangat lucu. Aku terkekeh sebentar lalu menggeleng, “Aku bisa menggunakan bahasa Inggris walaupun tidak begitu lancar. Namun kita bisa menggunakannya untuk berkomunikasi.”

Aku melihat sosok bermata biru itu ikut terkekeh, sepertinya ia malu dengan tingkahnya sendiri. 

“Baiklah, terima kasih. Maaf jika kau yang harus menyetarakan bahasamu denganku. Omong-omong, aku Ethan.” 

Ia mengulurkan tangannya. Aku tersenyum dan meraih tangan itu untuk kami berjabat tangan, “Aku Nisa, salam kenal, Ethan.”

Satu hal yang aku tahu setelah Ethan menceritakan sedikit tentang apa yang membawanya dari Australia ke sini adalah ia ingin mengelilingi dunia untuk terakhir kalinya. Di dalam bus kota itu, suasana sedikit lenggang karena memang hari ini adalah hari libur, hingga yang biasanya bus ramai dengan anak sekolah dan pekerja, sekarang sedikit lebih sepi. Yang membuat aku penasaran adalah, mengapa ia memilih Semarang untuk berlibur. Padahal banyak kota yang lebih memiliki tempat kreasi dari pada Semarang, yang menurutku hanya itu-itu saja. 

Ethan hanya tersenyum sambil terus memegangi kopernya agar tidak terjatuh “Entahlah, aku penasaran dengan beberapa sejarah di sini, seperti…Kota Lama? Dan terutama Lawangsewu. Aku penasaran bagaimana mereka terbentuk dan wujud asli dari tempat itu, aku terkadang hanya melihatnya di internet.” 

Aku mengangguk mendengar pernyataan itu. Aku pandangi sosok itu. Kuakui ia cukup tampan. Mata birunya yang cerah, rambut cokelat terangnya dan kulitnya yang sedikit kekuningan, serta hidung mancungnya yang menjadi poin plus, sebuah pahatan Tuhan yang menakjubkan.

“Kau pasti sudah mengunjungi banyak negara, ya, Ethan?” tanyaku.

Ethan tersenyum, dan hanya menatap lurus keluar jendela bus. “Tidak banyak. Aku mulai berkelana dua bulan yang lalu. Mungkin, sudah lima negara?”

Aku terus mendengarnya bercerita, hingga ia menyinggung tentang penyakitnya, leukimia. Ternyata dia tengah sakit, dan memiliki keinginan untuk mengunjungi beberapa negara sebelum akhirnya takdir merenggutnya secara paksa. Aku kembali tercekat dan prihatin saat ia memberitahu hidupnya mungkin tidak akan lama lagi.

“Aku… turut prihatin. Kau sosok yang kuat, Ethan. Aku yakin kau biasa bertahan.”

Ethan tertegun. Ia lebih merapatkan coat yang ia kenakan, “Terima kasih, Aku juga berharap seperti itu, dan merasakan masa tua juga meraih impianku yang belum tercapai,” tuturnya.

“Apakah keliling dunia, salah satu impian yang ingin kau wujudkan?” tanyaku, dan dibalas anggukan olehnya. 

“Iya, aku ingin melihat indahnya dunia sebelum hanya gelap yang bisa aku lihat.”

“Jika seperti itu, berarti impian pertamamu sudah terwujud!” 

Ethan mengangguk antusias. “Di Indonesia aku sudah mengunjungi beberapa kota dan daerah, dan di Semarang ini adalah tujuan terakhirku.” 

Aku mengangguk, “Aku akan mengantarmu ke sana, dan jika kau mau aku juga akan mengantarmu keliling kota ini,” ucapku, yang membuat mata Ethan berbinar. 

“Terima kasih, Nisa!” 

Kami berangkat dari Pantai Marina—tempat kami kali pertama bertemu, kami naik bus kota hingga melanjutkan ke Jalan Sudirman via Karang Ayu, dan memutar di Patung Adipura melalui Jalan Soegiopranoto, kemudian menuju Kalibanteng dan Pamularsih. Aku dapat melihat manik biru Ethan menatap jalanan yang sudah tak asing bagiku dengan mata yang berbinar. Dia sangat senang. Rute dilanjutkan ke pusat kota melewati Tugumuda, Balaikota. Di sana aku menjelaskan sedikit tentang sejarah Tugumuda.

“Jadi Tugumuda itu dibangun untuk memperingati Pertempuran Lima Hari di Semarang, Ethan. Yang waktu itu memang berjalan lima hari antara pemuda Indonesia dan pasukan Jepang.” 

Aku sedikit gemas dengan kelakuannya yang melihat tugu itu dengan antusias, “Ini mirip yang ada di Jakarta,” tuturnya. 

“Tidak, mereka berbeda, walaupun memang dibangun untuk mengenang suatu sejarah. Namun Monas, yang ada di Jakarta bersifat lebih nasional.”

Jam sekarang menunjukan pukul dua belas siang. Memang sedang sangat panas hari itu. Aku yang sedikit mengeluh akan panasnya Semarang pada siang hari, tidak membuat semangat Ethan menurun saat akhirnya kami tiba di Lawangsewu. Ia tanpa sadar menggenggam tanganku dan seperti tak berniat melepaskannya. Lagipula aku juga takut dia akan hilang atau tersesat nanti. Setelah membeli dua tiket, akhirnya kami masuk. Ethan yang kali pertama melihat monumen dan bangunan yang benar-benar tampak lama terperangah terpukau. Susunan bangunan dari jaman belanda itu dengan beberapa pilar juga pintu yang memang terbilang banyak membuatnya terus memotret beberapa spot untuk kenangan.

Agar penjelasan sejarah yang Ethan maksudkan tersampaikan dengan baik, akhirnya kami menyewa seorang pemandu wisata untuk membantu kami. Pria tinggi berambut cokelat terang itu benar-benar sangat energetik. Ia terus bertanya pada pemandu wisata itu tentang banyak hal. Ia juga masuk ke banyak ruangan yang memang diperuntukkan bagi wisatawan. “Ini pintunya memang benar ada seribu?” tanyanya sambil masih melihat-lihat beberapa monumen sejarah yang terpajang di sana. Aku terkekeh dan menggeleng “Tidak, itu hanya kiasan saja, pintu di sini tidak sampai seribu, benarkan, Pak?” 

Pemandu wisata itu mengangguk. Dan kami terus berjalan untuk melihat-lihat dan mendengar Sejarah dari pemandu wisata itu. Hingga saat kami terus berkeliling, aku merasakan Langkah Ethan melambat, aku menyamakan langkahku dan menatapnya khawatir.

 “Kau baik-baik saja, Ethan?” tanyaku, dan Ethan mengangguk tipis. 

“Iya, ayo lanjut jalan, kita ditunggu dengan pemandu wisatanya.”

Ethan menggenggam tanganku lagi, “Ayo kita berfoto, aku ingin menyimpan kenangan ini untuk waktu yang lebih lama.” Aku mengangguk, dan kami meminta tolong pemandu wisata itu memotret kami. Namun saat kami tengah berfoto, aku merasakan sebuah tetesan mengenai tanganku, saat aku meliriknya, mataku seketika membola, itu darah. Dengan cepat aku menengok ke arah Ethan, dan benar saja, darah merembes dari hidungnya. Dengan panik aku mengeluarkan sapu tangan, dan membantunya agar darah tidak keluar lebih banyak, namun wajah Ethan benar-benar pucat dan aku melihat pandangannya tidak fokus. “Tidak, Ethan, sadarlah!” Namun, tak butuh waktu lama Ethan kehilangan kesadaran saat aku membantu untuk menstabilkan pijakannya. 

Ethan dengan cepat dilarikan ke rumah sakit. Aku benar-benar panik. Apa yang harus aku lakukan? Hingga dokter mengatakan jika tubuhnya kelelahan akibat kegiatan yang minim istirahat. Dan ia harus kembali ke negaranya untuk menerima pengobatan di sana saat keadaannya sedikit membaik. 

Namun, Ethan menolak. Ia bersikeras untuk menyelesaikan mimpinya berkeliling di kota terakhir yang ia pijak. Dokter tidak dapat memaksanya, dan mempersilakan Ethan untuk melakukan apa yang ia mau dengan satu syarat, ia tidak boleh merasa terlalu lelah. Keesokan harinya, kami kembali bertemu di Pantai Marina. Wajahnya memang terlihat masih pucat, namun semangatnya untuk berkeliling terus berkobar dan senyumnya tidak pernah luntur.

Kami melanjutkan perjalanan, masih menggunakan bus kota untuk berkeliling. Kami terkadang melemparkan candaan juga mengobrol singkat tentang apa yang dapat kami bahas. Siang itu banyak kendaraan berlalu lalang, kami memilih berjalan dari halte Kota Lama menuju deretan bangunan tua yang memang jaraknya tidak begitu jauh. Ia terus menggenggam tanganku erat, agar kami tidak terpisah, katanya.

“Apakah kamu keberatan jika aku genggam tanganmu seperti ini?” tanyanya. 

Aku menggeleng, “Tidak, dari pada kau tersesat di negeri orang, dan kau akan menjadi gelandangan!” 

Ethan hanya tertawa, dan sesekali membenarkan coatnya yang tersibak oleh angin. 

Kami tiba di area deretan bangunan tua. Ia kembali takjub dengan bangunan yang sudah tua namun masih berdiri dengan kokoh. Ia terus memotret beberapa spot yang sekiranya tampak indah. Dia bahkan memborong banyak telur gulung, yang menurutku harganya cukup mahal. Namun, melihatnya makan dengan lahap seperti ini, membuatku mendengus syukur. Kami masih sibuk berkeliling, terkadang kami akan berhenti untuk istirahat sejenak saat dirasa Ethan sudah mulai kelelahan. 

“Maaf, jika aku banyak beristirahat,” keluhnya tidak enak. 

“Tak masalah, aku akan menunggumu hingga kamu merasa baik, dan kita lanjut berkeliling lagi,” jawabku, dan memberikannya air mineral yang kami beli saat berkeliling tadi. Hanya ada hening diantara kami, Ethan masih sibuk melihat sekitar dengan sesekali menyapa balik anak-anak yang lewat di depannya. Anak-anak itu tersenyum cerah, mengayunkan tangan kecil mereka untuk menyapa Ethan. 

“Kota ini cukup indah menurutku, bukan begitu?” Aku yang mendengar hal itu hanya terkekeh, “banyak yang belum kau ketahui disini, tidak semua hal di kota ini indah seperti yang kau katakan.”

Ethan hanya diam, mengangguk dan kembali melihat sekitar, “Indah bukan hanya karena memiliki monumen bersejarah dengan bangunan yang bagus saja,” ia menolehkan kepalanya menatap ke arahku, “Di sini hangat. Orang-orang yang ramah dan baik, itu sudah termasuk keindahan yang dapat aku rasakan.”

Hingga, sore itu, pada hari yang sama, keadaan Ethan sedikit memburuk, hidungnya terus mengeluarkan cairan merah kental sepanjang jalan kami pulang. Aku membantunya untuk meredakan darah yang terus keluar dengan sapu tangan. Ia terus bilang bahwa ia baik-baik saja, namun dari raut dan nafasnya ia terasa sangat buruk. Aku membawanya kembali ke rumah sakit, dan dokter berkata jika Ethan besok pagi sudah membaik, ia harus pulang ke negaranya untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

 Cahaya matahari merambat lembut di langit pagi. Hari itu, setelah memesan tiket pesawat, aku mengantarnya hingga ke bandara Ahmad Yani. Melihat wajahnya yang masih pucat aku menatapnya khawatir. 

“Apakah kau benar-benar sudah baik, Ethan? Kau bisa pulang besok jika tubuhmu masih sakit.” Dan ia masih dapat membalas dengan anggukan antusias yang masih sama seperti awal kami bertemu, padahal wajahnya benar-benar seperti menahan sakit.

“Aku baik-baik saja, terima kasih untuk dua hari ini, ya. Dua hari di sini benar-benar membuatku takjub. Terima kasih sudah menemaniku berkeliling, walaupun belum banyak yang dapat aku kunjungi di kota ini. Namun, aku bersyukur…. Dan aku harus pulang sekarang.”

Aku menghela napas, dan dengan cepat merogoh saku celanaku mengambil sebuah gantungan kunci bertuliskan I Love Semarang. Memang sedikit kuno, namun itu dapat menjadi kenang-kenangan untuknya. “Untukmu, terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Hidup lebih lama, ya?”

Ethan yang melihat itu dan mendengar kalimat yang aku lontarkan, tak dapat menahan rasa harunya. Ia menarikku dalam dekapan yang hangat, seolah ini memang perpisahan terakhir dan kita tidak akan pernah bertemu lagi. “Keinginanku sudah terwujud semua, mungkin setelah ini aku akan istirahat lebih lama….” 

Ia masih memelukku erat, dan ia berbisik, “Kota ini cukup indah…kau jangan sampai bosan dengan kota ini, ya, walaupun aku belum menjelajah terlalu jauh. Namun, aku yakin kota ini lebih indah jika kau sudah menemaninya lebih lama.”

Dan sekarang, setelah Ethan pergi, pada waktu yang sama saat aku mengajak Ethan berkeliling dengan bus kota, aku mencoba melihat keluar jendela. Walaupun aku sudah belasan tahun hidup di kota ini, terkadang aku masih mengacuhkan keindahan kota tempat aku tumbuh. Aku habiskan hari itu untuk berkeliling, melihat kota ramai ini dengan rasa syukur dan takjub. 

Ethan benar, aku memang terlalu bosan dengan kota ini. Namun, tak dipungkiri kota ini cukup nyaman dan penuh dengan kenangan. Aku berkeliling dari arah timur menuju ke barat dan berhenti di Pantai Marina, tempat kami kali pertama kali. Melihat deburan ombak dan langit jingga yang mulai memudar tergantikan dengan warna biru malam, masih terasa angin yang sama yang menghembuskan rambutku perlahan. 

“Kau benar, aku yang terus membuang muka akan keindahan kota ini. Hiduplah lebih lama, Ethan, hingga kita bertemu lagi.”(*)