Dunia Kecil Kami

Oleh Vivi Amalia Putri 

Cerita masa kecilku selalu terasa hangat setiap kali diingat. Ada rasa rindu yang datang pelan-pelan, apalagi kalau suasana sore lagi tenang. Dulu, setiap pulang sekolah SD, rasanya seperti ada dunia lain yang menunggu setelah sekolah selesai, dunia kecil yang penuh tawa bersama teman-teman. Begitu bel pulang berbunyi, aku langsung bergegas pulang. Jalan terasa lebih cepat dari biasanya karena pikiranku sudah dipenuhi rencana sore nanti. Sampai di rumah, aku tidak pernah lama-lama. Tas langsung ditaruh, ganti baju, kadang makan cepat, lalu siap keluar lagi.

Yang paling aku ingat, kami tidak pernah benar-benar janjian secara formal. Tidak ada chat, tidak ada telepon. Tapi ada satu kebiasaan yang selalu kami lakukan: kami saling menjemput. Satu orang akan mulai keluar duluan, lalu mendatangi rumah teman satu per satu. Biasanya sambil berdiri di depan rumah dan memanggil nama dengan suara cukup keras atau cuma,

“Ayo dolan!” (Ayo main!)

Kalau temannya belum siap, kami akan menunggu sebentar. Kadang duduk di teras, kadang cuma berdiri sambil ngobrol. Lalu setelah satu orang keluar, kami lanjut lagi ke rumah berikutnya. Begitu terus sampai akhirnya jumlah kami lengkap.

Aneh tapi menyenangkan, perjalanan menjemput teman itu sendiri sudah menjadi bagian dari permainan. Di sepanjang jalan, kami sudah mulai bercanda, tertawa, bahkan kadang lari-larian kecil. Rasanya seperti kebersamaan itu dimulai bahkan sebelum permainan dimulai. Biasanya, kami berkumpul di lapangan kecil atau jalan depan rumah yang sepi. Permainan pertama yang hampir selalu kami mainkan adalah petak umpet

Salah satu dari kami akan menjadi penjaga. Dia berdiri menghadap tembok atau pohon, menutup mata sambil menghitung dengan suara keras, 

“Siji… loro… telu…” (Satu… dua… tiga…) 

Sementara itu, kami yang lain langsung berlarian mencari tempat sembunyi terbaik. Ada yang sembunyi di balik pohon besar, ada yang jongkok di balik motor yang diparkir, bahkan ada yang nekat bersembunyi di belakang pintu rumah orang. Aku sendiri biasanya memilih tempat yang tidak terlalu jauh, tapi cukup tersembunyi. Saat bersembunyi, aku menahan napas, berusaha tidak bergerak sama sekali. Suara langkah penjaga yang mulai mencari membuat jantung berdegup kencang. Kadang dia lewat tepat di depan tempat persembunyianku, dan aku hanya bisa diam, berharap tidak terlihat.

Yang paling seru adalah saat harus lari kembali ke tempat penjaga. Begitu melihat kesempatan, kami langsung berlari secepat mungkin sambil teriak, 

“Mbelah!!” (menyatakan kalau sudah menang)

Tapi kadang penjaga lebih cepat dan berhasil menyentuh kami duluan. Di situlah tawa pecah antara yang selamat dan yang tertangkap.

Setelah puas berlari dan sedikit kelelahan, kami biasanya duduk sebentar, lalu lanjut ke permainan engklek. Kami menggambar kotak-kotak di tanah menggunakan kayu atau benda yang bisa digunakan untuk menggambar di tanah. Bentuknya sederhana, tapi bagi kami itu seperti arena permainan yang serius. Kami menggunakan pecahan genteng atau batu kecil yang dilempar ke salah satu kotak. Saat giliranku, aku melempar batu kecil dengan hati-hati supaya jatuh tepat di kotak yang dituju. Lalu aku mulai melompat dengan satu kaki, menghindari kotak yang ada batu kecilnya. Keseimbangan jadi hal yang penting; sedikit saja goyah, bisa langsung kalah. Kadang, saat hampir jatuh, aku mengayunkan tangan ke sana-sini untuk menjaga keseimbangan, dan itu malah membuat teman-teman tertawa. Kalau ada yang benar-benar jatuh atau kakinya menyentuh garis, kami langsung ramai-ramai protes sambil bercanda, 

“Kalah! Baleni!” (Ulang lagi)

Setelah itu, kami biasanya bermain lompat tali. Tali kami buat dari rangkaian karet gelang yang disambung panjang. Dua orang memegang ujung tali, sementara yang lain bergantian melompat. Awalnya, tali hanya setinggi lutut dan semua masih bisa melewati dengan mudah. Tapi semakin lama, tali dinaikkan setinggi pinggang, dada, bahkan sampai kepala. Di level tinggi, suasana jadi lebih menegangkan. Kami mulai berpikir strategi harus lari seberapa cepat, lompat setinggi apa, dan mendarat dengan posisi seperti apa. Saat giliranku, aku menarik napas sebentar, lalu berlari dan melompat. Kadang berhasil dengan mulus, tapi kadang juga kaki tersangkut tali dan langsung jatuh. Teman-teman langsung tertawa, tapi bukan mengejek, lebih ke seru-seruan bersama.

Yang paling santai tapi imajinatif adalah masak-masakan. Kami mencari daun-daun sebagai sayur, bunga sebagai hiasan, dan pasir sebagai nasi. Kami menyusun semuanya di atas pecahan genteng atau daun besar sebagai piring. Kami benar-benar berperan seolah-olah itu nyata. Ada yang jadi ibu, ada yang jadi tamu, bahkan ada yang pura-pura jualan. Kami saling menawarkan makanan, 

“Iki enak loh, cobonen!” (Ini enak loh, cobain deh!)

Lalu pura-pura makan dengan ekspresi berlebihan. Kadang kami tertawa sendiri karena bentuk makanannya aneh, tapi justru itu yang membuat semuanya terasa menyenangkan. Imajinasi kami seperti tidak ada batasnya. 

Waktu bermain terasa cepat sekali berlalu. Tanpa sadar, matahari mulai turun dan cahaya berubah jadi lebih hangat. Tapi keseruan belum selesai. Biasanya, ada satu ide yang selalu muncul, 

“Renang ning kali yuk!” (Renang ke sungai yuk!)

Sesampainya di sungai, permainan berubah jadi lebih bebas. Kami langsung masuk ke air, merasakan dinginnya yang menyegarkan. Kami saling ciprat-cipratan, bahkan kadang sengaja menyelam untuk menghindari cipratan teman. Ada yang mencoba berenang walaupun gerakannya masih seadanya; ada yang hanya berdiri di pinggir sambil tertawa. Kami juga sering membuat ombak kecil dengan menggerakkan air bersama-sama. Tawa kami di sungai terasa lebih lepas, lebih keras, seolah-olah semua beban hilang begitu saja. Tidak ada aturan, tidak ada batasan, hanya kesenangan.

Saat langit mulai berubah warna menjadi jingga dan suara orang tua mulai terdengar memanggil dari kejauhan, satu per satu kami pulang. Dengan tubuh yang sedikit kotor, rambut basah, dan wajah yang lelah tapi bahagia.

Masa kecil itu terasa begitu sederhana, tapi justru di situlah letak keindahannya. Tidak ada gadget, tidak ada kesibukan yang memisahkan kami, hanya kebersamaan yang tulus. Kami tertawa tanpa alasan yang rumit, bahagia dengan hal-hal kecil, dan menikmati waktu tanpa merasa terburu-buru. Sekarang, semuanya sudah berubah. Kami tumbuh, punya kesibukan masing-masing, dan jarang bertemu seperti dulu. Tapi kenangan itu tetap hidup. Setiap kali mengingatnya, ada rasa rindu yang sulit dijelaskan pada masa di mana hidup terasa ringan dan kebahagiaan datang dari hal-hal sederhana. Dan mungkin, tanpa kami sadari saat itu, momen-momen kecil itulah yang diam-diam menjadi bagian terindah dalam hidup kami.(*)