Perjuangan yang Usai Hari Itu

Oleh Egy Yolanda Pratama

Pagi itu terasa begitu tenang dengan udara sejuk yang masih menyelimuti hamparan sawah di depan rumah, lengkap dengan embun tipis yang belum menghilang. Namun, di balik ketenangan itu, hatiku justru dipenuhi rasa gugup yang tak biasa. Hari itu, tepat pada 26 April 2025, aku akan mengikuti UTBK sesi pagi yang dimulai pukul 06.00, sehingga aku harus tiba satu jam lebih awal. Aku pun bangun sekitar pukul setengah empat untuk mandi dan sarapan, mencoba menenangkan diri sebelum berangkat. Di sela persiapan, aku menelepon temanku yang juga akan mengikuti UTBK, dan kami sama-sama mengungkapkan rasa deg-degan serta nervous karena ini adalah pengalaman pertama kami. Setelah percakapan itu, aku berpamitan kepada orang tuaku, memohon doa agar diberi kelancaran dalam mengerjakan soal.

Setelah berpamitan dengan kedua orang tuaku, aku pun menaiki motor dan berdoa dalam hati agar diberi keselamatan sampai tujuan. Perjalanan pagi itu terasa begitu berbeda, seolah lebih tenang dari biasanya. Udara yang masih sangat sejuk berpadu dengan embun pagi yang belum sepenuhnya menghilang, menciptakan suasana yang damai dan menenangkan. Jalanan pun masih lengang; hanya beberapa motor yang sesekali melintas karena waktu masih menunjukkan sekitar pukul setengah lima. Aku sempat memperhatikan sekitar, membayangkan bahwa orang-orang yang lewat mungkin sedang menuju pasar atau memulai aktivitas pagi mereka. Di tengah perjalanan yang sunyi itu, aku mencoba mengatur napas dan menenangkan diri, meskipun rasa gugup sesekali kembali muncul.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya aku sampai di depan gerbang Universitas Sebelas Maret (UNS). Saat pertama kali melihat gerbang tersebut, perasaanku bercampur antara kagum dan gugup, bahkan rasa tidak percaya diri tiba-tiba muncul begitu saja. Deg-degan yang sempat mereda selama perjalanan kini kembali terasa semakin kuat. Aku melihat beberapa peserta lain yang juga baru datang, yang membuatku semakin sadar bahwa momen yang kuhadapi ini adalah sesuatu yang penting. Perlahan, aku melanjutkan perjalanan masuk ke dalam area kampus menuju Fakultas Pertanian, tempat aku akan melaksanakan UTBK. Sesampainya di sana, aku langsung menuju area parkir untuk memarkirkan motor. Sambil melepas helm, aku sempat terdiam sejenak, mencoba menenangkan diri sebelum melangkah ke tahap pengarahan.

Dengan langkah perlahan, aku berjalan menuju bagian depan gedung sambil memakan beberapa camilan untuk sedikit menetralisasi rasa berdebar yang terus muncul. Sesampainya di sana, panitia meminta kami untuk duduk dan mendengarkan arahan dari pengawas sebelum ujian dimulai. Kami juga diarahkan untuk mengecek nama masing-masing pada papan pengumuman yang berada di depan deretan kursi peserta. Saat melihat sekeliling, aku sempat terkejut karena ternyata jumlah peserta yang hadir sangat banyak, jauh lebih ramai dari yang kubayangkan. Sambil menunggu waktu masuk ke ruangan, aku mencoba memberanikan diri untuk berkenalan dengan beberapa orang yang duduk di sebelah kiri dan kananku. Ternyata, mereka juga merasakan kegelisahan yang sama karena ini adalah pengalaman penting bagi kami.

Akhirnya, setelah menunggu hampir satu jam, kami diperbolehkan untuk masuk ke ruangan ujian. Kami berjalan secara tertib mengikuti arahan petugas menuju ruangan masing-masing. Sesampainya di depan pintu ruangan, kami diminta untuk mengumpulkan berkas persyaratan yang telah disiapkan sebelumnya. Setelah itu, satu per satu peserta diperiksa menggunakan alat pemindai logam untuk memastikan tidak ada kecurangan. Proses tersebut membuat suasana semakin tegang dan serius. Ketika akhirnya aku diperbolehkan masuk ke dalam ruangan, rasa deg-degan itu semakin tak terkendali, bahkan aku mulai merasa kurang percaya diri. Petugas kemudian mengarahkan kami untuk mencari meja sesuai dengan nama dan nomor peserta masing-masing, dan aku mendapatkan tempat duduk di bagian depan, yang justru membuatku semakin merasa benar-benar gugup.

Dengan perasaan yang masih dipenuhi ketegangan, aku pun duduk di kursi yang telah ditentukan, sementara jantungku terus berdetak dengan cepat. Tak lama kemudian, petugas mulai memberikan instruksi mengenai tata cara pelaksanaan ujian. Seluruh peserta, termasuk aku, berusaha fokus mendengarkan setiap arahan yang disampaikan. Setelah semua petunjuk diberikan, kami diminta untuk mengeluarkan kartu identitas diri guna memastikan bahwa tidak ada peserta yang melakukan kecurangan seperti penggunaan joki. Proses pengecekan itu membuat suasana semakin hening. Hingga akhirnya, setelah seluruh prosedur usai, waktu untuk mengerjakan soal pun resmi dimulai.

Ketika ujian dimulai, aku segera mengisi nomor peserta pada layar komputer dengan tangan yang sedikit gemetar. Setelah berhasil masuk, bagian pertama yang muncul adalah soal Penalaran Matematika (PM). Aku sempat kaget karena sejak awal sudah dihadapkan dengan soal yang cukup rumit, seolah langsung dituntut untuk bekerja keras sejak menit pertama. Meskipun terasa cukup berat dan sempat membuatku keteteran, aku tetap berusaha mengerjakannya semampuku. Setelah menyelesaikan bagian tersebut, aku beralih ke Literasi Bahasa Indonesia (LBI). Namun, di bagian ini pun aku kembali diuji kesabaranku karena setiap soal memiliki bacaan yang sangat panjang, sehingga membuatku sedikit kewalahan dan mulai merasa tertekan.

Di dalam ruangan yang sangat hening itu, hampir tidak terdengar suara apa pun selain bunyi klik mouse dan ketikan keyboard para peserta. Suasana yang sunyi dan penuh konsentrasi tersebut sempat membuatku semakin tegang dan kaku. Namun, di tengah keheningan itu, aku samar-samar mendengar suara kentut dari salah satu peserta, meskipun tidak diketahui siapa pelakunya. Momen itu terasa sedikit lucu, sehingga aku harus menahan tawa agar tidak melanggar peraturan yang melarang peserta mengeluarkan suara sekecil apa pun. Tampaknya tidak banyak yang menyadari kejadian tersebut, atau mungkin mereka memilih untuk tetap fokus. Tanpa disadari, kejadian kecil itu justru membuatku sedikit lebih rileks

Setelah menyelesaikan seluruh soal UTBK, aku benar-benar merasakan kelelahan, terutama pada bagian punggung yang terasa sangat sakit akibat duduk selama kurang lebih dua jam tanpa banyak bergerak. Begitu diperbolehkan keluar dari ruangan, aku langsung beranjak dari kursi dan mencoba melakukan peregangan untuk mengurangi rasa tidak nyaman tersebut. Di luar ruangan, aku sempat berbincang dengan beberapa peserta lain, menanyakan bagaimana perasaan mereka setelah pertama kali mengikuti UTBK. Ternyata, jawaban mereka hampir sama denganku—dipenuhi rasa gugup, tegang, dan deg-degan sejak awal hingga akhir ujian. Hal itu membuatku merasa tidak sendirian.

Pengalaman mengikuti UTBK ini memberiku kesan pertama yang ternyata tidak semenakutkan yang selama ini kubayangkan. Meskipun pada awalnya aku merasa sangat gugup dan deg-degan, perlahan aku bisa melewatinya dengan baik. Hari itu menjadi pengalaman berharga yang tidak akan mudah kulupakan, mulai dari rasa tegang hingga momen kebersamaan setelah ujian selesai. Aku pun berharap bahwa ini akan menjadi UTBK terakhir dalam hidupku, sehingga di tahun berikutnya aku tidak perlu mengulanginya lagi. Lebih dari itu, pengalaman ini mengajarkanku bahwa rasa takut sering kali hanya ada di pikiran dan ketika dijalani, semuanya bisa terasa lebih ringan.(*)