Oleh Ayu Lestari Manurung
Koper dan tas-tas tersusun rapi menumpuk di sudut ruangan itu, menyimpan potongan hidupku yang selama bertahun-tahun menetap di kota lamaku. Kota Karawang. Sejujurnya, aku benci menyentuh koper dan kenanganku di dalamnya. Entah kenapa aku sangat membenci keheningan malam ini, mungkin karena aku menyadari bahwa esok pagi saat membuka mata, aku akan kembali ke realita bahwa aku sudah melepaskan diri dari kehidupanku di tempat yang lama.
Dinding kamar yang bisu ini seolah membisikkan kepadaku betapa seringnya dulu aku tertawa hingga lepas di rumahku. Di Karawang lah, aku belajar segalanya mulai dari nol. Dari cara mengayuh sepeda di sempit bersama teman-temanku yang entah keberadaan mereka sudah di mana saat ini, hingga cara memberanikan diri untuk menyapa orang baru. Namun, yang paling membekas adalah kehadiran seseorang yang dulu menjadi alasan di balik banyak perubahan besar dalam diriku.
Dulu, aku sama sekali tidak tertarik pada musik. Namun, melihat dirinya mahir memetik gitar dan menaklukkan senar bass itu membuatku jatuh hati pada instrumen itu. Aku belajar gitar dan bass hanya agar aku bisa mengerti dunia yang ia geluti, dan sedikit demi sedikit, sepertinya aku benar-benar jatuh hati pada musik ini.
Bukan hanya itu, karena pengaruhnya sebagai pemusik, aku pun memberanikan diri mendaftar menjadi penyanyi pelayanan di gereja. Padahal, saat itu aku tahu betul kemampuan menyanyiku masih sangat jauh dari kata bagus. Tapi di sanalah aku berdiri, hanya karena ingin berada di lingkaran yang sama dengannya, untuk mengikuti langkah yang ia ciptakan di atas mimbar.
Aku masih ingat jelas riwayat pesan online kami dulu, tentang ia sering mengirim pesan sentimental tentang bagaimana caranya untuk menghadapi orang-orang yang datang dan pergi. Ia bilang ia sedih membayangkan bahwa kami semua bakal berpisah. Bahkan, satu kalimat yang masih tersimpan rapi di ingatanku adalah saat ia bilang bahwa ia bakal “kangen, kangen, kangen banget” kepadaku.
Kalimat itu dulu menjadi peganganku. Aku merasa meskipun pada akhirnya kami akan berpisah kota, hubungan pertemanan ini akan baik-baik saja karena terlihat adanya keinginan kuat darinya untuk tetap terhubung. Sebelum meninggalkan kota itu, aku mempunyai satu pikiran yang pasti bahwa setidaknya aku punya satu orang yang akan selalu mencari kabarku di tengah hiruk-pikuk dunia kampus nanti.
Tapi realitas mengatakan hal sebaliknya. Kini setelah pintu perpisahan sudah terlewat beberapa bulan lalu, aku baru menyadari sebuah kejanggalan. Inisiatif untuk sekadar menyapa tidak pernah datang daripadanya. Jangankan bertanya kabar, sekadar memulai obrolan ringan secara online pun sepertinya menjadi hal yang mustahil untuk dia lakukan.
Sesekali aku mencoba memberanikan diri untuk mengirim pesan duluan, sekadar basa-basi dengan keyakinan bahwa aku sekiranya “masih” bisa menyelamatkan api pertemanan kami agar tidak padam. Tapi balasan yang kuterima tidak lagi sama. Tidak ada lagi semangat atau antusiasme seperti dulu. Jawabannya terasa sangat singkat, dingin, dan seperlunya saja, terasa seolah-olah aku ada bebannya yang harus diselesaikan secepatnya.
Rasanya aneh: bagaimana seseorang yang dulu takut dengan “kehilangan” kini justru bersikap seolah aku tidak pernah hadir dalam hidupnya. Kata “kangen” yang dulu ia tulis berkali-kali sekarang terasa seperti barisan teks kosong tanpa makna. Ternyata, jarak fisik belum benar-benar memisahkan kami, tapi jarak emosional sudah jauh lebih dulu membentangkan sayapnya di antara kami.
Namun, di tengah kebingungan yang sempat singgah, aku mulai mencoba melihat dari sudut pandang yang lebih dewasa. Mungkin inilah bagian dari proses kehidupan. Kami tidak lagi tumbuh di tanah yang sama, dan setiap orang mempunyai cara yang berbeda dalam menghadapi perubahan serta lingkungan baru.
Wajar jika ia berubah. Ia mungkin sudah bertemu banyak teman baru, menemukan kesibukan yang lebih menyita waktu, atau memang pada akhirnya setiap manusia memiliki fasenya masing-masing. Aku pun mulai memaklumi, karena pada dasarnya setiap orang memang mempunyai masanya sendiri; setiap masa juga akan diisi oleh orang-orang yang berbeda pula.
Kini, daripada aku memikirkan kekecewaan itu tiada hentinya. Aku memilih untuk melepaskannya sekarang. Aku berterima kasih atas musik, atas keberanian untuk melayani, dan atas pengetahuan baru tentang cara menerima perbedaan situasi pertemanan kita dahulu. Hiduplah dengan baik. Mari kita bertemu saat aku dan kamu sudah menerima versi diri kita masing-masing yang baru dengan baik.(*)