Oleh Zaka Alfarizki Ali
Ingatan saya tentang peristiwa ini cukup samar-samar, tetapi tangisan dan nestapa para penjual di pasar itu terkadang masih mengingatkan saya pada kejadian tersebut. Petang itu, selepas menjalankan salat Magrib berjamaah, aku mendengar teriakan seorang laki-laki dewasa yang sangat keras. Awalnya, aku dan keluarga di rumah tidak begitu mendengar jelas apa yang diteriakkannya. Namun, karena rasa penasaran yang tinggi, aku dan sepupuku bergegas pergi ke luar rumah.
Ternyata, teriakan itu disebabkan oleh kobaran api yang sangat besar. Rumah nenek yang aku tinggali dulu posisinya memang cukup dekat dengan pasar. Walaupun tidak bersebelahan langsung, kobaran api yang begitu dahsyat itu bisa terlihat jelas dari belakang rumah kami. Laki-laki itu berlari ke arah lokasi kejadian sambil terus berteriak, “KEBAKARAN! PASAR PAGI KEBAKARAN!”
Jujur saja, waktu itu aku lumayan takut karena baru pertama kali melihat api sebesar itu hingga langit di sekitarnya pun berubah warna menjadi merah. Tak berselang lama, para warga yang tadinya berada di dalam rumah mulai berhamburan keluar untuk melihat musibah tersebut.
Sebenarnya, aku ingin sekali melihat kejadian itu secara langsung dan meminta izin untuk pergi ke pasar saat itu juga. Namun, budhe melarang kerasku. Sejujurnya, perkataan budhe memang benar; seorang anak kecil yang pergi tanpa pengawasan ke tempat kebakaran tentu sangat membahayakan.
Namun, namanya juga anak-anak. Saat itu aku belum paham seberapa bahayanya kebakaran tersebut. Aku pun diam-diam mencari teman untuk pergi ke pasar. Aku bergegas menuju tempat biasa kami berkumpul, dan benar saja, beberapa teman akrabku sudah ada di sana. Ternyata, mereka memiliki ide yang sama.
Melihat kedatanganku, mereka langsung heboh merencanakan cara untuk melihat kebakaran dari jarak yang lebih dekat. Tanpa berpikir panjang, kami bergegas menuju pasar. Kami sengaja melewati rute rahasia yang tidak biasa dilewati, karena jika lewat jalan utama, budhe pasti akan melihatku dan rencanaku bisa gagal total.
Jalanan menuju pasar benar-benar ramai. Banyak orang berlarian; ada pedagang yang panik ingin segera menyelamatkan dagangannya, ada pula warga yang sekadar ingin menonton. Setibanya di sana, kobaran api ternyata sudah bertambah besar dan semakin ganas melahap ruko serta kios-kios kecil.
Saat itu, api sedang membakar kios-kios di bagian belakang pasar, sehingga masih ada celah untuk melihat ke dalam. Banyak orang nekat menerobos masuk melalui celah tersebut untuk menyelamatkan barang mereka. Bodohnya, aku dan teman-temanku ikut menyelinap masuk hanya karena penasaran ingin melihat-lihat. Di dalam pasar terasa sangat pengap dan bernapas pun sulit karena asap mengepul di mana-mana. Di situlah aku menyaksikan pemandangan memilukan; banyak ayam di dalam kandang yang terbakar hidup-hidup dan terus berkotek kesakitan. Karena kondisi semakin tidak kondusif, kami akhirnya memutuskan untuk segera keluar.
Di luar, aku melihat banyak pedagang berusaha menyelamatkan sisa barang yang masih bisa diambil. Namun, tak sedikit pula yang hanya bisa terdiam lesu dan menangis melihat barang dagangan mereka dilahap api. Sungguh mengenaskan. Padahal laba mereka berjualan di pasar mungkin tidak seberapa. Belum lagi nasib para karyawan yang terpaksa harus dirumahkan setelah ini, karena tempat yang awalnya digunakan untuk mencari rezeki sudah hancur lebur dilahap si jago merah.
Di tengah tragedi yang menyesakkan itu, masih saja ada hal menjijikkan yang terjadi. Saat para pedagang tertimpa nasib nahas, banyak oknum tidak bertanggung jawab justru menjarah sisa-sisa dagangan yang mungkin menjadi stok terakhir para pedagang. Aksi ini sungguh miris. Lebih ironisnya lagi, sebagian besar penjarah itu adalah anak-anak pondok pesantren. Mereka yang notabene belajar ilmu agama, malah melakukan tindakan yang sangat bertolak belakang dengan ajaran tersebut.
Malam terus berjalan dan api terus melahap pasar. Banyak mobil pemadam kebakaran telah dikerahkan, tapi takdir berkata lain. Sekitar 90% pasar itu habis terbakar, rata dengan tanah tanpa sisa sama sekali. Melihat para pedagang duduk lemas di pinggir jalan menatap puing-puing pasar, hatiku terasa sangat sedih. Terbayang di benakku, mungkin ada pedagang yang baru saja membeli stok barang baru, atau bahkan membelinya dengan uang terakhir yang mereka miliki. Sungguh nasib yang nahas.
Meski keadaan masih huru-hara dan banyak pedagang yang sibuk menumpuk sisa dagangan di pinggir jalan sambil menelepon sanak saudara untuk meminta bantuan, entah mengapa pada saat itu aku merasa suasananya tampak sunyi. Sebagai anak kecil, rasa kasihanku saat itu memang belum terlalu dalam. Namun, setelah tumbuh dewasa dan mengingat kembali kejadian itu, aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan para pedagang tersebut.
Karena malam sudah terlalu larut dan aku harus ke sekolah keesokan harinya, aku akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah. Besoknya di sekolah, kebakaran pasar itu menjadi topik pembicaraan utama. Bahkan, muncul rumor bahwa pasar tersebut sengaja dibakar demi kepentingan ekonomi. Entah rumor itu benar atau salah, aku tidak bisa langsung menyimpulkannya karena tidak ada bukti yang kuat. Rasa penasaran yang belum tuntas membuatku mengajak teman-teman kembali ke pasar sepulang sekolah untuk melihat puing-puing yang tersisa.
Siang itu cuaca sangat panas, tetapi hal itu tidak menghentikan niat kami. Setibanya di sana, suasana terasa sangat aneh. Tempat yang biasanya ramai oleh orang berbelanja dan berjualan kini hanya tersisa puing-puing berserakan. Para pedagang yang semalam tidak sempat mengamankan barangnya terlihat memunguti sisa-sisa reruntuhan, mencoba mencari apa pun yang mungkin masih bernilai jual.
Itulah pengalamanku menyaksikan sebuah pasar terbakar habis beserta seluruh isinya. Syukurlah, tidak ada korban jiwa sama sekali dalam musibah tersebut. Kejadian itu sangat membekas di pikiranku dan mungkin tidak akan pernah kulupakan sampai aku tua nanti.(*)